Skip to main content
Iklan

Lifestyle

Isyana Sarasvati dan Alyssa Soebandono bantah terima beasiswa LPDP

Nama Isyana dan Alyssa turut diperbincangkan di tengah ramainya sorotan publik terhadap para awardee dan alumni LPDP. 

Isyana Sarasvati dan Alyssa Soebandono bantah terima beasiswa LPDP

Isyana Sarasvati (kiri) dan Alyssa Soebandono (kanan) dalam unggahan mereka masing-masing di media sosial. (Foto: Instagram/@isyanasarasvati, @ichasoebandono)

25 Feb 2026 03:26PM (Diperbarui: 25 Feb 2026 03:33PM)

JAKARTA: Nama dua figur publik Indonesia, Isyana Sarasvati dan Alyssa Soebandono, ikut terseret dalam perbincangan soal penerima beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP). Keduanya menegaskan bahwa mereka bukan penerima beasiswa tersebut.

Isyana Sarasvati menyampaikan klarifikasinya langsung melalui Instagram Story pribadinya. Ia merasa perlu meluruskan informasi yang beredar mengenai dirinya sebagai penerima beasiswa LPDP.

"Halo teman-teman, saya ingin meluruskan pemberitaan yang kurang tepat mengenai saya sebagai penerima beasiswa LPDP. Saya ingin menegaskan bahwa saya TIDAK PERNAH menerima beasiswa LPDP," tulis Isyana dalam unggahan Instagram Story pribadinya, dilihat pada Rabu (25/2).

Ia juga berharap media lebih berhati-hati dalam menyampaikan informasi ke publik.

"Semoga ke depannya media dapat lebih bijak dalam menyampaikan informasi. Memastikan akurasi informasi sebelum mempublikasikannya. Terima kasih atas pengertiannya," tutupnya.

Meskipun bukan penerima LPDP, perjalanan pendidikan Isyana memang dikenal serius di bidang musik. Saat duduk di kelas 2 SMA, ia memperoleh beasiswa dari pemerintah Singapura untuk belajar pertunjukan musik di Nanyang Academy of Fine Arts (NAFA).

Pelantun Tetap Dalam Jiwa ini juga sempat menjelaskan bahwa beasiswa itu didapatkan ketika ia masih bersekolah di bangku kelas 2 SMA dan ia mendapat jalur percepatan tanpa harus menyelesaikan SMA secara konvensional.

"Aku dapat fast track enggak usah lulus SMA, punya sertifikat musik bisa ikut audisi. Terus lolos audisi, aku 'Yes gak UN'," ungkap Isyana kepada Detik pada tahun 2018 silam.

Selain menempuh pendidikan di NAFA, Isyana juga pernah mengikuti program pertukaran mahasiswa di Tainan National University of the Arts, Taiwan, pada 2012 dan meraih gelar Diploma di bidang Music Performance pada 2013. Ia juga tercatat sebagai lulusan Royal College of Music, Inggris.

Penjelasan Isyana Sarasvati soal tidak pernah menjadi penerima beasiswa LPDP. (Foto: Tangkapan layar Instagram story @isyanasarasvati)

Di sisi lain, Alyssa Soebandono turut memberikan klarifikasi setelah nama dan fotonya masuk dalam unggahan deretan selebriti yang disebut sebagai penerima beasiswa LPDP.

Situasi ini muncul di tengah ramainya warganet menelusuri para penerima LPDP dan kontribusi yang diberikan kepada Indonesia setelah menyelesaikan studi.

Melalui kolom komentar di Instagram, Alyssa menegaskan dirinya tidak pernah menerima maupun mendaftar beasiswa tersebut.

"Izin menanggapi dan meluruskan ya. Faktanya, saya bukan lah penerima beasiswa LPDP dan tidak pernah mendaftarkan diri," tulis Alyssa di Instagram, Selasa (24/2).

Ia kemudian menjelaskan latar belakang pendidikannya serta sumber pembiayaan kuliahnya.

"Saya menempuh S1 di Monash University dengan biaya sendiri dan S2 mendapatkan beasiswa penuh dari London School of Public Relations," ungkapnya.

Ramainya pembahasan soal LPDP bermula dari video viral salah satu alumnus LPDP, Dwi Sasetyaningtyas (DS) atau Tyas di Instagram dan Threads. Dalam video tersebut, ia menunjukkan surat dari otoritas Inggris terkait kewarganegaraan anak keduanya yang resmi menjadi warga negara Inggris.

Dalam unggahannya, Tyas mengatakan, "I know the world seems unfair, tapi cukup aku aja yang WNI, anak-anakku jangan. Kita usahakan anak-anak dengan paspor kuat WNA itu," ujarnya.

Warganet kemudian menyoroti fakta bahwa DS bersama suaminya,  Arya Iwantoro yang juga penerima LPDP, memilih tinggal di luar negeri. Pernyataan itu memicu perdebatan sengit di media sosial karena dinilai tidak sejalan dengan komitmen kepada negara.

Sesuai ketentuan, seluruh awardee dan alumni LPDP wajib menjalani masa pengabdian di Indonesia selama dua kali masa studi ditambah satu tahun, atau dikenal dengan skema 2N+1.

Tyas dalam klarifikasinya menyatakan telah menuntaskan kewajiban pengabdian. Ia menempuh studi magister di Delft University of Technology, Belanda, pada 2015 hingga 2017 dengan jurusan Sustainable Energy Technology. Dengan skema 2N+1, ia menyebut pada 2025 sudah bebas dari masa pengabdian.

Namun, sorotan juga mengarah pada suaminya, Arya Iwantoro, yang diduga belum menuntaskan kewajiban kontribusi. Arya menyelesaikan studi S3 pada periode 2017 hingga 2022.

Berdasarkan skema 2N+1, Arya seharusnya memiliki masa pengabdian di Indonesia selama 11 tahun hingga 2033.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan Arya bersedia mengembalikan dana beasiswa yang telah diterima, termasuk bunganya.

"Bosnya LPDP sudah berbicara dengan suami yang bersangkutan. Dan dia sepertinya sudah setuju untuk mengembalikan uang yang dipakai dari LPDP. Jadi termasuk bunganya. Uang LPDP kan kalau saya taruh uang itu di bank, ya kan ada bunganya, kan dengan treatment yang fair," kata Purbaya, Senin (23/2).

Ia juga menyampaikan ancaman blacklist bagi penerima beasiswa LPDP yang menghina negara untuk masuk ke pemerintahan. Pemerintah, menurutnya, tidak akan tinggal diam jika dana negara digunakan untuk hal yang dinilai merugikan Indonesia.

Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.

Source: Others/ps

Juga layak dibaca

Iklan
Iklan