'Tak ada selebrasi di tengah kecamuk perang': Han Kang tolak rayakan Nobel Sastra yang diraihnya
"Swedish Academy tidak memberikan penghargaan ini untuk kita rayakan, tetapi agar kita dapat berpikir lebih jernih," ungkap penulis perempuan Asia pertama yang meraih penghargaan Nobel Sastra ini.
Penulis pemenang Hadiah Nobel Han Kang berbicara tentang We Do Not Part, novelnya yang memenangkan Prix Medicis tahun lalu untuk sastra asing di Prancis, dalam sebuah konferensi pers di Seoul, 14 November 2023. (Foto: Yonhanp via Reuters)
Han Kang, penulis Korea Selatan pertama yang memenangkan Nobel Sastra, menolak mengadakan konferensi pers dengan alasan dunia saat ini tengah dilanda peperangan, baik konflik di Ukraina-Rusia, maupun perang Israel-Palestina.
SIAPAKAH HAN KANG?
Han Kang dikenal lewat karya-karyanya yang berani dan provokatif dalam mengeksplorasi kedalaman kekerasan manusia dan dampaknya terhadap identitas.
Ia diganjar penghargaan Nobel di bidang Sastra pada Kamis (10/10), menjadikannya perempuan Asia pertama yang menerima penghargaan sastra bergengsi tersebut.
Badan pemberi penghargaan Nobel, Swedish Academy, mengungkapkan penghargaan Nobel ini merupakan apresiasi atas "prosa puitisnya yang intens yang mengupas trauma sejarah dan mengekspos kerapuhan hidup manusia".
Penghargaan ini bernilai 11 juta krona Swedia, atau sekitar Rp16,5 miliar.
"Dia memiliki kesadaran unik tentang hubungan antara tubuh dan jiwa, antara yang hidup dan yang mati, dan dengan gaya puitis serta eksperimentalnya, dia menjadi seorang pionir prosa kontemporer," ungkap ketua Komite Nobel Akademi Anders Olsson dalam penyataannya.
Han Kang dikenal melalui karyanya yang sureal dan kerap kali bercerita tentang kedukaan, seperti The Vegetarian (2007), Greek Lessons (2011), Human Acts (2014), dan We Do Not Part (2021).
Novel The Vegetarian memenangkan International Booker Prize tahun 2016 dan diterjemahkan ke 23 bahasa, termasuk Bahasa Indonesia, yang diterbitkan oleh Penerbit Baca.
MENOLAK PERAYAAN
Alih-alih merayakan pencapaiannya, Han Kang mengaku tidak akan melakukan selebrasi apa pun, bahkan juga tidak akan menggelar konferensi pers terkait penghargaan Nobel yang diterimanya.
Ayah Han Kang, novelis terkenal Han Seung-won, 85, mengungkapkan hal ini dalam konferensi pers di Sekolah Sastra Han Seung-won di Jangheung, Provinsi Jeolla Selatan, Korsel.
"(Han Kang) menyampaikan, 'Dengan perang yang semakin berkecamuk dan orang-orang terus berguguran setiap hari, bagaimana kita bisa mengadakan selebrasi atau konferensi pers?' Ia tidak akan mengadakan konferensi pers," ungkap sang ayah, dikutip dari Korea Times.
Setelah Penghargaan Nobel Sastra diumumkan pada Kamis (10/10) malam, sang ayah mengungkapkan ia mengusulkan kepada putrinya agar memilih penerbit untuk mengadakan konferensi pers.
Awalnya, Han Kang setuju dan mengatakan akan "mencobanya," namun berubah pikiran pada malam harinya.
"Perspektifnya sudah berubah dari seorang penulis yang tinggal di Korea menjadi penulis dengan kesadaran global. Namun, saya masih merasa seperti seorang ayah dari penerima penghargaan yang tinggal di Korea, jadi akhirnya saya yang mengatur konferensi pers ini," ujar Han Seung-won menambahkan.
Han Kang juga melarang ayahnya mengadakan pesta perayaan di sekolah sastra tersebut.
"Saya berencana mengadakan pesta di sini untuk masyarakat setempat, tetapi putri saya meminta saya untuk tidak melakukannya. Ia bilang, 'Tolong jangan merayakannya di tengah peristiwa tragis ini (merujuk pada dua perang)," ungkap sang ayah menirukan pesan Han Kang.
"'Swedish Academy tidak memberikan penghargaan ini untuk kita rayakan, tetapi agar kita dapat berpikir lebih jernih.' Setelah mendengar itu, saya merasa sangat terganggu," kata Han Seung-won.
Setelah menerima kabar penghargaannya melalui telepon dengan komite Nobel pada Kamis, Han Kang mengungkapkan bahwa dia "sangat terkejut dan merasa terhormat," tetapi belum memberikan pernyataan lebih lanjut.
Beberapa penerbit, termasuk Changbi Publishers yang menerbitkan novel terkenalnya seperti Human Acts dan The Vegetarian, serta Munhakdongne Publishing yang menerbitkan kumpulan puisinya dan novel The Wind Is Blowing, ingin mengadakan konferensi pers.
Namun hingga Jumat (11/10) sore, Han Kang tetap tidak bergeming.
Han Kang lahir di Gwangju pada 1970, dan pindah ke Seoul pada usia 9 tahun, hanya beberapa bulan sebelum peristiwa Pemberontakan Gwangju 1980 yang menewaskan 2.000 korban.
Meskipun Han tidak menyaksikan langsung kekerasan brutal junta militer terhadap demonstran pro-demokrasi itu, sebuah foto yang dibagikan ayahnya tentang penindasan tersebut meninggalkan kesan mendalam pada pemahamannya tentang kemanusiaan.
Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel CNA.id dengan klik tautan ini.