Skip to main content
Iklan

Lifestyle

Dibunuh bom Israel, menggema di Cannes: Dokumenter jurnalis Gaza Fatima Hassouna gaungkan genosida

Fatima seharusnya berangkat ke Prancis untuk melihat film yang mengangkat kisahnya, Put Your Soul on Your Hand and Walk, tayang di Cannes bertepatan dengan peringatan Nakba. Malang, ia tewas hanya sehari setelah tahu filmnya lolos seleksi. 

Dibunuh bom Israel, menggema di Cannes: Dokumenter jurnalis Gaza Fatima Hassouna gaungkan genosida

Sepideh Farsi, sutradara dokumenter Put Your Soul on Your Hand and Walk, yang mengisahkan jurnalis foto Palestina berusia 25 tahun, Fatima Hassouna, yang terbunuh di Gaza satu hari setelah diumumkan bahwa film dokumenter tersebut telah dipilih untuk tayang di Festival Film Cannes ke-78, Prancis, 15 Mei 2025. (Foto: REUTERS/Stephane Mahe)

16 May 2025 04:36PM (Diperbarui: 16 May 2025 04:44PM)

CANNES: Festival Film Cannes 2025 menjadi saksi bisu kepedihan dan penghormatan mendalam terhadap Fatima Hassouna, jurnalis foto asal Gaza yang tewas dalam serangan udara Israel, hanya sehari setelah mengetahui film dokumenter tentang dirinya akan ditayangkan di festival bergengsi tersebut.

Film dokumenter berjudul Put Your Soul on Your Hand and Walk, karya sutradara Iran Sepideh Farsi, ditayangkan di Cannes pada Kamis (15/5) di tengah suasana haru, bertepatan dengan peringatan Nakba, tragedi pengusiran massal warga Palestina pada 1948. 

Pemutaran ini bukan hanya bentuk penghormatan kepada Fatima, tapi juga menjadi simbol perlawanan terhadap upaya pembungkaman suara dari Gaza.

Fatima bahkan seharusnya akan menikah. Namun mimpi itu ikut terkubur bersama ledakan yang merenggut nyawanya.

Fatima, 25 tahun, dikenal sebagai jurnalis yang tangguh, penuh semangat, dan tak pernah berhenti merekam realitas keras di kampung halamannya. 

Kisahnya diangkat dalam film karya sutradara Iran Sepideh Farsi, memperlihatkan karya fotografinya selama lebih dari 200 hari perang di Gaza. 

Menurut laporan Al Jazeera, Farsi berkomunikasi dengan Fatima lewat sambungan video. Dari percakapan mereka, rekaman wajah, serta foto-foto karya Fatima, lahirlah film dokumenter ini.

Cuplikan terakhir antara Farsi dan Fatima terjadi pada 15 April 2025. Di hari itu, Fatima tak bisa menyembunyikan kegembiraannya mengetahui filmnya terpilih untuk ditayangkan di Cannes. 

Namun, keesokan harinya, 16 April 2025, Fatima tewas dalam serangan udara yang menewaskan pula 10 anggota keluarganya di rumah mereka di Gaza. Hanya ibunya yang selamat.

"Fatima meyakini tragedi ini akan berlalu. Tragedi ini pasti berlalu. Dia sudah tiada, tetapi dia tetap bersama kita. Suara dia tidak bisa dikalahkan," kata Farsi di pidato sambutannya saat pemutaran film.

Festival Cannes, yang biasanya enggan menyentuh isu politik, kali ini mengambil langkah berbeda. Mereka secara resmi mengungkapkan duka mendalam dan menyebut Fatima sebagai salah satu dari "terlalu banyak korban kekerasan." 

Film ini ditayangkan dalam program ACID Independent, yang memberi ruang bagi produksi film berskala kecil namun bersuara besar, menurut laporan Reuters.

"Saya ingin dunia melihat kehidupan di Gaza melalui mata Fatima," ujar Farsi, yang juga menyebut bahwa berdasarkan laporan dari Forensic Architecture, Hassouna kemungkinan memang menjadi sasaran dalam serangan itu. 

"Sulit dipercaya, seperti fiksi ilmiah. Yang diinginkan semua orang cuma satu: hentikan perang dan lindungi warga sipil."

Melalui film ini, Fatima tidak hanya menceritakan perihal invasi dan penderitaan, tetapi juga menunjukkan secercah harapan. 

Foto-fotonya menampilkan keluarga yang tetap tersenyum di tengah puing-puing, serta seorang anak laki-laki menyiram darah di lantai rumah setelah keluarganya menjadi korban serangan.

Fatima bahkan seharusnya akan menikah. Namun mimpi itu ikut terkubur bersama ledakan yang merenggut nyawanya.

Sepideh Farsi, sutradara dokumenter Put Your Soul on Your Hand and Walk, yang mengisahkan jurnalis foto Palestina berusia 25 tahun, Fatima Hassouna, yang terbunuh di Gaza satu hari setelah diumumkan bahwa film dokumenter tersebut telah dipilih untuk tayang di Festival Film Cannes ke-78, Prancis, 15 Mei 2025. (Foto: REUTERS/Stephane Mahe)

'UNTUK FATEM'

Dua hari sebelum pemutaran film, surat kabar Liberation di Prancis mempublikasikan surat terbuka dari 380 pembuat film dunia, termasuk aktor dan aktris kenamaan seperti Susan Sarandon, Richard Gere, Miriam Margolyes, Viggo Mortensen, hingga Javier Bardem. 

Sutradara kondang seperti Pedro Almodovar, David Cronenberg, dan Yorgos Lanthimos turut menandatangani surat yang mengecam tragedi kemanusiaan di Gaza, ketiadaan gencatan senjata, dan terbatasnya bantuan yang masuk itu.

"Dia adalah pewarta foto lepas dari Palestina. Ia diincar militer Israel pada 16 April 2025, sehari setelah pengumuman filmnya lolos Festival Cannes."

"Ia semestinya akan menikah, tetapi bom Israel membunuhnya dan sepuluh anggota keluarganya, termasuk kakaknya yang sedang hamil," bunyi surat tersebut.

Farsi selalu percaya Fatima akan datang, bahwa perang akan berakhir, dan bahwa mereka akan berjalan bersama di karpet merah Cannes.

Melalui surat terbuka itu, para praktisi film juga mengkritik festival film dan institusi perfilman yang bungkam terhadap suara-suara dari Palestina, serta menyoroti bagaimana lebih dari 200 jurnalis telah terbunuh sejak konflik pecah. 

"Pembuat film adalah aktor kebudayaan. Kita tidak boleh bungkam di hadapan genosida," tulis mereka. 

"Kenapa ada pembungkaman? Sikap pasif ini sungguh memalukan."

Surat itu juga menyinggung kasus produser No Other Land, Hamdan Ballal, yang diculik oleh tentara Israel pada April 2025, hanya sebulan setelah film kolaboratif Palestina-Israel itu memenangkan Oscar. 

Ballal kemudian dibebaskan berkat tekanan internasional, namun para sineas mengecam diamnya Academy Awards atas insiden itu dan mendesak permintaan maaf resmi kepada Ballal.

SIMBOL PERLAWANAN ABADI

Festival Cannes tahun ini kembali menjadi panggung tak hanya untuk film, tetapi juga untuk nurani. 

Setelah pemutaran film tentang Hassouna, perhatian publik tertuju pada bagaimana para bintang dunia merespons tragedi Gaza.

Pada malam pembukaan Festival Film Cannes, ketua juri festival, aktris Prancis Juliette Binoche, pun memberikan penghormatan kepada Fatima pada malam pembukaan.

Dalam bahasa Prancis, Binoche menyebut Fatima "seharusnya ada bersama kita malam ini," dikutip dari Le Monde.

Farsi mengungkapkan, sampai akhir ia percaya Fatima akan datang, bahwa perang akan berakhir, dan bahwa mereka akan berjalan bersama di karpet merah Cannes.

"Namun kenyataannya, ini yang menimpa kami," katanya lirih.

Fatima mungkin telah tiada, namun kisah dan karyanya kini abadi dalam film, layar, dan hati orang-orang yang menyaksikannya. Suaranya yang dibungkam oleh bom, justru menggema lebih lantang dari Cannes ke seluruh dunia.

Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.

Source: Others/ps

Juga layak dibaca

Iklan
Iklan