Kena penyakit ginjal? Waspadai ciri-ciri urine ini sebelum terlambat
Sering buang air kecil pada malam hari juga merupakan sinyal lampu kuning.
Ilustrasi ginjal (iStock)
JAKARTA: Penyakit ginjal adalah kondisi serius ketika fungsi organ ginjal mulai menurun dan tidak berjalan normal. Jika tidak ditangani, kondisi ini bisa berkembang menjadi gagal ginjal, yaitu ketika ginjal berhenti berfungsi total.
Mengenali gejala sejak dini menjadi kunci penting untuk mencegah kerusakan permanen. Salah satu sinyal awal yang bisa dikenali adalah perubahan pada urine.
URINE BERBUSA DAN KEMERAHAN, APA ARTINYA?
Menurut Dr. Patrick Cunningham, dokter spesialis ginjal dari University of Chicago Medicine, perubahan tekstur dan warna urine bisa jadi tanda awal kerusakan ginjal.
Salah satu indikasi paling umum adalah urine berbusa, yang biasanya disebabkan oleh kelebihan protein dalam urine.
“Sedikit busa itu normal, tetapi jika busanya seperti bir—tebal dan banyak—itu bisa menjadi tanda bahwa urine mengandung terlalu banyak protein,” jelas Cunningham.
Selain itu, warna urine yang merah muda atau kemerahan juga perlu diwaspadai.
“Warna kemerahan bisa menunjukkan adanya gangguan ginjal atau kondisi lain pada saluran kemih, termasuk kandung kemih,” tambahnya.
SERING BUANG AIR KECIL DI MALAM HARI JUGA TANDA BAHAYA
Dalam laporan terpisah kepada Hindustan Times, Dr. Sonusing Patil, dokter transplantasi dan konsultan nefrologi di NephroPlus, menambahkan bahwa perubahan pola buang air kecil juga menjadi tanda awal yang jelas.
Salah satunya adalah kondisi yang dikenal sebagai nokturia, yaitu sering buang air kecil di malam hari.
“Itu bisa menandakan awal disfungsi ginjal, terutama jika terjadi secara tiba-tiba dan tidak disebabkan oleh konsumsi cairan berlebih,” ujarnya.
Selain perubahan urine, beberapa gejala lain penyakit ginjal yang perlu diwaspadai antara lain:
- Kelelahan dan tubuh terasa lemah
- Pembengkakan pada pergelangan kaki dan telapak kaki
- Kulit terasa gatal dan kering
- Bengkak di sekitar mata
- Kram otot, terutama di malam hari
Dr. Patil menekankan pentingnya pemeriksaan rutin, terutama bagi mereka yang memiliki risiko tinggi seperti penderita diabetes, hipertensi, atau riwayat keluarga penyakit ginjal.
“Pemantauan tahunan melalui tes eGFR (estimasi laju filtrasi glomerulus) dan UACR (rasio albumin-kreatinin urin) sangat disarankan untuk deteksi dini,” tegasnya.
Dengan penanganan yang tepat waktu, perkembangan penyakit ginjal dapat dikendalikan, bahkan dicegah agar tidak memasuki tahap kronis atau gagal ginjal.
Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.