Skip to main content
Iklan

Lifestyle

Tenteng tas Rp3 M, kenapa Tasya Farasya tuntut nafkah hanya Rp100 di sidang cerai?

Proses percerainya dengan Ahmad Assegaf diwarnai isu kepercayaan hingga dugaan penggelapan dana.

Tenteng tas Rp3 M, kenapa Tasya Farasya tuntut nafkah hanya Rp100 di sidang cerai?

Selebgram Tasya Farasya dalam salah satu unggahannya di media sosial. (Foto: Instagram/@tasyafarasya)

25 Sep 2025 10:25AM (Diperbarui: 25 Sep 2025 10:28AM)

JAKARTA: Perceraian Tasya Farasya dengan Ahmad Assegaf menghadirkan fakta tak biasa. Di tengah proses hukum yang masih berjalan, beauty influencer ini justru hanya menuntut nafkah sebesar Rp100 kepada suaminya. Apa alasannya? 

Selebgram dan beauty influencer ini hadir di Pengadilan Agama Jakarta Selatan pada Rabu (24/9) didampingi kuasa hukumnya, Sangun Ragahdo dan Riphat Senikentara. 

Ia tampil dengan membawa tas Hermes Himalaya yang nilainya ditaksir lebih dari Rp3 miliar. 

SUDAH PISAH RUMAH

Kuasa hukum Tasya, Sangun Ragahdo, mengungkapkan bahwa kliennya dan Ahmad sudah berpisah rumah bahkan sebelum gugatan cerai resmi diajukan.

"Sehingga secara agama Bu Tasya sudah tidak sebagai istrinya, bukan suami istri mereka berdua saat ini. Bahkan sebelum gugatan diajukan, Ibu Tasya dengan mantan suaminya sudah pisah rumah. Jadi sekarang sudah tidak tinggal serumah," ujar Ragahdo, dikutip dari Detik.

Ia menambahkan, perceraian ini bukan hanya soal masalah nafkah, melainkan lebih pada hilangnya kepercayaan dalam rumah tangga.

"Kalau dari Ibu Tasya bukan soal tidak dinafkahi, tapi titik beratnya masalah kepercayaan. Ya inilah sekarang bergulir di sini, proses masih berjalan. Mohon support. Ibu Tasya juga merasakan bahwa tidak mendapatkan nafkah lahir dan batin secara layak selama ini," jelasnya.

MAKNA Rp100

Dalam gugatan, Tasya hanya meminta nafkah sebesar Rp100. Angka tersebut disebut bukan untuk nilai materi, melainkan simbolik sebagai bentuk penegasan bahwa selama pernikahan ia merasa tidak mendapatkan nafkah yang semestinya.

"Dan kami juga pada gugatan kami, kami mengajukan nafkah senilai Rp100 karena mengingat bahwa selama ini Ibu Tasya pun juga merasa tidak ada nafkah selama menikah. Sehingga lebih baik kami ajukan sebagai bentuk tanggung jawab mantan suami terhadap anak-anaknya saja senilai Rp100," kata Ragahdo.

Ia menambahkan, "Kami akan ajukan sebagai bentuk tanggung jawab mantan suami terhadap anak-anaknya saja senilai 100 rupiah. Kalau 100 rupiah ini pun juga tidak dapat dipenuhi, ya kami juga bingung bagaimana tanggung jawabnya."

Kehadiran Tasya saat sidang cerai mencuri perhatian karena tampil dengan setelan kuning yang serupa dengan kebaya pernikahannya pada 2018. Ia juga menenteng tas tas Hermes Himalaya yang nilainya disebut lebih dari Rp3 miliar, menurut laporan CNBC Indonesia. 

Ia juga terlihat memamerkan outfit dan tas tersebut melalui unggahannya di media sosial.  

PENGGELAPAN UANG

Selain gugatan cerai, pihak Tasya juga mengajukan dugaan penggelapan dana yang diduga dilakukan Ahmad, yang sebelumnya bekerja sebagai Chief Financial Officer (CFO) di perusahaan milik Tasya.

"Terkait dengan dugaan penggelapan pun sudah kami ajukan. Nanti kami pun juga sudah mempersiapkan bukti-bukti, mempersiapkan dokumen-dokumen untuk upaya hukum selanjutnya yaitu melaporkan ke pihak kepolisian," ungkap Ragahdo.

Sementara itu, hasil mediasi di pengadilan menghasilkan kesepakatan sebagian, salah satunya terkait hak asuh anak.

"Hak asuh anak ini sudah disepakati jatuh kepada klien kami, Ibu Tasya. Jadi, tidak dipermasalahkan nantinya," ujar Ragahdo.

Ragahdo menegaskan bahwa gugatan Tasya tidak menyentuh pembagian harta gono-gini, melainkan hanya fokus pada perceraian dan pengakuan hak asuh anak.

Yang semakin menyorot perhatian publik adalah kontras antara tuntutan nafkah Rp100 dan posisi pekerjaan Ahmad Assegaf. 

Ahmad disebut menjabat sebagai Vice Director di PT Hashimawira Bersaudara, perusahaan konstruksi dan properti, dengan estimasi gaji bulanan yang mencapai Rp30 juta hingga lebih dari Rp100 juta, menurut laporan Suara.com

Oleh karena itu, Tasya memilih menuntut nafkah yang nyaris tidak berarti secara nominal, namun sarat makna simbolik untuk menggambarkan kekecewaannya selama pernikahan.

Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.

Source: Others/ps

Juga layak dibaca

Iklan
Iklan