Skip to main content
Iklan

Lifestyle

Kenapa 2 Oktober dirayakan sebagai Hari Batik Nasional?

Tak hanya sekadar indah, Batik menyimpan kisah identitas bangsa dengan berbagai motif yang sarat makna, bahkan termasuk simbol keberanian dan perlawanan.

Kenapa 2 Oktober dirayakan sebagai Hari Batik Nasional?

Hari Batik Nasional pada 2 Oktober 2025 mengusung tema "Batik Merawit". (Foto: iStock/Dedy Andrianto)

02 Oct 2025 12:26PM (Diperbarui: 02 Oct 2025 02:01PM)

JAKARTA: Hari Batik Nasional bukan sekadar tradisi mengenakan kain bermotif indah. Ada perjalanan panjang di balik penetapan 2 Oktober sebagai hari istimewa bagi warisan budaya Indonesia ini.

Batik memiliki akar sejarah panjang sejak masa Kerajaan Majapahit dan Mataram. Awalnya, batik dipakai khusus oleh kalangan keraton, terutama keluarga raja dan bangsawan. 

Motif batik pun tidak hanya sekadar ornamen. Ia sarat filosofi, mencerminkan nilai spiritualitas, hubungan dengan alam, identitas setiap daerah, hingga perlawanan.

Batik Yogyakarta dan Solo dikenal dengan pola klasik bernuansa sakral, Pekalongan menampilkan warna lebih ekspresif, sedangkan Papua terinspirasi dari kekayaan alam dan budaya setempat.

Seiring perkembangan, batik meluas ke kalangan masyarakat umum, hingga kini menjadi bagian dari industri kreatif global.

Proses pembuatan Batik pun mulai bervariasi, dari menggunakan pewarna alami seperti soga, mengkudu, hingga tanah, dengan teknik tulis, cap, maupun printing.

Dari panggung keraton, batik berhasil menembus runway mode dunia di Milan hingga New York, mengangkat citra Indonesia di mata internasional.

Hari Batik Nasional diperingati setiap tanggal 2 Oktober. (Foto: Instagram/@museumtekstiljkt)

PENETAPAN HARI BATIK NASIONAL

Tonggak penting dalam perjalanan batik terjadi pada 2 Oktober 2009, ketika UNESCO secara resmi mengakui batik Indonesia sebagai Warisan Budaya Takbenda Kemanusiaan (Representative List of the Intangible Cultural Heritage of Humanity). Keputusan ini diambil dalam sidang keempat Komite Antar-Pemerintah di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab.

Batik ditetapkan berdampingan dengan budaya Indonesia lain seperti wayang, keris, noken, dan tari saman. Sebelumnya, batik diajukan melalui UNESCO pada 4 September 2008 di Jakarta, kemudian diterima secara resmi pada 9 Januari 2009 sebelum akhirnya disahkan pada Oktober di tahun yang sama.

Pengakuan internasional ini memicu lahirnya Keputusan Presiden Nomor 33 Tahun 2009 yang ditandatangani Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Lewat Keppres tersebut, 2 Oktober resmi ditetapkan sebagai Hari Batik Nasional. Bahkan, Kementerian Dalam Negeri mengeluarkan surat edaran agar seluruh aparatur pemerintah, baik di pusat maupun daerah, mengenakan batik setiap peringatan ini.

Masyarakat bisa ikut serta dalam perayaan Hari Batik Nasional yang dirayakan tiap 2 Oktober. (Foto: iStock/Rifka Hayati)

LEBIH DARI SEKADAR KAIN

Peringatan Hari Batik Nasional setiap 2 Oktober menjadi simbol rasa bangga sekaligus pengingat akan tanggung jawab melestarikan warisan budaya.

Pada 2025, tema yang diusung adalah "Batik Merawit" dengan ikon Batik Tulis Merawit Cirebon. Jenis batik ini memiliki ciri khas pola halus dengan ornamen detail berupa garis tipis serta latar berwarna terang.

Perayaan tahun ini berlangsung mulai 2 Oktober hingga 30 November 2025, bekerja sama dengan Museum Tekstil. Kegiatan yang dihadirkan tidak hanya sekadar mengenakan batik, tetapi juga edukasi, pameran, hingga aktivitas kreatif yang melibatkan masyarakat luas.

Berbagai ide tema menarik pun bisa dijadikan inspirasi, seperti "Batik sebagai Warisan Budaya Indonesia", yang menegaskan bahwa batik adalah simbol kebanggaan bangsa, atau "Heritage on the Move" yang menyoroti peran sosial dan ekonomi batik dalam kehidupan sehari-hari.

 

Masyarakat bisa ikut serta dalam perayaan Hari Batik Nasional dengan berbagai cara. Cara paling sederhana adalah mengenakan batik pada 2 Oktober, tidak hanya di kantor pemerintahan tetapi juga dalam aktivitas sehari-hari.

Selain itu, membeli batik karya pengrajin lokal atau mengoleksi batik menjadi wujud dukungan terhadap keberlangsungan industri batik. Kita bisa juga mencoba membuat batik sendiri, baik dengan teknik tulis maupun cap, yang bisa dilakukan bersama teman atau keluarga.

Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.

Source: Others/ps

Juga layak dibaca

Iklan
Iklan