Hamil 7 bulan, pilot Hercules Singapura ini taklukkan puncak tertinggi Norwegia
Ketika teman-temannya mengetahui Fiona Lee hamil, mereka meminta ia menunda karier penerbangannya dan berhenti bertualang. Tidak menggubrisnya, Fiona tetap mendaki tiga puncak tertinggi di Norwegia – Kjerag, Pulpit Rock dan Trolltunga – saat hamil trimester kedua, menempuh jarak 47km dan mencapai ketinggian 2.200m.
Mendekati usia kehamilan tujuh bulan, Fiona Lee mendaki bebatuan menakjubkan di Norwegia, salah satunya Kjeragbolten, bongkahan batu besar yang terkenal di Gunung Kjerag, dengan ketinggian hampir 1.000 dari teluk ngarai di bawahnya. (Foto: Fiona Lee)
SINGAPURA: Sebelum akhirnya saya bisa menemui Fiona Lee pada Senin pagi, wawancara kami sempat tertunda dua kali.
Baru-baru ini, ia mengalami mastitis parah, atau infeksi pada payudara yang menyakitkan akibat tersumbatnya saluran air susu. Peradangan ini menyebabkan rasa sakit yang berdenyut, penumpukan nanah, serta gejala demam dan menggigil. Dokter sudah membersihkan semua nanah yang menumpuk, dan Lee sedang menjalani pengobatan antibiotik yang kerap membuatnya mual.
Meski begitu, tak satupun dari gerak-geriknya memperlihatkan bahwa ia baru saja melewati cobaan yang berat.
Ibu muda tersebut tampak semringah dan bersemangat, bahkan sudah melakukan persiapan untuk berwisata kemping ke Selandia Baru. Ia akan menjelajahi Pulau Selatan dan mendaki Roy's Peak bersama suami dan anaknya yang berusia lima bulan.
Ini menjadi perjalanan yang sempurna untuk melanjutkan petualangan pendakian yang tidak biasa tahun lalu.
Ketika itu, Fiona yang tengah hamil tujuh bulan mendaki tiga formasi batuan ikonik di Norwegia, yakni Kjerag, Pulpit Rock dan Trolltunga.
Wanita 31 tahun itu berhasil mencapai ketinggian 2.200m dan mengarungi perjalanan sepanjang 47km, melewati badai salju, angin kencang, dan juga cuaca dingin yang menusuk, sambil mengandung si kecil.
MENAKLUKKAN KETINGGIAN BARU
Akhir trimester kedua bisa menjadi masa kehamilan yang melelahkan bagi banyak wanita. Seiring bayi yang berkembang, tekanan pada tubuh ibu bayi semakin bertambah, membuat kegiatan sehari-hari, seperti menaiki tangga, terasa semakin melelahkan.
Jadi, apa sebenarnya yang mendorong tekad Fiona untuk mendaki formasi batuan yang amat gahar?
"Karena saya merasa jati diri saya hilang," jawabnya.
"Setelah saya hamil, saya senang karena saya ingin sekali punya bayi," kenangnya. "Ibu saya tahun lalu mendapat diagnosis kanker, dan dia selalu ingin cucu, jadi saya juga mau segera mengandung."
Fiona, bagaimanapun juga, cinta dengan pekerjaannya. Sebagai salah satu dari pilot wanita di Angkatan Udara Republik Singapura, di mana banyak calon perwira gagal melewati pelatihan yang sangat berat, ia bekerja keras untuk lulus sebagai salah satu yang terbaik di angkatannya.
Awalnya, ia disalurkan untuk menerbangkan pesawat tempur. Akan tetapi, ia tertarik pada misi kemanusiaan, sehingga ia beralih ke bagian transportasi militer.
Pesawat yang ia kemudikan, C-130 Hercules, merupakan pesawat tangguh yang mengangkut kargo dan pasukan penting ke tempat terpencil atau menantang. Seringkali, ia harus menerbangkannya dari landasan pacu yang pendek atau seadanya.
Karena kehamilannya, ia harus menunda penerbangan demi keselamatan. Ia juga meminta untuk ditugaskan di bagian unit pelatihan saja.
Namun begitu, Fiona khawatir ia tidak mampu kembali ke divisi penerbangan setelah melahirkan. Ketika ia pertama kali menceritakan kepada rekan-rekannya tentang keinginannya untuk mempunyai anak, ia mendapati berbagai penolakan.
Hal ini membuatnya pilu. Sehingga, ketika ia mengetahui dirinya hamil, ia tidak memberitahu siapa-siapa, kecuali atasan langsungnya dan satu mentor wanita. Selama berbulan-bulan, ia berusaha menyembunyikan perutnya yang semakin membesar di balik seragamnya yang terasa semakin sempit.
Fiona mulai mengalami bercak darah saat bulan kedua hingga ketiga kehamilannya, memicu kekhawatiran akan keguguran. Ia juga kerap mengalami mual dan muntah setiap pagi saat trimester pertama.
Teman-temannya dengan niat baik memberitahunya: "Kamu nanti tak bisa sebebas dulu lagi. Kamu tak bisa ini, kamu tak bisa itu, kamu tak bisa jet ski, kamu tak bisa terbang, kamu tak bisa bawa motor, kamu tak bisa mendaki," terangnya.
Sebagai orang yang ambisius, Fiona benci merasa lemah, rapuh, atau kehilangan kendali.
Ketika rasa mual di pagi hari mereda di trimester keduanya, ia teringat pernah merasa "very sian", atau frustrasi.
"Saya merasa tak bisa berbuat apa-apa. Tidak berdaya," katanya.
Pada saat itulah, Fiona memutuskan jikapun ia tak dapat kembali terbang di langit, ia akan raih ketinggian yang baru dengan berjalan kaki. Dia akan mendaki.
"Ada sedikit rasa ingin berontak dalam diri saya untuk membuktikan diri bahwa saya benar dan orang lain salah. Saya ingin menguatkan keyakinan bahwa saya masih bisa meraih sesuatu jika sungguh-sungguh," renungnya.
BABYMOON TIDAK BIASA
Begitulah cara Fiona meyakinkan suaminya, seorang insinyur piranti lunak, untuk memulai petualangan mendakinya yang ambisius.
Keduanya memilih untuk mendaki "Big Three" di Norwegia, yaitu Kjerag, Pulpit Rock dan Trolltunga.
Jalur pendakiannya penuh dengan pemandangan menakjubkan dan sulit dilakukan bahkan oleh mereka yang tidak sedang hamil. Dari ketiganya, pendakian terpanjang adalah Trolltunga, dengan perjalanan hingga 28 km dan ketinggian 1.180 meter di atas permukaan laut. Yang paling menantang adalah Kjerag. Perjalananannya 12km dan penuh dengan tanjakan dan lereng yang curam, membuat pendaki wajib menggunakan rantai untuk keselamatan.
Pasangan tersebut merasa infrastruktur dan tenda darurat di sepanjang jalan pendakian memberikan jaminan keselamatan yang penting. Tenda-tenda ini menawarkan tempat berlindung, pertolongan pertama (P3K), dan juga persediaan lainnya.
Pasangan itu sudah mempelajari lokasi tempat perlindungan dan cara menggunakan kotak P3K. Mereka juga sudah menyelami media sosial untuk mendapat gambaran medan pendakian serta mengikuti perkembangan kondisi jalan dan cuaca di sana.
Mereka berlatih di Bukit Timah Hill. Mereka mendaki sekali, dua kali, tiga kali, hingga empat kali berturut-turut dalam satu sesi. Mereka juga menapaki Waduk MacRitchie, Taman Alam Chestnut dan Taman Alam Peternakan Sapi Perah.
Setelah persiapan panjang selama dua bulan, termasuk satu bulan pelatihan dan 23 jam penerbangan dengan mata merah, pasangan tersebut tiba di Norwegia Juni tahun lalu, untuk melakukan perjalanan selama 10 hari, termasuk istirahat di sela-sela pendakian.
Karena saat itu cuaca sedang baik, mereka memutuskan untuk menaklukkan formasi batuan tercuram dari ketiganya, Kjerag, di keesokan harinya.
Medannya menanjak dengan kemiringan 29 persen ke puncak, dan pada saat itu, berat badan Fiona sudah bertambah sekitar 6-7 kg karena hamil.
Strateginya: Perlahan, tapi pasti.
"Karena ini musim panas dan matahari tidak terbenam sempurna, kami jalani dengan santai saja. Kebanyakan orang akan bangun jam 6 hingga 7 pagi untuk mendaki. Kami cukup tidur sampai jam 12 siang lewat, biar tidak kecapekan dan tidak terburu-buru sama sekali," ia terkekeh.
Fiona juga menggunakan tongkat mendaki agar bisa seimbang, mengingat perut besarnya dapat mengubah pusat gravitasinya.
Yang membuat Fiona khawatir hanya tergelincir saat turun. Untuk meminimalkan risiko, ia duduk dan meluncur setengah jalan ke bawah. Karena tidak ada yang mengetahui dirinya tengah hamil, pendaki lain hanya mengira ia seorang noob (pemula), dan ia pun tertawa.
Satu hal di luar dugaan Fiona adalah cuaca di daratan selalu berubah-ubah. Kendati sudah memantaunya dengan cermat, mereka terjebak dalam badai petir di tengah pendakian di Trolltunga. Suhu jatuh hingga -5 derajat Celsius.
"Rasanya hampir seperti badai salju. Kami terus mendaki melawan hembusan angin. Hujan dan salju meluncur begitu deras dan cepat. Jarak pandang kami barangkali hanya 10 sampai 15 meter saja," ingatnya.
Terlepas dari kesulitannya, Fiona menyebut pengalamannya mendaki di tengah badai salju seperti mimpi.
"Semua tampak putih di antara bebatuan dan tebing yang kehitaman. Saya memasukkan tangan ke saku jaket, menikmati pemandangan, kemudian menoleh ke arah suami saya dan tersenyum. Rasanya hangat, nyaman, dan menenangkan berada di sisi satu sama lain, saling menghibur di tengah cuaca dingin yang menusuk," ia berkata.
Pasangan itu berlindung di dalam tenda darurat saat badai sebelum akhirnya berhasil mencapai puncak. Mereka terpesona akan keindahannya.
"Pemandangan di Norwegia benar-benar luar biasa. Ada tebing, ngarai dan puncak gunung. Perjalanan ke sana bersama suami, mengetahui ini akan jadi terakhir kali kami melakukannya berdua sebelum anak ini lahir, rasanya cukup manis-getir," ujarnya.
PETUALANGAN BARU DIMULAI
Tak lama setelah perjalanannya, atasan Fiona menerima kabar kehamilannya dan ia sangat lega ketika mengetahui bahwa mereka sangat mendukungnya. Mereka menjamin bahwa kariernya tetap aman, dan ia tetap diperbolehkan terbang setelah melahirkan.
Pada September 2024, ia melahirkan bayi perempuan.
Di hari saya berbincang dengannya, ia sudah di akhir cuti melahirkan selama empat bulan dan belum bisa kembali terbang karena putrinya belum bisa beralih dari ASI ke susu botol.
Dengan dukungan dari atasannya, Fiona mengambil cuti tanpa bayaran selama setahun untuk menyusui dan menghabiskan waktu bersama bayinya.
"Ini keputusan yang sulit. Karena progres saya sudah membaik, menunda karier saya pada waktu-waktu seperti ini akan jadi kacau," ucapnya. Pilot berdedikasi satu ini menambahkan, dirinya berharap dapat terbang dan menjadi orang tua penuh waktu dalam waktu dekat.
Saat kami wawancara, ia juga sedang bersiap-siap untuk perjalanan keluar selanjutnya ke Selandia Baru dan pendakian ke Roy's Peak bersama buah hatinya.
Ia kemudian mengabarkan kalau ia berhasil mendaki lebih dari 1.000 meter bersama bayinya yang sudah menginjak lima bulan dengan berat 8kg. Perjalanan itu berlangsung selama delapan jam. Setiap dua hingga tiga jam, ia menyusui anaknya di jalan.
"Anak ini meninggalkan jejak kenangan poonami besar (ledakan popok yang berceceran) di Roy’s Peak, saat saya sedang menyusuinya di puncak ... ketika matahari sudah terbenam dan memasuki golden hour," katanya sambil tertawa.
Meski begitu, Fiona menyebutnya sebagai pengalaman yang spesial. Ia mengatakan: "Saya rasa dengan persiapan yang matang dan langkah-langkah yang tepat, sebenarnya sangat mungkin untuk tetap menjalani dan menikmati hidup seperti saat belum punya anak.
"Sebenarnya tidak ada alasan bagi kita untuk berkecil hati. Kita tidak perlu takut dengan apa yang akan datang. Petualangan tidak berakhir ketika kita punya bayi; justru petualangannya baru dimulai," pungkasnya.
Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.