Iwet Ramadhan respon kontroversi baliho film Aku Harus Mati
Sebagai produser film, Iwet menjelaskan strategi promosi, proses perizinan resmi, hingga alasan di balik penurunan materi iklan.
Poster film horor berjudul Aku Harus Mati. (Foto: Instagram/@akuharusmati)
JAKARTA: Kontroversi baliho film Aku Harus Mati yang menampilkan visual ekstrem memicu gelombang protes dari masyarakat, terutama karena dinilai tidak ramah anak. Di tengah sorotan publik, sang produser, Iwet Ramadhan, akhirnya buka suara soal strategi promosi yang menuai polemik tersebut.
Baliho berukuran besar itu menampilkan tulisan "AKU HARUS MATI" dalam huruf kapital dengan visual mata merah menyala. Banyak orang menganggap tampilannya terlalu menyeramkan, terutama untuk anak-anak yang bisa melihatnya tanpa konteks.
Sejumlah pengguna media sosial, termasuk di platform Threads, ikut menyuarakan keberatan. Salah satunya akun @fongmeicha yang mempertanyakan ke mana harus melapor agar baliho tersebut segera diturunkan. Ia bahkan menyebut iklan tersebut "sangat tidak sehat."
Menurutnya, anak-anak usia 7 sampai 10 tahun yang melintas di sekitar lokasi pemasangan menjadi bingung dan bertanya soal makna tulisan tersebut. Pengalaman serupa juga dibagikan warganet lain yang melihat anak-anak di sekitar mereka terkejut saat melihat baliho itu.
Kritik tidak berhenti di situ. Banyak warganet mendesak pihak agensi dan vendor iklan agar lebih mempertimbangkan aspek kepantasan sebelum menampilkan materi promosi di ruang publik. Ada juga kekhawatiran soal dampak psikologis, terutama bagi orang-orang yang sedang berada dalam kondisi mental rentan.
PRODUSER BUKA SUARA
Menanggapi polemik tersebut, produser Aku Harus Mati, Iwet Ramadhan, menegaskan bahwa pemasangan baliho merupakan bagian dari strategi promosi yang memang menyasar penonton pencinta horor, termasuk di daerah.
Iwet juga memastikan bahwa penurunan baliho bukan karena tekanan publik, melainkan sudah sesuai jadwal yang ditentukan sejak awal.
"Jadi mulai dari setelah Gala Premiere tanggal 26, 27 tuh, billboard naik itu waktunya sampai tanggal 5 April," kata Iwet pada akhir pekan lalu, dikutip dari Kompas.
"Jadi, per malam ini, kami turunkan materinya supaya tanggal 5 April selesai karena kami akan lanjut masuk ke fase berikutnya," lanjutnya.
Iwet mengakui bahwa respons publik terhadap materi promosi memang cukup besar, tetapi menurutnya hal itu berada di luar kendali tim produksi.
"Dan respons masyarakat itu, kan, sesuatu yang tidak bisa kita kontrol, ya. Kita punya niat apa, kita punya maksud apa, tapi responnya itu tidak pernah bisa kita kontrol," ujarnya.
Ia juga menegaskan bahwa seluruh materi promosi telah melalui proses evaluasi resmi sebelum ditayangkan ke publik.
"Karena semua materi kita sudah dievaluasi sama mereka, sudah dievaluasi, lalu kemudian diberikan persetujuan untuk semua materi promo kita," kata Iwet.
Karena sudah mengikuti prosedur, Iwet menyebut timnya memilih untuk tidak bereaksi berlebihan terhadap kritik yang muncul.
"Kalau misalnya kami reaktif, bergerak secara sporadis malah nanti blunder gitu. Sehingga balik lagi, kan, enggak elok kalau perangnya di sosmed," tuturnya.
"Jadi, makanya kami betul-betul ikuti aturan, kami ikuti fase-fasenya baru kemudian setelah semuanya beres ya kami bicara."
Di sisi lain, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta turut mengambil langkah dengan menurunkan banner iklan tersebut di tiga titik lokasi pada Minggu (5/4), setelah menerima keluhan dari masyarakat. Penertiban dilakukan melalui Diskominfotik dan Satpol PP DKI Jakarta.
Film Aku Harus Mati sendiri merupakan produksi Rollink Action yang disutradarai Hestu Saputra dan dibintangi Hana Saraswati sebagai tokoh utama.
Cerita film ini berfokus pada Mala, seorang perempuan yang terjebak gaya hidup kota besar hingga terlilit utang demi memenuhi keinginan hidup hedon.
Dalam upaya menenangkan diri, ia kembali ke panti asuhan dan bertemu kembali dengan sahabat lamanya, Tiwi dan Nugra, serta Ki Jogo.
Namun, perjalanan tersebut berubah menjadi pengalaman penuh misteri saat mereka menuju sebuah rumah di tengah hutan. Di sana, mereka menghadapi teror hingga akhirnya mengungkap rahasia kelam dari masa lalu satu keluarga.
Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.