Skip to main content
Iklan

Lifestyle

Hidup cuma menanti liburan? Ini tanda kondisi mentalmu butuh perhatian

Ternyata, selalu menghitung mundur ke masa liburan yang akan datang bisa menjadi tanda kondisi mental sedang tak sehat. Mungkin sudah waktunya kita membangun rasa bahagia setiap hari.

Hidup cuma menanti liburan? Ini tanda kondisi mentalmu butuh perhatian

Selalu menanti masa liburan bisa menjadi pertanda kondisi mentalmu sedang tidak baik-baik saja. (Foto: iStock/Farknot Architect)

"Aku sudah tak sabar ingin pergi liburan." Kalau itu adalah kalimat yang terus kamu ulang hampir sepanjang tahun, bisa jadi ada sesuatu yang harus dibereskan dalam hidupmu.

"Itu mungkin menunjukkan kamu sedang menjalani hidup yang tidak seimbang, dan pandanganmu terhadap hidup berakar dari ketidakpuasan atau stres, sehingga terasa kurang bermakna dan tanpa tujuan," ujar Loo Wee Shyon, psikolog klinis senior di National University Polyclinics Singapura.

Namun, apakah salah kalau kita ingin kabur sebentar dari rasa letih kehidupan sehari-hari? Bukankah semua orang butuh melepas rasa stres dari yang membebani sekali-sekali, 'kan?

Memang benar "kebanyakan dari kita menjalani hari dengan kondisi nyaris kosong, berusaha memenuhi tuntutan pekerjaan, ekspektasi keluarga dan tekanan sosial," kata John Shepherd Lim, chief wellbeing officer di Singapore Counselling Centre.

"Ketika akhirnya kita mengambil jeda, kita memberi diri kita izin untuk berhenti, mematikan kebisingan dan sekadar menjadi diri sendiri," lanjut Lim.

"Di momen ini, hormon stres menurun, sistem saraf kembali tenang dan kita mengingat kembali siapa diri kita di luar semua peran yang kita jalani," kata Lim.

Ada manfaat lain juga. "Lingkungan baru dan hal yang berbeda saat traveling bisa memperkuat suasana hati," ujar Loo.

"Melakukan aktivitas santai, menjalani kegiatan baru dan terhubung secara sosial selama liburan dapat meningkatkan rasa positif. Waktu istirahat dari pekerjaan memberi kesempatan untuk refleksi, mengevaluasi kembali prioritas dan mengembangkan mekanisme coping yang lebih sehat untuk menghadapi stres di masa depan."
 

Rasa bahagia seharusnya hadir dalam keseharian, bukan hanya saat kamu akan berlibur saja. (Foto: iStock/oatawa)

INGIN TERUS LIBURAN = TAK SEHAT?

Namun, kapan liburan menjadi keinginan yang tidak sehat?

""Kalau kamu mulai menghitung mundur ke liburan berikutnya hanya agar bisa ‘bertahan’ melewati bulan-bulan di antaranya, itu bisa disebut sebagai Dread Cycle," ujar Lim.

"Artinya, kamu selalu berpikir bahwa kehidupan sehari-harimu tak bisa diterima, dan bahwa kamu hanya bisa bahagia saat liburan nanti,  bukan sekarang," tambahnya.

"Liburan bukan lagi menjadi waktu pemulihan, tapi sudah berubah menjadi bentuk penghindaran emosional," tuturnya.

Lim mengingatkan bahwa ini adalah "sinyal bahwa ada sesuatu dalam kehidupan sehari-hari yang tidak selaras dengan ekspektasimu".

"Semakin besar dan megah bentuk pelariannya, semakin menandakan kamu tidak menyukai rutinitasmu. Dan ketika kamu pulang, semua stres dan ketidakpuasan yang coba kamu hindari akan kembali menerjang."

Kamu mungkin sedang menghadapi stres, kelelahan atau beban berlebih yang tidak tertangani dengan baik, ujar Loo.

"Pola ini bisa menunjukkan ketidakseimbangan yang tidak sehat, ketika tuntutan hidup dan pekerjaan menghabiskan sebagian besar energi mental dan emosionalmu."

Dari sisi kesehatan mental, obsesi tidak sehat untuk kabur lewat liburan bisa memicu kecemasan, depresi dan burnout, kata Loo.

Ia pernah menangani individu dengan gejala stres kronis seperti sakit kepala atau diare, gejala kognitif seperti mudah tersinggung dan sulit fokus, serta burnout di tempat kerja seperti kelelahan berkepanjangan dan perubahan perilaku, seperti prokrastinasi, atau kerap menunda-nunda pekerjaan. 

Seorang karyawan yang bekerja hingga larut malam di kantor. (Foto: iStock/pixdeluxe)

LIBURAN BUKAN PEREDA STRESS

Untuk menjaga kondisi mentalmu dalam keseharian, kamu bisa menyisihkan waktu untuk melakukan aktivitas yang menyenangkan, baik setiap hari atau setidaknya setiap pekan.

"Liburan seharusnya dilihat sebagai bonus atau hadiah, bukan pengganti yang wajib untuk kompensasi atau pereda stres," ujar Loo.

Sementara, Lim sepakat bahwa solusinya adalah "membuat hidupmu menjadi sesuatu yang tak harus kamu hindari".

"Ini bisa dilakukan dengan mengajarkan pikiran kita bahwa kebahagiaan tidak hanya muncul ketika kamu sedang berada di bandara menunggu pesawat, tetapi juga di momen-momen sederhana di keseharian," ujarnya. 

Misalnya, jika hal yang kamu cari dari liburan adalah ketenangan, koneksi dan petualangan, kamu bisa menyediakan waktu setiap malam untuk menjauh dari ponsel dan laptop, lalu menghabiskan waktu menjelajahi tempat makan baru bersama orang yang kamu sayangi, saran Lim.

Kedua, kamu bisa memperkuat batasanmu. "Mulailah dengan menyediakan waktu khusus di akhir pekan untuk mematikan notifikasi dan menghindari mengecek email pekerjaan," kata Lim.

"Ketika kamu selalu siaga dan bisa dihubungi kapan saja, pikiranmu stuck dalam mode bekerja dan kondisi yang selalu siaga konstan itu bisa sangat melelahkan, bahkan ketika kamu sebenarnya sedang tidak bekerja."

Ilustrasi anak muda berwisata/traveling bersama teman-teman. (Foto: iStock/Dedy Andrianto)

JANGAN IRI MELIHAT ORANG LIBURAN

"Merasa tertarik melihat teman atau keluarga membagikan momen hidup yang santai dan bebas di luar negeri itu wajar," kata Loo. "Postingan mereka bisa menginspirasi dan memunculkan keinginan untuk merasakan sesuatu yang serupa."

Tapi ingat, media sosial hanya menunjukkan momen terbaik. "Tidak apa-apa merasa terinspirasi oleh pengalaman mereka, tetapi sadari bahwa postingan media sosial biasanya adalah cuplikan terkurasi, bukan keseluruhan cerita," ujar Loo.

"Apa yang cocok untuk satu orang mungkin tidak sesuai dengan situasi, waktu atau kebutuhan orang lain. Penting untuk melihat gambaran seperti itu secara kritis dan penuh kesadaran diri."

Dan jika kamu sedang scroll feed para travel influencer sambil berpikir, "enak sekali hidup mereka?" atau "mengapa aku tak bisa liburan seperti mereka?", ingat pepatah "rumput tetangga" memang selalu terlihat lebih hijau.

"Media sosial sering menampilkan highlight reel, bukan keseluruhan hidup seseorang," ingat Lim.

"Ketika kamu melihat orang lain tengah menikmati pemandangan indah di luar negeri, itu bisa memperkuat ilusi bahwa kebahagiaan ada di tempat lain. Namun, penting untuk diingat bahwa di media sosial, apa yang kamu lihat mungkin hanya 10 persen dari hidup seseorang."

Staycation dengan cara berkemah bersama keluarga di halaman rumah bisa menjadi salah satu alternatif jika tak bisa liburan panjang. (Foto: iStock/CG Tan)

BAGAIMANA JIKA TAK BISA LIBURAN?

Jangan meremehkan staycation. "Meskipun tidak bisa sepenuhnya menggantikan pengalaman baru dan budaya baru dari perjalanan internasional, staycation tetap memberi jeda dari pekerjaan dan stres sehari-hari, memungkinkan tubuh dan pikiran beristirahat serta kembali bertenaga," ujar Loo.

"Staycation juga menghindarkanmu dari drama mengantri di bandara, penerbangan panjang dan jet lag. Kamu bisa menyesuaikan staycation sesuai preferensi pribadi, dengan tujuan yang sama yaitu beristirahat, bersenang-senang dan terlepas dari rutinitas pekerjaan maupun harian," tambahnya.

Lim menegaskan, liburan bukan hanya "tentang ke mana kamu pergi atau berapa lama, tetapi bagaimana perasaanmu saat berada di sana. Pemulihan datang dari kemampuan kita untuk beristirahat sepenuhnya saat berlibur, bukan dari tiket pesawat".

Ia menambahkan bahwa "serangkaian libur singkat seperti long weekend di mana kamu benar-benar log off jauh lebih efektif mencegah burnout dibanding satu liburan besar setahun sekali".

"Bukan soal durasi atau destinasi. Manfaatnya terletak pada keberanian memberi diri sendiri izin untuk beristirahat."

"Kalau kamu benar-benar bisa unplug, bahkan hanya beberapa hari, tubuh dan pikiranmu akan merespons dengan cara yang sama seperti ketika kamu menjalani liburan panjang," pungkasnya. 

Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.

Source: CNA/ps/da

Juga layak dibaca

Iklan
Iklan