Hari Buku Sedunia: Scrolling medsos bisa nanti, ini 5 cara kembali fokus membaca buku
Mengapa kita merasa sulit meluangkan 30 menit untuk membaca, sementara 30 menit scrolling TikTok rasanya cuma sebentar? Di tengah serbuan teknologi yang serba cepat, membaca buku menjadi cara kita mengembalikan fokus pikiran.
Ilustrasi membaca buku sebagai hobi. (Foto: iStock/tapui)
JAKARTA: Hari Buku dan Hak Cipta Sedunia, atau lebih dikenal sebagai Hari Buku Sedunia, diperingati setiap tanggal 23 April. Inisiatif ini pertama kali digagas oleh UNESCO pada tahun 1995 sebagai kampanye global untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya membaca.
Tanggal 23 April dipilih sebagai hari peringatan karena bertepatan dengan wafatnya tiga tokoh sastra besar dunia: Miguel de Cervantes, William Shakespeare, dan Inca Garcilaso de la Vega. Menariknya, beberapa penulis ternama, termasuk Vladimir Nabokov, juga lahir pada tanggal ini.
Tapi, di tengah gempuran teknologi dan AI, apakah membaca buku masih relevan?
Kapan terakhir kali kamu memegang buku, apalagi mampir ke perpustakaan atau toko buku?
Kita hidup di era informasi tanpa batas, tapi perhatian kita semakin terbatas. Tiap scroll, swipe, dan notifikasi menyuguhkan hiburan instan yang tak berujung: dari tweet, reel, sampai konten buatan AI.
Popularitas konten digital berdurasi pendek secara perlahan menggerus kebiasaan membaca, yang sejatinya membutuhkan waktu dan fokus. Kita kini lebih sering mengirim pesan, berbagi unggahan, atau menonton video pendek daripada duduk tenang dengan sebuah buku.
Yang lebih mengkhawatirkan, platform digital kini dirancang untuk menciptakan ketagihan. Algoritma seperti milik TikTok akan terus menyarankan jenis konten yang sama, membentuk siklus berulang yang sulit diputus.
Meski menyenangkan, konten singkat bisa berdampak negatif terhadap kemampuan kita untuk berkonsentrasi dan membaca secara mendalam. Tanpa sadar, waktu kita terkuras — dan hasilnya? Minim.
Bahkan, banyak dari kita merasa tidak mampu menyisihkan 30 menit untuk membaca. Tapi anehnya, scrolling TikTok 30 menit terasa seperti cuma tiga detik. Rentang perhatian, terutama di kalangan Gen Z, sudah sangat tergerus.
"Membaca, pada akhirnya, memungkinkan kita memahami betapa kompleksnya dunia ini, dengan toleransi yang lebih besar,” ujar Leung Man Tao, kritikus budaya asal Hong Kong, dikutip dari Harbinger's Magazine.
Di tengah dunia yang dipenuhi konten kilat dan teks buatan mesin, membaca buku bukan sekadar nostalgia, tapi cara kita merebut kembali fokus, membangun pemikiran orisinal, dan menjaga sisi manusiawi di era otomatisasi.
Selain memberikan kenikmatan intelektual, membaca juga membawa manfaat kesehatan. Studi dari National Library of Medicine tahun 2016 menemukan bahwa mereka yang membaca buku rata-rata 30 menit per hari menunjukkan tingkat kelangsungan hidup yang lebih tinggi dibanding mereka yang tidak membaca sama sekali.
Jadi, bagaimana kita bisa berhenti doom-scrolling dan kembali menikmati buku?
Berikut lima cara sederhana untuk kembali fokus membaca buku:
1. JAUHKAN PONSELMU
"Kalau kamu mau duduk membaca buku, letakkan ponselmu di tempat lain," kata Tanya Goodin, penggiat digital detox dan penulis My Brain Has Too Many Tabs Open.
"Taruh ponselmu di ruangan lain sehingga tak bisa kamu lihat, jangan hanya mengandalkan self-control," lanjutnya, dikutip dari The Guardian.
Langkah ini juga disarankan oleh Cal Newport, pakar produktivitas dan penulis buku-buku bestseller seperti Digital Minimalism, Deep Work dan Slow Productivity.
Newport setuju bahwa dengan kita "tidak bisa melihat" ponsel, maka kita "tidak akan memikirkannya."
"Di rumah, simpan ponselmu di suatu tempat yang didedikasikan khusus. Kalau kamu butuh mengecek sesuatu, datanglah ke tempat itu," katanya.
Jika ponselmu tidak ada di sampingmu, maka "saat membaca dan kamu mulai bosan, kamu akan lebih mudah bertahan" dan terus membaca.
2. BACA BUKU FISIK DAN MENCATAT
Penulis dan pembawa acara The Big Scottish Book Club, Damian Barr, menyarankan agar kita selalu membawa buku ke mana pun.
"Kalau saya tidak bawa buku, ya saya tidak bisa baca. Buku selalu kalah kalau bersaing dengan media sosial di ponsel, jadi saya butuh buku kertas," ujarnya.
Ia juga membatasi media sosial dengan menggunakan aplikasi pemblokir, "yang bisa membuat saya tersadar berapa banyak waktu yang saya habiskan" di media sosial.
Sementara itu, penulis dan dosen Sastra Inggris di King’s College London, Lara Feigel, mengungkapkan mahasiswanya kerap kesulitan menyelesaikan bacaan.
"Saya minta mereka membeli salinan fisik buku, bukan baca online," katanya, "dan membuat catatan tangan di buku — kadang saya minta mereka bawa bukunya dan tunjukkan bagian yang digarisbawahi atau dicoret-coret."
"Buku adalah bagian dari kenikmatan membaca," kata Goodin. "Saya suka membuka buku baru, mencium baunya, dan merentangkan sampulnya. Ini bisa lebih menyenangkan ketimbang melihat layar."
3. MELATIH ULANG OTAK
"Membaca itu seperti lari maraton, bukan lari sprint,” kata Daisy Buchanan, pembawa acara podcast You’re Booked dan penulis buku berjudul Read Yourself Happy.
"Seperti olahraga, membaca dulunya datang secara alami saat kecil, tapi sekarang kita dibombardir oleh distraksi digital. Mulailah dari luangkan waktu sejenak, lalu tingkatkan perlahan."
Sementara, Goodin menyarankan menetapkan target membaca, misalnya 10 halaman setiap hari.
4. WAKTU DAN TEMPAT MEMBACA
Bagi Buchanan, waktu membaca buku terbaik adalah pada pagi hari.
"Saat bangun tidur, otak saya dipenuhi kecemasan. Kalau saya berusaha membaca dulu sebelum memegang ponsel, buku bisa memberi informasi yang dibutuhkan otak saya, memperlambat ritme dan memberi fokus."
5. BACA BUKU BUKAN BEBAN
Buchanan menyarankan agar kita "memulai dari buku-buku yang menyenangkan dan memberi kegembiraan, baru nanti lanjut ke yang menantang."
Saat pikiran dan fokusnya "tersandera" oleh ponsel, Buchanan kembali ke buku-buku masa kecil seperti karya Judy Blume untuk menyalakan kembali kecintaan pada kebiasaan membaca buku.
"Kita tak akan membaca buku jika kita merasa itu harus dilakukan," tuturnya.
Bergabung dengan klub buku bisa memotivasimu menyelesaikan bacaan, kata Goodin.
Ia juga menyarankan untuk kembali mengunjungi perpustakaan sebagai tempat mencari inspirasi.
Jadi, daripada terus-terusan scrolling sampai jempol pegal, mengapa tidak membaca kembali buku favoritmu?
Di Hari Buku Sedunia ini, yuk beri hadiah kecil untuk otak dan jiwa — cukup dengan membaca satu bab saja. Siapa tahu, dari satu bab bisa jadi satu buku, lalu bisa menjadi kebiasaan baru yang menambah wawasan dan bikin waktu luang makin bermakna.
Selamat membaca dan merayakan Hari Buku Sedunia!
Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.