Dari ibu asuh jadi ibu angkat, perempuan di Singapura buktikan cinta bisa tumbuh tanpa syarat
Di usia 35 tahun, Nasrin Shah Beevi sudah membesarkan enam anak, meskipun tak ada satu pun yang lahir dari rahimnya. Anak-anak asuh yang datang dari latar belakang penuh luka inilah yang mengajarkannya arti menjadi ibu.
Nasrin Shah Beevi bersama putri angkatnya. (Foto: CNA/Aik Chen)
SINGAPURA: Saat ditanya ingin punya anak berapa, kebanyakan pasangan mungkin menjawab satu, dua, atau bahkan tidak ingin sama sekali.
Namun, Nasrin Shah Beevi, 35, telah membesarkan enam anak – dan ia belum berniat berhenti.
Tak satu pun dari anak-anak itu lahir dari rahimnya. Mereka anak-anak asuhnya. Ada yang ia rawat sejak bayi, ada pula yang ia asuh sejak usia praremaja.
Nasrin, seorang konselor, mengawali perjalanan pengasuhannya pada 2021, dua tahun setelah menikah dengan Nizamudheen Ishak, 52, seorang manajer TI.
Meski menyayangi semua anak asuhnya, Nasrin menyadari mereka hadir dalam hidupnya hanya sementara. Anak-anak ini ditempatkan dalam pengasuhan akibat kekerasan, penelantaran, ditinggalkan orang tua, atau karena orang tua mereka dipenjara, sakit, atau meninggal.
Kebanyakan akan kembali ke keluarga biologis mereka begitu situasi membaik – biasanya dalam beberapa bulan hingga tahun.
Namun, satu anak menetap bersama Nasrin. Sekitar dua tahun lalu, tepat menjelang Hari Ibu, ia menerima kabar ia bisa mengadopsi Nur (bukan nama sebenarnya), gadis kecil ceria berusia tiga tahun yang telah ia asuh selama beberapa waktu.
"Saya menangis. Rasanya seperti hadiah Hari Ibu untuk saya," kenangnya.
Sambil tertawa dan sesekali menitikkan air mata selama wawancara dengan CNA, Nasrin membagikan kisahnya yang luar biasa tentang menjadi seorang ibu.
MENJADI IBU DALAM SEKEJAP
Nasrin pertama kali mendengar tentang Nur lewat panggilan telepon. Beberapa hari kemudian, ia dan sang suami mengunjungi satu respite house – rumah penampungan sementara bagi anak-anak dalam situasi darurat atau yang pengasuhnya butuh waktu luang.
Membawa balon dan lolipop, Nasrin berjumpa dengan Nur untuk pertama kalinya.
Hal pertama yang Nasrin sadari adalah betapa kecil tubuh anak itu. Sebagian penyebabnya mungkin faktor genetik, tetapi menurut Nasrin Nur memang kurang gizi sejak bayi hingga balita.
"Tak ada yang percaya usianya tiga setengah tahun. Orang-orang saat itu bakal mengira umurnya baru dua tahun," ujarnya.
Sejak awal, Nasrin diberi tahu bahwa anak ini kemungkinan bisa diadopsi. Namun, pihak pekerja sosial ingin terlebih dahulu melihat bagaimana Nur beradaptasi di bawah pengasuhan Nasrin dan Nizamudheen.
Saat itu, Nur sedang bermain dengan anak lain, enggan menoleh ke arah kedua calon pengasuhnya. Namun, ketika ia akhirnya ikut pulang bersama mereka, ia menggenggam tangan Nasrin tanpa berucap apa pun.
Selama beberapa hari berikutnya, Nur masih belum bicara kepada Nasrin. Ia hanya merespons dengan suara-suara nonverbal. Dengan Nizamudheen, ia sedikit lebih komunikatif, tetapi tetap sangat tertutup.
Nasrin diberi tahu, Nur cenderung lebih nyaman dengan sosok bapak, akibat sejarah penelantaran dan perpisahan emosional yang ia alami terutama dari figur perempuan.
Meskipun demikian, Nasrin juga sempat meragukan diri, apakah ada yang salah dengan caranya mengasuh.
Alih-alih menyerah, Nasrin terus berusaha membangun rasa percaya Nur, memberikan perhatian penuh dan kasih sayang tanpa syarat.
Perlahan tapi pasti, saat itu pun tiba. Dua pekan kemudian, Nur mulai merespons Nasrin, dan untuk pertama kalinya memanggilnya "mummy".
"Momen itu sangat indah – saat saya bisa menyentuh hatinya, dan ia mengakui kehadiran saya, menerima keberadaan saya," ujar Nasrin.
MERENGKUH MASA KANAK-KANAK SEUTUHNYA
Sulit membayangkan Nur tadinya pendiam dan diabaikan. Kini berusia enam tahun, ia telah menjadi anak ceriwis, senang berpendapat, serta penuh energi dan semangat hidup.
"Sepupu-sepupu saya bilang, dia bisa jadi pengacara hebat. Dia selalu berusaha menegosiasikan segala sesuatu sebaik mungkin," ujar Nasrin tertawa.
"Dia cerdas, pintar, supel, ceria, dan usil – semua orang menyayanginya."
Melihat perubahan positif yang dialami Nur, pekerja sosial pun memulai proses adopsi. Sehari setelah Hari Ibu tahun 2023, Nasrin dan suaminya menerima kabar gembira: Mereka secara hukum bisa mengadopsi Nur.
Pada Oktober 2024, proses adopsi selesai, dan Nur pun sah menjadi putri mereka.
Ikatan antara ibu dan anak ini begitu erat. "Saya belum pernah menerima kasih sayang sebesar ini dari seorang anak," ucap Nasrin dengan mata berkaca-kaca.
"Dia melompat, menempel, memeluk, dan menciumi kami. Meski kami tidak terikat darah, kasih sayangnya kepada kami luar biasa. Indah sekali," lanjut Nasrin.
"Tiap malam, sebelum tidur, kami berpelukan dan saling cium."
Keluarga ini senang bersepeda, membaca, membuat kerajinan tangan, dan bepergian bersama. "Tiap hari jadi kenangan yang berharga," ujar Nasrin.
TIPS MENJADI ORANG TUA ASUH
Berikut informasi dari PPIS Oasis, lembaga pengasuhan anak yang ditunjuk oleh Kementerian Pembangunan Sosial dan Keluarga (MSF) Singapura.
Tentang anak asuh:
• Usia: 0 hingga 18 tahun
• Lama pengasuhan: Beberapa bulan hingga beberapa tahun
• Peluang untuk diadopsi: Hanya jika tidak memungkinkan untuk kembali ke keluarga biologis
Kriteria kelayakan:
• Pasangan suami istri berusia minimal 25 tahun, stabil secara finansial, dan sehat secara medis
• Harus menyediakan lingkungan rumah yang aman bagi anak, termasuk jendela berteralis, dan tidak menerapkan hukuman fisik
Cara mendaftar:
• Ajukan permohonan melalui SG Cares
• Pasangan akan menjalani wawancara, survei rumah, dan pemeriksaan medis
• Wajib mengikuti sesi pelatihan
Dukungan bagi orang tua asuh:
• Tunjangan pengasuhan bulanan sekitar S$1.100 hingga S$1.500
• Kartu pembebasan biaya medis untuk anak di poliklinik atau rumah sakit umum
• Kunjungan berkala dari petugas pengasuhan tiap dua bulan atau lebih sering
• Layanan darurat 24 jam
HADIRKAN CINTA
Menyaksikan Nur tumbuh dan berkembang adalah pengalaman penuh keajaiban bagi Nasrin. Ia kian yakin, keluarga penuh kasih sayang dapat mengubah hidup seorang anak yang rentan.
Kepada CNA, Nasrin mengungkapkan bahwa ketertarikannya akan pengasuhan anak muncul sejak ia jadi konselor di lembaga layanan sosial di usia dua puluhan.
Di sana, ia menangani banyak anak yang berada dalam kondisi rentan.
Sang suami, relawan aktif yang bekerja dengan narapidana dan mantan narapidana, juga memiliki kepedulian besar terhadap orang-orang yang perlu dibantu.
Maka, tak lama setelah menikah, mereka sepakat memulai perjalanan sebagai orang tua asuh, tanpa terlalu memikirkan apakah mereka akan memiliki anak kandung atau tidak.
"Kami tidak saling membebani soal punya anak kandung. Kami membiarkan semuanya berjalan secara alami saja," kata Nasrin.
Setelah mengadopsi Nur, atas permintaan Nur sendiri, pasangan ini sempat mengasuh bayi berumur 13 bulan selama beberapa bulan. Nur saat itu ingin punya adik perempuan.
Itu pengalaman pertama Nasrin mengasuh bayi, karena sebelumnya anak-anak asuhnya berusia empat hingga sepuluh tahun.
Meski Nasrin merasa tertaut secara emosional dengan bayi itu dan pengalaman tersebut sangat berarti baginya, Nur sulit beradaptasi.
Bayi itu butuh perhatian penuh, dan Nur kehilangan waktu khusus yang dulu ia miliki bersama sang ibu. Nasrin bahkan sempat merasakan mum guilt.
Pasangan ini lantas menunda jadi orang tua asuh lagi. Mereka memilih menampung anak-anak yang membutuhkan untuk jangka pendek saja, selama beberapa hari.
Mereka berharap bisa mengasuh kembali beberapa tahun lagi, saat Nur lebih siap dan Nasrin lebih sanggup.
"Kami merasa, dengan transisi Nur dari anak asuh menjadi anak angkat, mungkin terlalu dini buat dia untuk jadi kakak. Semoga dalam beberapa tahun ke depan, ketika Nur sudah lebih dewasa, kami bisa melibatkannya dalam pengambilan keputusan (untuk mengasuh anak lagi atau tidak)," jelas Nasrin.
Mengenang pentingnya kehadiran rumah sementara bagi anak-anak dalam kondisi darurat, Nasrin tak bisa melupakan anak asuh pertamanya pada 2020 – seorang bocah laki-laki berusia empat tahun.
"Saya tidak akan pernah melupakan pengalaman itu. Pekerja sosial membawanya langsung dari rumah sakit, masih mengenakan baju rumah sakit dan tidak punya pakaian sehari-hari sama sekali," tutur Nasrin.
"Setelah tanda tangan perjanjian pengasuhan, saya dan suami bawa dia ke mal untuk beli baju baru. Kulitnya putih sekali dan penampilannya sangat berbeda dari kami," ungkapnya.
Waktu kami jalan sambil menggenggam tangannya, banyak mata tertuju ke kami. Saya membayangkan, seperti apa perasaannya," ujarnya, menahan air mata.
HADIR SEMENTARA, DI HATI SELAMANYA
Salah satu tantangan terbesar dalam pengasuhan anak adalah latar belakang mereka yang sangat beragam. Tiap anak memiliki karakter dan tahap perkembangan yang berbeda, ujar Nasrin.
Tantangan lain, menurut Nasrin: Sebesar apa pun kasih sayang yang Anda berikan, anak-anak asuhan hampir selalu akan meninggalkan Anda pada waktunya.
"Sejak awal, saya tahu perjalanan sebagai orang tua asuh bisa berakhir sewaktu-waktu. Itulah konsekuensi yang saya terima," kata Nasrin.
Ia menambahkan, pada anak angkat pun hal itu bisa saja terjadi. Menurut Nasrin, seiring Nur tumbuh dewasa dan mulai bertanya tentang ibu kandungnya, ia siap mendukung apabila suatu saat nanti putrinya memutuskan untuk mencari kedua orang tua kandungnya dan kembali kepada mereka.
"Kalau itu keputusannya, kami akan menjalani proses itu bersama-sama," ujarnya mantap.
Bagi Nasrin, tak penting apakah anak-anak itu berasal dari rahimnya atau dari jalur pengasuhan. Ia menyayangi Nur dan semua anak asuhnya seperti anak kandung sendiri.
Ia bahkan mengungkapkan jika anak-anak asuh lainnya dulu tak bisa kembali ke keluarga biologis mereka, ia tentu akan mengadopsi mereka.
"Suami saya pernah bilang ke satu pekerja sosial bahwa ia ingin punya foto keluarga besar bersama semua anak asuh kami dan memajangnya di dinding rumah suatu hari nanti," kata Nasrin, suaranya dipenuhi kehangatan.
Pohon keluarga tak lazim ini adalah impian yang sangat ia jaga dalam hatinya.
Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.