Kenali gejala super flu, apa bedanya dengan flu biasa serta COVID-19?
Bukan virus baru, tetapi mutasi influenza musiman yang lebih mudah menular dan membuat tubuh terasa bagaikan tumbang sejak awal.
Seorang perempuan mengenakan masker di London, Inggris, 11 Desember 2025. (Foto: REUTERS/Hannah McKay)
Istilah “super flu” belakangan ini ramai digunakan di masyarakat, baik di dalam maupun luar negeri, untuk menggambarkan flu dengan gejala yang terasa lebih berat dari biasanya, meski istilah tersebut bukan nama resmi dalam dunia medis.
Seorang dokter asal Inggris, Nisa Aslam, menjelaskan bahwa gejala flu super pada umumnya serupa dengan flu biasa, yakni:
- demam
- batuk
- sakit tenggorokan
- nyeri otot
- kelelahan
- terkadang gangguan pencernaan
Dikutip dari The Telegraph, dr Nisa menyebut sejumlah “tanda bahaya” yang perlu diwaspadai, antara lain kesulitan bernapas, nyeri dada, kebingungan, demam tinggi yang menetap, dehidrasi berat, atau kondisi yang tiba-tiba memburuk.
Kelompok yang paling berisiko mengalami komplikasi adalah lansia, anak kecil, ibu hamil, serta mereka yang daya tahan tubuhnya lemah.
Selain itu, tidak terdapat indikasi jelas bahwa flu tahun ini akan membuat penderitanya sakit lebih lama dibandingkan flu musiman sebelumnya.
“Flu bersifat bervariasi — sebagian orang merasa sangat tidak enak badan selama beberapa hari, sementara yang lain hingga beberapa minggu — tetapi tidak ada yang menunjukkan bahwa varian ini memperpanjang durasi gejala,” ujar Ed Hutchinson, profesor virologi molekular dan selular di Pusat Riset Virus Glasgow, seperti dikutip The Telegraph.
MUTASI VIRUS SUPER FLU
Super flu bersumber dari virus Influenza A (H3N2) berjenis subclade K, yakni salah satu varian dari virus influenza musiman yang telah lama beredar.
Artinya, subclade K bukanlah virus baru, melainkan hasil mutasi genetik dari influenza A (H3N2) yang membuat virus tersebut lebih mudah menyebar di masyarakat.
Menurut Kepala Unit Departemen Manajemen Ancaman Epidemi dan Pandemi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), dr Wenqing Zhang, varian subclade K ini pertama kali terdeteksi pada Agustus 2025 di Australia dan Selandia Baru, sebagaimana dilansir Tirto.
“Subclade K sendiri pertama kali diidentifikasi oleh Centers for Disease Control and Prevention (CDC) Amerika Serikat pada Agustus 2025 dan hingga kini telah dilaporkan di lebih dari 80 negara,” ujar Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI dalam rilis tertanggal 31 Desember.
Dalam rilis yang sama, Direktur Penyakit Menular Kemenkes, dr Prima Yosephine, mengatakan bahwa berdasarkan penilaian WHO dan data epidemiologi yang tersedia, influenza A (H3N2) subclade K tidak menunjukkan peningkatan tingkat keparahan.
Ia menambahkan bahwa gejala yang muncul umumnya serupa dengan flu musiman.
Hingga Desember 2025, Kemenkes mencatat terdapat 62 kasus super flu di Indonesia, dengan mayoritas kasus ditemukan pada kelompok perempuan dan anak-anak.
Super flu juga berbeda dengan COVID-19, yang disebabkan oleh infeksi coronavirus—kelompok virus yang berbeda dari influenza dan merupakan varian mutasi dari virus Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS). Meski terdapat kemiripan gejala seperti batuk, bersin, kelelahan, dan demam, kedua penyakit tersebut berasal dari dua famili virus yang berbeda.
PENCEGAHAN SUPER FLU
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menegaskan super flu tidak lebih mematikan dibandingkan influenza biasa, COVID-19, maupun tuberkulosis atau dibandingkan penyakit pernapasan lain yang telah lama ada.
Dengan demikian, langkah-langkah pencegahan super flu pada prinsipnya sama dengan pencegahan penyakit pernapasan menular lainnya, yakni dengan menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, serta vaksinasi.
Sejumlah langkah pencegahan yang dapat dilakukan masyarakat yang dianjurkan Kemenkes RI antara lain:
- Menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS)
- Menjaga daya tahan tubuh
- Melakukan vaksinasi influenza tahunan, terutama bagi lansia, ibu hamil, dan penderita penyakit penyerta
- Tetap berada di rumah saat mengalami gejala flu
- Menggunakan masker
- Menutup mulut dan hidung saat batuk atau bersin
- Periksakan diri ke pelayanan kesehatan apabila gejala tidak membaik dalam lebih dari tiga hari
Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.