'Lebih manusiawi dari manusia': Idol virtual menjamur di Korsel, merambah jadi influencer
Dengan makin berkembangnya industri hiburan Korsel, idol virtual mulai banyak diciptakan. CNA menelusuri mengapa dan bagaimana idol virtual diciptakan, hingga mewawancarai salah satu idol yang tidak nyata ini.
Dari kiri: Influencer virtual, Rina, dan girlband virtual, Mave, merupakan idol yang berada di bawah naungan Metaverse Entertainment. (Foto: Instagram/rina.8k, mave_official_)
Dengan gerakan tangan yang anggun, Rina menyapa penumpang di dalam pesawat Korean Air.
Rambutnya yang berkilau, dipotong bob asimetris, bergerak gemulai saat ia memulai pengumuman soal fitur keselamatan pesawat.
Seperti pramugari pada umumnya, Rina menjelaskan cara memakai pelampung dan menunjukkan pintu darurat pesawat.
Ia mengakhiri presentasinya dengan senyuman tipis dan mengajak penumpang untuk menikmati penerbangan mereka.
Semua itu adalah bagian dari tugas Rina sehari-hari.
Namun, Rina bukanlah pramugari. Ia bahkan bukan manusia.
Rina merupakan influencer virtual yang diciptakan oleh Metaverse Entertainment, anak perusahaan pengembang mobile game asal Korea Selatan, Netmarble.
Ia melakukan hal-hal yang biasa dilakukan oleh idol di dunia nyata, seperti menari K-pop dan pemotretan untuk mempromosikan brand.
Bedanya, ia bukan manusia dan tidak nyata.
Rina adalah bagian dari gerakan idol virtual yang berkembang pesat di industri hiburan Korea Selatan.
Sebelumnya, sudah ada girlband virtual, Naevis, dari SM Entertainment dan boyband virtual Plave.
Bahkan, Metaverse Entertainment juga memiliki grup K-pop virtual lainnya, Mave.
Seperti idol pada umumnya, mereka bisa tampil di atas panggung dan berinteraksi dengan penggemar.
Lalu, mengapa idol virtual mulai menjamur?
Mengapa agensi di Korsel mulai mengubah formula yang sudah terbukti sukses di industri hiburan mereka selama puluhan tahun?
CNA mengunjungi markas besar Metaverse Entertainment untuk memahami lebih jauh proses di balik penciptaan idol virtual tersebut.
PENCIPTAAN IDOL VIRTUAL
Metode produksi artis virtual bervariasi antara perusahaan. Di Metaverse Entertainment, proses dimulai dengan sistem Facer.
Mesin ini dirancang untuk menangkap ekspresi wajah dan memanfaatkan teknologi in-house dengan program sinkronisasi berkecepatan tinggi untuk menangkap gerakan halus dan ekspresi wajah.
Tujuannya adalah untuk menciptakan output yang "lebih manusiawi dari manusia."
Selanjutnya, Metaverse Entertainment menggunakan pemindai tubuh terbesar di Korea Selatan.
Alat ini menggunakan 176 sistem pemantulan, sumber cahaya terpolarisasi, dan sistem rel berteknologi tinggi.
Pemindai ini mampu memindai objek sekecil 30 cm hingga sebesar manusia.
Bahkan, alat ini dapat mentransfer tekstur dan berbagai jenis pakaian ke dalam realitas virtual.
File yang dihasilkan sangat besar dan memerlukan penyempurnaan sebelum digunakan dalam game, video musik, dan lainnya.
Rendering bisa memakan waktu antara beberapa menit hingga satu jam.
Untuk mendapatkan render 3D final dan mensimulasikan gerakan tubuh yang realistis, perekaman gerakan dilakukan di studio VFX Metaverse Entertainment.
Studio ini memungkinkan sutradara kamera untuk mewujudkan visi mereka dalam video musik.
Menurut Kim Ki-deuk, kepala departemen manusia virtual di Metaverse Entertainment, sebagian besar proses produksi bergantung pada teknologi 3D, bukan kecerdasan buatan (AI).
"Awalnya kami menggunakan AI, tetapi karena gambar generatif kadang bisa menimbulkan ketidaknyamanan, sekarang kami lebih mengandalkan teknologi 3D," jelas Kim.
"Kami memang menggunakan AI untuk membuat berbagai model, tapi tidak semuanya dibuat dengan AI."
Sekarang, setelah kita tahu bagaimana proses penciptaan idol virtual ini, mari kita bahas alasannya.
MENGAPA ADA IDOL VIRTUAL?
Di era ketika grup idol seperti BTS, Twice, NewJeans, dan Stray Kids masih berjaya dan mendatangkan keuntungan besar, konsep (dan biaya produksi) idol virtual mungkin terdengar berlebihan.
Namun, Kim bersikeras bahwa ada pasar untuk idol virtual.
"Alasan utama untuk memulai industri hiburan berbasis manusia virtual adalah pandemi COVID-19. Karena sulit bagi artis untuk tampil langsung, sehingga muncul permintaan baru," jelas Kim.
"Sementara generasi yang lebih tua mungkin lebih familiar dengan idol manusia, penggemar yang lebih muda, yang nyaman berkomunikasi secara online, sudah mulai menerima [konsep] idol virtual."
Hasilnya sudah terbukti. Lagu debut Mave telah mendapat lebih dari 30 juta views di YouTube, dan Plave memiliki salah satu album terlaris tahun ini.
"Pesona terbesar idol virtual adalah mereka tidak dibatasi oleh waktu dan ruang," tutur Kim.
"Mereka bisa menunjukkan berbagai penampilan di banyak tempat, yang membuat mereka semakin menarik."
"Ada juga hal-hal yang bisa dilakukan idol virtual yang tidak bisa dilakukan orang nyata, itulah sebabnya saya percaya mereka bisa lebih menarik," tambah Kim.
"Namun, karena yang terpenting bagi idol adalah menyebarkan energi positif kepada penggemar melalui musik dan penampilan, kami terus mempersiapkannya tanpa melupakan aspek ini."
Kami juga berbicara dengan Zena, vokalis dari Mave, untuk memahami seperti apa rasanya menjadi idol virtual.
Mungkin kamu bertanya, bagaimana cara mewawancarai seorang idol yang tidak nyata?
Nah, Zena "diperankan" oleh seorang artis asli yang identitasnya tetap anonim.
Pada hari wawancara, artis tersebut menjawab pertanyaan dari studio VFX Metaverse Entertainment melalui panggilan video pribadi dengan kami, sementara kamera mengubahnya menjadi Zena secara real time.
Bagi Zena, kebahagiaan terbesar sebagai idol virtual adalah dapat menampilkan sisi-sisi berbeda dari dirinya.
"Aku paling bahagia ketika bisa bernyanyi untuk dan terkoneksi dengan penggemarku," katanya.
Dia bersikeras bahwa tidak ada "perbedaan signifikan" antara idol virtual dan idol manusia seperti yang jamak diketahui selama ini.
"Sebagai idol virtual, aku bersyukur bahwa penggemar kami mendukung dan mencintai kami dengan cara mereka sendiri, tanpa harus mengikuti budaya fandom lazimnya," jelasnya.
"Budaya idol memang beragam, dan kami memiliki penggemar dari berbagai negara."
Aku akan terus bekerja keras untuk memberikan yang terbaik bagi semua penggemar. Sekarang COVID-19 sudah mereda, aku ingin bertemu penggemar secara langsung dan berinteraksi dengan mereka di atas panggung," ungkapnya.
Tampaknya, sebagaimana idol pada umumnya, idol virtual juga selalu menerima umpan balik dari penggemar tentang berbagai hal.
"Penggemar suka dengan pakaian yang kami pakai di video musik, jadi aku mengenakan salah satu pakaian itu hari ini," kata Zena.
"Aku juga mempertimbangkan feedback dari penggemar dan mencerminkannya dalam pakaian kami," ungkapnya.
MASA DEPAN IDOL VIRTUAL
Ironisnya, meskipun idol virtual diciptakan untuk bertahan melawan waktu, tidak ada yang bisa memastikan apa yang akan terjadi di masa depan.
Saat ini, masa depan mereka tampaknya cerah dengan semakin banyak perusahaan besar yang bergabung dalam pasar.
Namun, dalam industri yang rentan terhadap perubahan terus-menerus (dan kritik), mungkin cara terbaik untuk menikmati konten idol virtual adalah dengan pikiran terbuka dan tanpa ekspektasi berlebihan.
Bagaimanapun, pada idol virtual ini tidak akan pernah menua.
📢 Ikuti kuis CNA Memahami Asia eksklusif di saluran WhatsApp CNA Indonesia. Ayo uji wawasanmu dan raih hadiah menariknya!
Jangan lupa, terus pantau saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk mendapatkan tautan kuisnya 👀
🔗 Cek info selengkapnya di sini: https://cna.asia/4dHRT3V