K-pop mulai ditinggalkan, anak muda Korea beralih ke musik trot
Dari fan meeting yang terlalu ketat sampai biaya debut K-pop yang tak terjangkau, anak muda Korea kini mulai melirik musik trot yang terasa lebih sederhana dan hangat.
Anggota BIGBANG, Daesung, menyanyikan lagu trot-nya berjudul Look at Me, Gwisun di Coachella, Amerika Serikat. (Foto: Dok. R&D Company)
Di tengah industri idol K-pop yang makin mahal, kompetitif, dan penuh kontroversi, sebagian anak muda Korea mulai mencari kenyamanan di genre musik yang dulu dianggap kuno.
Trot kini bukan lagi sekadar musik untuk generasi orang tua, tetapi juga tempat baru bagi penggemar dan musisi muda yang lelah dengan gegap gempita dunia K-pop.
"Tidak bisa dimungkiri kalau penyanyi trot lebih berbakat dan bersikap lebih baik dibanding beberapa idol K-pop yang terseret skandal. Banyak penyanyi trot sudah melewati hidup yang sulit, dan mereka punya tekad untuk bangkit. Tidak heran mereka jadi semakin populer."
Komentar itu tertulis di bawah artikel eksklusif Hankook Ilbo yang membahas alasan anak muda Korea berusia 20-an dan 30-an kini semakin tertarik pada musik trot.
Nada kecewa terhadap kontroversi berulang yang melibatkan idol K-pop, mulai dari polemik wajib militer hingga penyelidikan pemerintah terkait dugaan penggelapan pajak, sedikit banyak memberi gambaran mengapa sebagian anak muda Korea mulai mengalihkan perhatian mereka ke para penyanyi trot.
APA ITU MUSIK TROT?
Trot sendiri adalah genre musik populer Korea yang sudah ada jauh sebelum K-pop lahir. Dipengaruhi oleh musik enka Jepang dan gaya musik Barat, trot sempat mendominasi industri musik Korea Selatan selama puluhan tahun.
Genre musik trot tetap dicintai generasi yang lebih tua bahkan setelah K-pop menguasai tangga lagu. Namun, bagi banyak anak muda Korea yang terpikat dengan glamornya dunia K-pop, genre musik trot pun akhirnya dianggap sudah kuno dan perlahan menjadi norak.
Belakangan, citra itu mulai berubah. Musik trot kini menikmati kebangkitan baru dan semakin populer di kalangan pendengar muda Korea.
JENUH DENGAN K-POP
The Korea Times menyoroti bahwa meningkatnya popularitas musik trot bukan hanya karena perubahan selera musik semata, tetapi juga rasa kecewa dan kejenuhan yang dirasakan sebagian penggemar lama K-pop terhadap industri idol.
Kim, perempuan berusia 20-an tahun, adalah salah satu penggemar yang memutuskan meninggalkan K-pop. Ia mengaku merasa terhina oleh cara agensi K-pop memperlakukan penggemar sepertinya, yang seolah seperti calon pelaku tindak kriminal.
"Aku membeli lebih dari 40 album hanya demi mendapat kesempatan menghadiri 'fan meeting', lalu tetap harus menjalani pemeriksaan tubuh dengan sangat ketat," kata Kim.
"Di kesempatan lain, aku pergi ke bandara untuk melihat member grup K-pop favoritku. Aku berdiri jauh dari mereka, tetapi petugas keamanan tetap mendorongku sampai jatuh ke lantai," ujarnya.
Beruntung, ia tidak terluka. Tetapi satu pikiran terus mengganggunya: mengapa ia harus terus menjadi penggemar K-pop jika diperlakukan seperti itu?
"Chandala", kata yang berarti "kaum tak tersentuh", merujuk pada kasta sosial terendah di India. Dalam beberapa tahun terakhir, istilah tersebut digunakan sebagian penggemar K-pop untuk menggambarkan bagaimana mereka merasa diperlakukan oleh agensi hiburan.
Keluhan terus bermunculan. Meski penggemar menghabiskan banyak uang dan waktu demi idol kesayangan mereka, agensi justru memperlakukan mereka seperti "kaum tak tersentuh".
Amarah para penggemar mencapai puncaknya ketika petugas keamanan di sebuah fan meeting mulai memeriksa pakaian dalam penggemar dengan alasan mencegah perekaman ilegal.
Selain itu, berbagai konsep K-pop pun kini makin terasa rumit, bahkan kadang terlalu absurd. Contohnya saja adalah konsep Kwangya, dunia fiksi yang dibuat agensi SM Entertainment untuk artis-artis mereka, terutama aespa.
Dalam lore tersebut, Kwangya digambarkan sebagai semacam dunia virtual atau dimensi digital tempat avatar AI dan karakter para idola berada. Konsep ini menjadi identitas vita aespa sejak debut, dengan para member aespa punya versi avatar digital bernama "ae", lalu cerita mereka berkembang dengan elemen seperti AI, metaverse, dunia paralel, sampai villain virtual bernama Black Mamba.
SM bahkan sempat memasukkan Kwangya ke lagu, video musik, konser, dan konten artis lain di bawah agensi mereka.
Karena terlalu kompleks dan penuh istilah dunia fiksi, Kwangya sering dianggap simbol bagaimana konsep K-pop modern makin rumit dan sulit diikuti publik umum.
Oleh karena itu, penggemar usia 20-an dan 30-an mulai melirik para penyanyi trot muda. Ketika BIGBANG tampil di festival Coachella, Amerika Serikat, bulan lalu, sorakan paling keras dari penonton justru bukan datang saat lagu hit global mereka dibawakan, melainkan ketika Daesung menyanyikan lagu trot miliknya, Look at Me, Gwin.
MUSIK TROT LEBIH HANGAT
Sejumlah anak muda Korea akhirnya memilih meninggalkan K-pop dan beralih ke trot, tempat mereka merasa benar-benar diterima. Bagi Kim, pilihan itu jatuh kepada Lim Young-woong.
Di luar venue pertunjukan musik trot, suasananya terasa berbeda. Saat musim dingin, tenda-tenda didirikan agar penonton lansia tetap hangat, bersama anak-anak mereka yang sudah dewasa dan menunggu untuk mengantar orangtua pulang setelah konser selesai.
Sebuah foto yang memperlihatkan seorang petugas muda yang menggendong lansia di punggungnya pada sebuah pertunjukkan musik trot bahkan sempat viral di internet.
Menurut laporan Hankook Ilbo, dalam dunia musik trot, konsep "melayani" bukan sekadar gestur, melainkan nilai budaya yang penting. Berbakti kepada orang tua dianggap sebagai salah satu norma sosial paling mulia.
Dari situ, melayani penggemar, yang banyak di antaranya berusia lanjut dan tidak terbiasa dengan pertunjukan live, menjadi bagian utama budaya genre ini.
Hal ini tentu kontras sekali dengan K-pop, ketika penggemar sering merasa diawasi, diatur, atau diperlakukan seperti ancaman potensial.
K-POP MAKIN TAK TERJANGKAU
Perubahan ini bukan hanya terjadi di kalangan penggemar. Semakin banyak musisi usia 20-an dan 30-an yang masuk ke genre trot. Menurut sejumlah pelaku industri K-pop, penyebabnya adalah dunia K-pop yang semakin membeku dan sulit ditembus.
Ambil contoh, i-dle. Agensi mereka menghabiskan 1,1 miliar won (sekitar Rp12,9 miliar) untuk video musik Super Lady. Pada era 2000-an, video musik grup seperti BIGBANG, Wonder Girls, dan Girls’ Generation kabarnya hanya menghabiskan biaya sekitar 110 juta won (Rp1,29 miliar) hingga 220 juta won (Rp2,59 miliar). Artinya, biaya produksi video musik K-pop papan atas kini meningkat setidaknya lima kali lipat.
Hierarki K-pop yang semakin berlapis juga terlihat jelas di tangga lagu. Menurut Circle Chart yang melacak konsumsi musik dari sembilan platform domestik dan global termasuk Melon, Bugs, dan Spotify, tujuh dari 20 lagu paling banyak diputar tahun lalu berasal dari grup idol K-pop, termasuk Whiplash milik aespa.
Ketujuh lagu tersebut diproduksi oleh agensi besar seperti SM Entertainment atau afiliasinya. Tidak ada satu pun lagu grup idol dari agensi kecil yang berhasil masuk daftar itu.
Situasinya berbeda satu dekade lalu. Pada 2014, setidaknya ada tiga lagu dari agensi kecil yang berhasil masuk 20 besar tahunan: Mr. Chu milik Apink yang dirilis Play M Entertainment berada di posisi ketujuh, Not Spring, Love, or Cherry Blossoms dari High4 dan IU rilisan N.A.P Entertainment di posisi kedelapan, serta Something milik Girl’s Day dari Dream T Entertainment di posisi kesembilan.
Namun, dalam sepuluh tahun terakhir, perusahaan menengah dan kecil yang dulu dianggap sebagai batu loncatan bagi idol baru untuk mengejar kesuksesan kini tak mampu mengantarkan artisnya ke tangga lagu unggulan. Kekuatan uang dan pengaruh industri kini menjadi faktor yang semakin menentukan keberhasilan grup K-pop baru.
Artinya, ke depan, tidak akan ada lagi kisah tujuh member berbagi satu kamar mandi dan sebagian harus lari ke toilet umum seperti yang pernah diceritakan BTS. Hari ini, kerja keras saja tidak lagi cukup untuk membawa anak muda Korea debut menjadi idol K-pop.
"Dua puluh tahun lalu, bahkan agensi hiburan besar menghabiskan sekitar 500 juta won (Rp5,9 miliar) hingga 1 miliar won (Rp11,8 miliar) untuk memproduksi satu album. Sekarang biayanya dimulai dari minimal 5 miliar won (Rp59 miliar)," kata CEO sebuah agensi menengah yang sudah lebih dari 20 tahun menangani grup K-pop, dikutip dari The Korea Times.
Situasi tersebut membuat idol dari agensi kecil semakin sulit menembus pasar, sehingga kian banyak grup K-pop bubar sebelum kontrak eksklusif tujuh tahun mereka berakhir, termasuk Luminous dan Purple Kiss.
GENERASI BARU MUSIK TROT
Trot merupakan genre yang dibangun di atas stabilitas dan tradisi, bukan perubahan. Dibanding rock atau hip-hop yang sering membawa pesan perlawanan, lirik penuh pemberontakan, suara gitar eksperimental, dan beat berat, trot jauh lebih konservatif secara musikal.
Kim Sung-yoon, peneliti penuh waktu di Institute for Convergence Knowledge and Society milik Dong-A University, menggambarkan trot sebagai "alat ajaib yang sejenak memutar kembali waktu atau menahannya tetap tetap jalan di tempat."
Ia menafsirkan tren ini sebagai "reaksi terhadap kejenuhan akibat kompetisi berlebihan dan stimulasi tanpa henti."
Dampaknya, semakin banyak orang Korea usia 20-an dan 30-an yang melihat trot sebagai jalur baru untuk berkarier di musik.
Ha Dong-geun, yang debut sebagai penyanyi trot di usia 20-an, mengatakan kepada Hankook Ilbo bahwa ia memilih genre tersebut karena ingin tetap bisa tampil di atas panggung bahkan ketika usianya bertambah.
Perubahan ini juga mulai terasa di akademi musik. Trot kini dianggap menawarkan lebih banyak peluang dan jalur sukses yang tidak terlalu padat persaingan.
Lee Ho-seop, guru vokal dan komposer veteran di balik lagu trot populer seperti Let’s Do the Cha-cha-cha dan Chan Chan Chan, mengatakan kepada Hankook Ilbo bahwa lima tahun lalu tidak ada satu pun remaja yang ingin belajar trot. Sekarang, mayoritas muridnya justru remaja.
"Perubahan terbesar yang aku rasakan langsung di lapangan adalah anak-anak sekarang dengan bangga bilang mereka belajar trot tanpa ragu. Dulu, mereka cenderung merahasiakannya," katanya.
Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.