Dari Naruto sampai filsafat: Resep di balik cerita-cerita kelam RF Kuang
"Saat kuliah, aku mencatat kata-kata profesor di sisi kanan buku, sementara di sisi kiri, lahir ide-ide cerita yang terinspirasi darinya," tutur Kuang.
RF Kuang menjadi salah satu pembicara utama dan panelis dalam Singapore Writers Festival 2025. (Foto: Dok. Moonrise Studio, dengan izin dari Arts House Group)
Di usia 29 tahun, RF Kuang sudah menjadi nama besar di antara penulis fantasi modern dan dark academia. Di balik setiap novel kelamnya, tersimpan pencarian jati diri dan obsesi kreatif yang saling berkelindan di tangan sang pengisah ulung.
Kuang pernah menduduki puncak daftar bestseller New York Times dan British Sunday Times lewat trilogi The Poppy War (2018-2020), Babel, Or The Necessity Of Violence (2022), dan Yellowface (2023).
Novel terbarunya, Katabasis, yang rilis Agustus tahun ini, mengisahkan dua mahasiswa yang turun ke dunia bawah untuk menyelamatkan profesor mereka.
Penulis berdarah Tionghoa-Amerika ini lahir di China sebelum pindah ke Amerika Serikat pada usia empat tahun. Setelah menyelesaikan gelar sarjana, ia menuntaskan studi pascasarjana di Oxford University dan Cambridge University di Inggris.
Ia dikenal sebagai sosok yang lihai menyeimbangkan ambisi akademik dengan dunia kepenulisan. Novel debutnya, The Poppy War, terbit pada 2018 saat ia menjalani gap year sebagai mahasiswa sarjana di Georgetown University. Saat ini, ia tengah melanjutkan studi doktoral di Yale University, AS.
Dalam pembukaan Singapore Writers Festival 2025, Kuang hadir sebagai salah satu pembicara kunci sekaligus panelis. Ia berbagi pandangan mengenai mitos di dunia akademik serta berdiskusi tentang fiksi sejarah antikolonial.
Ia juga bertemu dengan media lokal dan regional, membahas pengaruh yang membentuknya dalam menulis, mulai dari manga Jepang seperti Naruto dan Bleach, hingga karya klasik Amerika seperti Sylvia Plath dan TS Eliot. Ia menegaskan pentingnya membaca secara luas, kritis, dan lintas bahasa.
Tak ketinggalan, ia menanggapi panggilan sayang dari para penggemarnya, "Mother Rebecca". Ia menjelaskan bahwa mengajar di Yale memicu kedekatan emosional antara dirinya dengan para mahasiswa.
CNA berbincang lebih jauh dengan Kuang tentang bagaimana tulisan akademiknya dan kreativitasnya saling berkelindan, bagaimana rasanya menjadi panutan global, dan berbagai hal lain.
Bagaimana rasanya ketika kamu dianggap sebagai panutan bagi perempuan dan anak muda di seluruh dunia?
Saat aku bertemu pembaca di antrean penandatanganan buku, banyak perempuan mengungkapkan bahwa membaca karyaku membuat mereka merasa bangga terhadap diri mereka sendiri dan identitas mereka, dan juga menumbuhkan semangat untuk menulis.
Mereka sering bilang, "Karyamu bikin aku balik suka membaca lagi!" atau "Bukumu bikin aku penasaran sama banyak bidang lain!"
Itu adalah perasaan terbaik ketika kamu menjadi pijakan awal dalam perjalanan intelektual seseorang.
Di festival ini saja, ada ratusan orang yang bilang bahwa membaca karyaku membuat mereka merasa mampu menulis cerita mereka sendiri berdasarkan sudut pandang dan pengalaman hidup mereka, dan itu sungguh luar biasa.
Bagaimana latar belakangmu sebagai etnisTionghoa-Amerika dan pengalaman akademik memengaruhi gaya bercerita?
Menulis fiksi bagiku adalah bentuk mencatat catatan akademik. Saat aku menulis fiksi, biasanya itu cara untuk memproses suatu bidang baru untuk diriku sendiri sekaligus memahami identitasku sebagai perempuan Tionghoa-Amerika, di antara banyak hal lainnya.
Banyak topik yang kutulis sebenarnya kuamati sebagai seorang pemula. Aku ingin teksku mencerminkan semangat dan rasa penasaran seorang pemula, bukan dengan nada merendahkan seorang pengajar.
"Saat kuliah, aku mencatat kata-kata profesor di sisi kanan buku, sementara di sisi kiri, lahir ide-ide cerita yang terinspirasi darinya," tutur Kuang.
Misalnya, waktu aku di seminar filsafat dan seorang akademisi tamu datang membawakan makalah tentang "ketidaksetaraan epistemik dan pemahaman tentang penindasan dan eksploitasi" yang terdengar panjang dan membosankan.
Intinya adalah mitos bahwa jika kamu berada dalam relasi kekuasaan tidak setara, maka kamu otomatis lebih layak menggambarkan pengalaman tersebut.
Sementara ia menjelaskan argumen yang kering, klinis, dan logis, aku merancang cerita tentang ahli biologi alien. Mereka pergi ke sebuah planet dan menyaksikan kejadian mengerikan pada makhluk asing di sana, tetapi setiap alien yang tertindas justru bilang, "Tidak! Semua baik-baik saja!"
Kamu dikenal lewat tulisan antikolonial dan feminis. Bagaimana kamu menyeimbangkan pandangan politik dalam fiksi?
Sering kali, ketika karakter dalam buku-bukuku punya perdebatan politik kontemporer yang intens, seperti dalam Yellowface atau Babel, itu karena aku sedang mencoba memproses isu sulit yang penting dalam kehidupan nyata, seperti rasisme, misogini, genosida, atau kolonialisme.
Menulis bisa terasa membosankan jika seorang penulis begitu yakin dengan keyakinannya sampai hanya ingin mengkotbahkan kebenaran pada pembaca, menyuruh mereka percaya bahwa A benar dan B salah.
Dalam teksku, semua karakter salah dan semua karakter berjuang mencari kebenaran dengan cara masing-masing. Dialektika seperti ini menurutku jauh lebih produktif karena aku tidak punya keyakinan seratus persen pada satu hal pun.
Aku selalu mencoba mengubah pikiranku, belajar lebih banyak, dan melakukan riset lebih jauh mengenai opiniku sendiri. Aku sering salah tentang berbagai hal.
Apakah kehidupan pribadi pernah memengaruhi cerita dan karakter yang kamu tulis?
Setiap buku yang kutulis adalah cermin siapa diriku pada fase tertentu dalam hidup, sekaligus caraku memahami orang-orang di sekitarku. Itu adalah caraku memproses identitasku.
Saat aku menulis Katabasis, aku sedang berkencan dengan pacarku yang kini menjadi suamiku. Ia seorang filsuf yang juga akademisi.
Banyak ide tentang neraka, kelelahan psikologis, dan berbagai konsekuensi dari ambisi dieksplorasi dalam buku itu karena kami sering ngobrol tentang konsep-konsep besar dalam cara yang kecil, konyol, dan lucu. Dan hal-hal itu terus saja ada di kepalaku.
Jadi membaca The Poppy War, yang kutulis saat aku masih remaja, rasanya seperti mendengarkan adik perempuan emo dan goth. Memalukan? Iya. Tapi aku tetap berempati pada versi diriku itu, dan aku juga tidak selalu setuju dengannya.
Singapore Writers Festival 2025 berlangsung hingga 16 November 2025.
Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.