Sikap Kak Seto usai dituding abaikan aduan Aurelie Moeremans di masa lalu
Pemerhati anak itu buka suara usai memoar Broken Strings viral dan membuka kembali kasus child grooming yang sebelumnya sudah pernah dilaporkan keluarga Aurelie.
Pemerhati anak, Kak Seto, dalam salah satu unggahannya di media sosial. (Foto: Instagram/@kaksetosahabatanak)
Nama Seto Mulyadi atau yang lebih dikenal sebagai Kak Seto ikut terseret dalam polemik tudingan child grooming yang diungkap artis Aurelie Moeremans lewat buku memoarnya, Broken Strings, yang memuat kisah manipulasi dan kekerasan seksual di masa lalunya.
Pemerhati anak itu disebut mengabaikan aduan yang pernah disampaikan keluarga Aurelie pada 2010, yang pada saat itu tidak mendapatkan penanganan yang diharapkan. Saat itu, ayah Aurelie, Jean Marc Moeremans, diketahui pernah melaporkan seorang pria ke Komisi Nasional Perlindungan Anak atau Komnas PA, lembaga yang kala itu dipimpin Kak Seto.
Menanggapi berbagai pembahasan yang kembali muncul, Kak Seto meminta publik untuk menyikapi isu ini dengan kepala dingin.
"Mohon kepada para sahabat semua, kiranya kita dapat menyikapi kembali pemberitaan terkait kasus tersebut dengan kepala dingin dan hati yang jernih, tanpa memelintir fakta ke arah pemahaman yang keliru," ujar Kak Seto melalui media sosial, Kamis (15/1).
JANGAN SALING MENYALAHKAN
Ia juga menegaskan bahwa pengangkatan kembali kasus lama seharusnya tidak berubah menjadi ruang saling menyalahkan.
"Apabila di tahun 2026 ini ada pihak yang kembali mengangkat kasus tahun 2010 tersebut, kiranya itu tidak dijadikan ruang untuk saling menuduh, memfitnah, menyerang secara personal, atau mengubah makna fakta yang sebenarnya."
Kak Seto menjelaskan bahwa praktik pendampingan anak dan cara pandang terhadap relasi kuasa pada masa lalu sangat berbeda dibandingkan standar perlindungan anak saat ini. Hal tersebut ia sampaikan melalui Instagram Stories miliknya.
"Kami mengikuti dengan sungguh-sungguh diskusi publik yang berkembang, termasuk berbagai kutipan dan pernyataan di masa lalu yang kembali diangkat. Perlu kami sampaikan bahwa praktik pendampingan anak dan cara pandang terhadap relasi kuasa, kerentanan remaja, serta dampak psikologis jangka panjang telah mengalami perkembangan yang sangat signifikan," ungkapnya.
Menurut Kak Seto, setiap langkah dan pernyataan yang diambil pada saat itu dilakukan berdasarkan pengetahuan dan kewenangan yang berlaku. Namun, ia mengakui bahwa standar hari ini menuntut sensitivitas yang jauh lebih tinggi.
"Namun, kami menyadari bahwa standar perlindungan anak hari ini menuntut kepekaan, kehati-hatian dan perspektif yang lebih jauh, lebih kuat terhadap potensi manipulasi, tekanan emosional dan ketimpangan kuasa dalam relasi yang melibatkan anak dan remaja," tulisnya.
BAHAN REFLEKSI
Ia menegaskan bahwa pengalaman masa lalu menjadi bahan refleksi untuk memperkuat sistem perlindungan anak ke depan. Dalam beberapa unggahan, Kak Seto juga menyampaikan sikap tegasnya terhadap praktik child grooming.
"Kami mengecam segala bentuk manipulasi, relasi tidak setara, dan praktik child grooming," tulisnya.
"Anak tidak pernah berada dalam posisi setara untuk diminta pertanggungjawaban atas relasi yang dibangun melalui tekanan, bujuk rayu, atau ketimpangan kuasa," tulisnya.
Selain itu, Kak Seto menyampaikan apresiasi kepada siapa pun yang berani menyuarakan pengalaman masa lalunya.
"Kami menghormati keberanian siapa pun yang memilih untuk bersuara atas pengalaman masa lalunya, dan memandang suara tersebut sebagai pengingat penting agar sistem perlindungan anak terus diperbaiki, diperkuat, dan semakin berpihak pada kepentingan terbaik anak."
Ia juga mengajak masyarakat untuk menempatkan empati sebagai landasan utama dalam merespons kasus ini.
"Kami mengajak seluruh pihak untuk menyikapi isu ini dengan empati, kebijaksanaan, dan fokus pada tujuan bersama: menciptakan ruang yang aman bagi anak-anak Indonesia hari ini dan di masa depan."
Sebelum Broken Strings menjadi perbincangan luas pada awal 2026, kisah masa lalu Aurelie sebenarnya sudah pernah dibawa ke ranah lembaga perlindungan anak lebih dari satu dekade lalu. Dalam laporan tersebut, Jean Marc Moeremans berharap Komnas PA dapat melakukan intervensi terhadap pihak yang dinilai memengaruhi kehidupan Aurelie.
Namun, laporan itu tidak berujung pada langkah konkret seperti yang diharapkan. Dalam pengakuan Jean Marc yang beredar di media sosial, ia menyebut laporan keluarganya kala itu dinilai terlalu agresif oleh petugas yang menerima aduan, menurut laporan Detik.
Situasi tersebut kemudian memicu kekecewaan publik dan memunculkan kritik terhadap penanganan laporan perlindungan anak di masa lalu.
Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.