Skip to main content
Iklan

Lifestyle

Yale University buka kelas khusus studi Beyonce

Beyonce dianggap layak menjadi subjek mata kuliah karena dinilai sebagai musisi perempuan kulit berwarna paling berpengaruh dalam sejarah musik dunia.

Yale University buka kelas khusus studi Beyonce

Beyonce ketika menghadiri kampanye untuk calon presiden dari Partai Demokrat untuk Pilpres AS 2024, Kamala Harris, di Houston, Texas, AS, pada 25 Oktober, 2024. (Foto: REUTERS/Kevin Lamarque)

12 Nov 2024 04:13PM (Diperbarui: 12 Nov 2024 04:17PM)

Salah satu universitas Ivy League, Yale University, akan membuka mata kuliah khusus untuk membahas sosok superstar pop, Beyonce

Beyonce dinilai layak menjadi subjek kelas karena membawa dianggap sebagai musisi perempuan kulit berwarna paling berpengaruh dalam sejarah musik dunia

Bagaimana tidak, Beyonce kini sudah mengantongi 99 nominasi Grammy Awards, ajang penghargaan musik paling bergengsi. Ini saja sudah merupakan sejarah tersendiri. 

PENCETAK SEJARAH

Mata kuliah yang akan dibuka di Yale bertajuk "Beyonce Makes History: Black Radical Tradition, Culture, Theory & Politics Through Music" 

Mata kuliah yang memiliki bobot 1 SKS ini berfokus pada karier bermusik Beyonce pada periode sejak album self-titled-nya pada 2013 hingga album Cowboy Carter yang dirilis tahun ini. 

Kursus ini akan mengeksplorasi bagaimana penyanyi, penulis lagu, dan pengusaha terkenal ini dapat membangkitkan kesadaran serta partisipasi dalam ideologi sosial dan politik.

Profesor Studi Afrika-Amerika dari Universitas Yale, Daphne Brooks, berencana menggunakan berbagai rekaman penampilan Beyonce sebagai bahan ajar untuk para mahasiswa. 

Beyonce menjadi pembuka untuk kajian lebih mendalam terkait tokoh intelektual kulit hitam, mulai dari Frederick Douglass hingga Toni Morrison.

"Kami akan serius mempelajari bagaimana karya kritis dan intelektual dari beberapa pemikir besar budaya Amerika selaras dengan musik Beyonce," ujar Brooks, dikutip dari The Guardian. 

"Kami juga akan memikirkan bagaimana filosofi mereka dapat diterapkan pada karyanya," tuturnya. 

Beyonce menerima penghargaan Innovator award pada ajang the iHeartRadio Music Awards yang digelar di Dolby Theatre in Los Angeles, California, AS, April 1, 2024. (Foto: REUTERS/Mario Anzuoni)

Brooks juga menyoroti bahwa terkadang karya Beyonce pun menantang "tradisi intelektual radikal kulit hitam".

Brooks melihat Beyonce sebagai sosok yang unik dan memuji istri musisi Jay Z ini karena menggunakan pengaruhnya dengan baik. 

Beyonce dianggap mampu "meningkatkan kesadaran serta mendorong keterlibatan terhadap ideologi sosial dan politik akar rumput" dalam musiknya. 

Salah satu pengaruh besar Beyonce adalah terhadap gerakan Black Lives Matter dan komentarnya tentang feminisme kulit hitam.

"Ada tidak, musisi pop lain yang mengundang aktivis akar rumput untuk berpartisipasi dalam proyek album yang dia rilis sejak 2013?" tanya Brooks. 

Brooks juga mencatat bagaimana Beyonce berusaha menceritakan kisah tentang "ras, gender, dan seksualitas dalam konteks sejarah penindasan Afrika-Amerika selama lebih dari 400 tahun."

"Dia adalah seniman yang sangat menarik karena ambil bagian dalam memori sejarah, semuanya terlihat sangat nyata dalam karyanya," ungkap Brooks. 

"Dan kamu tidak akan melihat hal serupa pada artis lain," ujarnya. 

KELAS DIBATASI

Brooks sebelumnya mengajar kelas yang sangat populer tentang perempuan kulit hitam dalam budaya musik pop di Universitas Princeton. 

Namun, di kelas itu, ia mendapati bahwa mahasiswa paling antusias ketika membahas Beyonce. 

Dia berharap kelasnya di Yale ini juga akan sangat diminati. 

Namun, ia berencana untuk membatasi jumlah mahasiswa yang bisa ikut.

Bagi yang beruntung mendapatkan tempat di kelas ini, mereka sebaiknya tidak berharap bisa bertemu langsung dengan Queen Bey, sebutan untuk Beyonce. 

"Sayang sekali, kalau saja dia sedang tur, aku pasti mencoba mengajak kelas untuk menontonnya," kata Brooks.

BUKAN ARTIS PERTAMA

Beyonce, yang bernama lengkap Beyonce Giselle Knowles-Carter, bukanlah musisi pertama yang menjadi mata kuliah di universitas. 

Sebelumnya, musisi yang terkenal dan berpengaruh juga sudah dijadikan bahan studi untuk mahasiswa, seperti kelas tentang Bob Dylan dan megadiva Taylor Swift

Taylor bahkan pernah dijadikan objek studi, di mana mahasiswa meneliti pengaruh berbagai lirik lagunya terhadap budaya pop. 

Beberapa profesor hukum bahkan menggunakan Taylor sebagai contoh untuk mengaitkan konsep hukum rumit dengan dunia nyata.

Menurut Billboard, Stanford University dan UC Berkeley pernah membuka kelas khusus mempelajari Taylor Swift. 

📢 Ikuti kuis CNA Memahami Asia eksklusif di saluran WhatsApp CNA Indonesia. Ayo uji wawasanmu dan raih hadiah menariknya!

Jangan lupa, terus pantau saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk mendapatkan tautan kuisnya 👀

🔗 Cek info selengkapnya di sini: https://cna.asia/4dHRT3V

Source: Others/ps

Juga layak dibaca

Iklan
Iklan