Obat diet viral GLP-1 untuk terapi obesitas? Ini kata Kemenkes
Praktis menunda lapar tapi tak lepas dari efek samping, obat GLP-1 kini dikaji Kemenkes untuk terapi obesitas, termasuk peluang masuk tanggungan BPJS Kesehatan.
Ilustrasi penggunaan Ozempic untuk diet. (Foto: iStock/Munro)
JAKARTA: Kementerian Kesehatan (Kemenkes) tengah mengkaji penggunaan sekaligus skema pembiayaan terapi Glucagon-Like Peptide-1 (GLP-1) untuk penanganan obesitas di Indonesia. Kajian ini dilakukan menyusul terbitnya pedoman resmi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) terkait pemanfaatan terapi tersebut.
Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kemenkes, Siti Nadia Tarmizi, menjelaskan bahwa berdasarkan hasil Cek Kesehatan Gratis (CKG), obesitas kini masuk dalam lima besar masalah kesehatan yang paling banyak ditemukan, terutama pada kelompok usia dewasa hingga lanjut usia.
Seiring temuan itu, pemerintah juga sedang memperbarui Pedoman Nasional Praktek Klinis (PNPK) untuk obesitas, termasuk pengaturan terkait pengobatan.
"Termasuk tata laksana pengobatan, karena selama ini penggunaan obat pada mereka yang obesitas dengan gejala penyakit lain, yang seperti sudah ada gangguan jantung, sulit mobilisasi," kata Nadia, dikutip dari Antara.
Terkait kemungkinan terapi GLP-1 masuk dalam layanan yang ditanggung BPJS Kesehatan, Nadia menegaskan hal itu masih harus melalui tahapan Asesmen Teknologi Kesehatan atau Health Technology Assessment (HTA). Pemerintah juga perlu memastikan ketersediaan obat tersebut di dalam negeri.
Selain itu, Kemenkes juga akan melibatkan para ahli untuk memperoleh masukan terkait penggunaan obat-obatan bagi pasien obesitas.
GLP-1 sendiri merupakan hormon yang berperan dalam mengontrol metabolisme tubuh. Sementara itu, GLP-1 Receptor Agonist adalah kelompok obat yang selama ini digunakan untuk membantu menurunkan kadar gula darah, menurunkan berat badan, mengurangi risiko komplikasi jantung dan ginjal, serta menekan risiko kematian dini pada pasien diabetes tipe 2.
EFEK SAMPING
Di luar negeri, obat yang mengandung semaglutide (GLP-1 reseptor agonis), dikenal dengan merek Ozempic. Saat ini, Ozempic sendiri masih bersifat off-label di Indonesia.
"Kalau di Indonesia memang masih belum secara resmi ditunjuk sebagai obat untuk obesitas atau diet," ujar dokter spesialis penyakit dalam di RSUP Persahabatan, dr. Andi Alfian, Sp.PD., kepada CNA Indonesia.
Ia menambahkan bahwa di beberapa negara lain, obat ini sudah sering digunakan untuk pasien obesitas meskipun mereka tidak memiliki diabetes.
Ozempic memang memiliki efek menekan nafsu makan, sehingga pasien merasa lebih cepat kenyang. Kepraktisan obat ini juga menjadi daya tarik tersendiri karena cukup digunakan sekali seminggu, berbeda dengan obat lain yang harus dikonsumsi setiap hari.
Namun, penggunaan obat GLP-1 tidak lepas dari sederet risiko efek samping. Menurut dr. Andi, efek samping yang paling umum adalah masalah pada saluran pencernaan, seperti mual dan muntah hebat.
"Dalam beberapa kasus, bisa menyebabkan pankreatitis atau peradangan pankreas, yang merupakan efek samping saluran cerna paling berat," jelasnya.
Selain itu, pasien dengan nodul (benjolan) tiroid harus lebih waspada.
"Kalau ada benjolan di tiroid, harus dipastikan dulu apakah jinak atau ganas. Jika ganas, Ozempic tidak boleh diberikan karena dapat memicu pertumbuhan kanker," tegas dr. Andi.
Selain itu, ketika ingin berhenti menggunakan Ozempic, pasien harus berhati-hati karena dapat memicu efek rebound, seperti kenaikan berat badan yang signifikan.
REKOMENDASI WHO
WHO telah secara resmi merilis pedoman pertama mengenai penggunaan obat berbasis GLP-1 untuk terapi obesitas. Pedoman ini disusun sebagai respons atas meningkatnya permintaan dari negara-negara yang dihadapkan pada masalah obesitas.
Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, menyatakan bahwa pedoman tersebut menekankan pentingnya akses terhadap terapi GLP-1, sekaligus kesiapan sistem kesehatan dalam memfasilitasi jenis pengobatan ini.
"Obesitas berdampak pada orang-orang di tiap negara, dan diasosiasikan dengan 3,7 juta kematian di seluruh dunia pada 2024. Tanpa tindakan yang tegas, jumlah orang dengan obesitas diproyeksikan bakal meningkat dua kali lipat pada 2030," katanya, dikutip dari Kompas.
Tedros menjelaskan bahwa obesitas menjadi pemicu berbagai penyakit tidak menular, mulai dari penyakit kardiovaskular, diabetes tipe 2, kanker, hingga memperparah penyakit infeksi. Karena itu, menurut dia, obesitas harus dipahami sebagai penyakit kronis yang memerlukan penanganan jangka panjang, komprehensif, dan berkelanjutan.
"Obesitas merupakan tantangan kesehatan global utama. WHO pun berkomitmen mendukung negara-negara dan masyarakat di seluruh dunia mengatasi obesitas secara efektif dan adil," ujarnya.
Ia juga menegaskan bahwa terapi berbasis obat saja tidak cukup untuk mengatasi krisis obesitas global.
"Meskipun obat saja tidak akan menyelesaikan krisis kesehatan global ini, terapi-terapi GLP1 bisa membantu jutaan orang mengatasi obesitas dan mengurangi bahaya-bahaya terkait," katanya.
Dalam pedoman tersebut, WHO mengeluarkan dua rekomendasi utama yang bersifat kondisional. Pertama, terapi GLP-1 dapat digunakan untuk pengobatan obesitas jangka panjang pada orang dewasa, kecuali ibu hamil. Namun, rekomendasi ini tetap bersifat kondisional karena masih terbatasnya data mengenai efektivitas dan keamanan jangka panjang, tingginya biaya, serta kesiapan sistem kesehatan yang belum merata.
Kedua, WHO menekankan bahwa pasien yang menggunakan terapi GLP-1 tetap harus menjalani intervensi perubahan gaya hidup secara intensif, seperti mengatur pola makan sehat dan meningkatkan aktivitas fisik.
"Obesitas bukan masalah individual semata, tapi juga tantangan masyarakat yang butuh aksi multisektor," katanya.
Berdasarkan laporan WHO, obesitas saat ini telah memengaruhi lebih dari satu miliar orang di seluruh dunia. Pada 2024, diperkirakan 3,7 juta kematian berkaitan dengan kondisi ini. Jika tidak ada intervensi yang kuat dan berkelanjutan, jumlah penderita obesitas diprediksi terus meningkat hingga dua kali lipat pada 2030.
Selain dampak kesehatan, obesitas juga menimbulkan beban ekonomi yang besar. Biaya terkait obesitas secara global bahkan diperkirakan dapat mencapai 3 triliun dolar AS pada 2030.
Menanggapi pedoman WHO tersebut, Kemenkes memastikan bahwa seluruh aspek akan menjadi bahan pertimbangan dalam kajian penggunaan terapi GLP-1 di Indonesia, mulai dari efektivitas, keamanan, hingga kesiapan sistem pembiayaan kesehatan nasional.
Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.