Skip to main content
Iklan

Lifestyle

Model sneaker baru Gucci ‘Made in China’, tinggalkan tradisi produksi Italia

Langkah jenama mewah itu memproduksi sneaker baru di China dilakukan saat Gucci berupaya memulihkan penjualan dan merebut kembali konsumen kelas menengah yang mendambakan produk mewah.

Model sneaker baru Gucci ‘Made in China’, tinggalkan tradisi produksi Italia

Sebuah model sepatu sneaker Drip dari Gucci dipajang di sebuah toko Gucci di Paris, Prancis, pada 23 September 2026. (Foto: REUTERS/Abdul Saboor/Foto Arsip)

Gucci mulai menjual model sneaker mewah baru berlabel “Made in China”, meninggalkan tradisi produksinya di Italia. Sejumlah pengamat industri menilai, langkah ini berisiko menggerus citra kelas atas Gucci saat merek tersebut berupaya merebut kembali konsumen kelas menengah.

Langkah tersebut menunjukkan tantangan yang dihadapi desainer Gucci, Demna, yang harus menciptakan produk inovatif sekaligus mengendalikan biaya untuk menarik konsumen aspiratif, kelompok yang mencakup sebagian besar konsumen barang mewah dan lebih sensitif terhadap harga dibanding kalangan superkaya.

Demna akan memperkenalkan koleksi terbarunya dalam peragaan busana di Milan pada Jumat (25/9). Keberhasilannya sangat penting bagi induk Gucci, Kering, dan CEO Luca de Meo, yang mulai memimpin tahun lalu untuk membalikkan kinerja perusahaan, tetapi kenaikan harga saham pada awal masa kepemimpinannya telah sirna tahun ini.

Penjualan Gucci, merek andalan Kering, merosot hingga separuhnya dalam tiga tahun terakhir, menekan margin dan memaksa grup itu menutup puluhan gerai.

Seperti yang pernah dilakukannya saat memimpin Balenciaga, Demna menciptakan model sneaker futuristik bernama Drip. Menurut situs Gucci, sepatu itu berlabel “Made in China”. Reuters juga melihat model Drip yang dipajang di gerai Gucci di Paris dengan label serupa.

Gucci menjual sepatu sneaker baru yang diproduksi di China, melanggar tradisi manufaktur Italia yang selama ini dijunjung tinggi, seiring upaya jenama mewah ini untuk menarik kembali para pembeli. (Foto: Gucci)

Dalam pernyataan, Gucci mengatakan, Italia akan “selalu menjadi jantung model produksi dan identitas Gucci”, tetapi perusahaan memutuskan bekerja sama dengan produsen China, sebagaimana sebelumnya menggandeng pemasok Swiss dan Jepang untuk produk seperti jam tangan dan kacamata.

“Mitra yang dipilih memiliki keahlian teknologi dan kemampuan yang paling sesuai untuk mencapai standar performa dan kualitas yang kami inginkan,” kata Gucci.

Juru bicara Gucci mengatakan, tidak ada rencana lebih luas untuk memindahkan produksi Gucci ke luar Italia.

SNEAKER PERTAMA DEMNA UNTUK GUCCI

Sneaker Drip, yang disebut situs Gucci sebagai “sneaker pertama Demna untuk Gucci”, mulai dijual bulan lalu sebagai bagian dari koleksi Primavera sang desainer.

Dengan harga sekitar 800 euro (sekitar Rp16,3 juta) di Eropa dan US$1.000 di Amerika Serikat, Drip lebih murah daripada banyak sepatu Gucci lainnya, meski tetap masuk kategori barang mewah. Desain tanpa tali itu terbuat dari nilon, kanvas atau suede.

Drip berbeda dari sneaker Ace Gucci yang lebih tradisional, berbahan kulit putih dan bertali. Bentuknya yang menyerupai kaus kaki mengingatkan pada desain sneaker tebal Demna di Balenciaga yang populer sebagai streetwear pada akhir 2010-an.

Model sneaker slip-on kedua berbahan kulit dari koleksi Primavera yang sama juga berlabel “Made in China”, menurut situs Gucci. Juru bicara merek itu mengatakan, model tersebut diproduksi di China karena alasan teknis serupa terkait desain sepatu.

Semua sepatu Gucci lain yang mencantumkan label negara asal di situsnya dibuat di Italia.

China merupakan pusat produksi sneaker dunia dan para produsennya memiliki reputasi kuat di kalangan merek pasar massal maupun premium. Namun, sejumlah analis menilai keputusan Gucci meninggalkan label “Made in Italy” dapat memicu reaksi negatif.

“Kami menilai hal ini berpotensi menimbulkan ketegangan antara asal-usul produk dan posisi Gucci sebagai merek mewah yang ingin kembali mereka raih,” kata analis Berenberg dalam sebuah catatan.

Konsultan bisnis barang mewah yang berbasis di Milan, Simon Whitehouse, menyampaikannya dengan lebih lugas.

“Label Made in China tidak memberi kesan yang bagus,” katanya.

Dua sumber Kering mengatakan kepada Reuters bahwa Gucci juga mulai memangkas harga sejumlah produk tertentu, termasuk di China, sebagai bagian dari upaya merebut kembali pangsa pasar.

Analis Barclays Carole Madjo mengatakan, pemangkasan harga itu mengejutkan sebagian investor, yang kini semakin mencermati langkah lanjutan yang dapat memengaruhi citra Gucci di mata konsumen.

“Sebagian orang bertanya-tanya: apakah kami harus terus membeli Gucci jika harganya turun?” katanya. “Produk buatan China bisa semakin memicu perdebatan soal kesesuaian harga dengan nilai merek Gucci.”

Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.

Source: Reuters/ar(da)

Juga layak dibaca

Iklan
Iklan