Pengakuan Gen Z: Tampak mudah, tapi puasa media sosial itu sulit luar biasa
Berpuasa media sosial membuka jalan agar kita tidak berjam-jam terpaku pada ponsel dan sebaliknya, melakukan sesuatu yang lebih produktif dan bermakna.
Coba cek data di ponselmu, berapa lama kamu sudah menghabiskan waktu untuk berselancar di media sosial hari ini, baik itu untuk membuka Instagram, X, Facebook atau TikTok?
Dua jam? tiga jam? Enam jam? Bila jumlahnya sudah 8 jam, berarti lamanya kamu bermain media sosial sudah sama dengan lamanya kamu bekerja.
Terkadang, kita tidak tersadar kita sudah terlalu asyik berselancar di media sosial. Like sana, scroll sini. Nonton video pendek, membaca komentar-komentarnya sembari tidak lupa juga kami meninggalkan komentar sendiri.
Begitu terus, tanpa terasa aktivitas di media sosial sudah menyita berjam-jam dalam hidupmu.
Padahal, waktu yang kita habiskan di media sosial bisa kita alihkan untuk melakukan sesuatu yang lebih produktif dan bermakna. Bercengkrama dengan keluarga dan teman di dunia nyata misalnya, atau melakukan berbagai macam hobi.
Itulah alasannya semakin banyak orang yang kini mencoba berpuasa media sosial, atau bisa juga disebut puasa dopamin, hormon yang memberikan kita perasaan senang.
Namun, berpuasa media sosial tidak semudah yang kita kira. Salah satu Gen Z yang tinggal di Singapura, Taufiq Zalizan membagikan pengalamannya melalui tulisan di TODAY.
SULIT LUAR BIASA
Dalam tulisannya, Taufiq menjelaskan bahwa puasa dopamin dinilai menurunkan tingkat "ketergantungan" kita dari media sosial, dan membantu otak kita untuk mengatur ulang kebiasaan membuka media sosial.
Namun, menurut dr. Praveen Nair, konsultan senior di Raven Counselling and Consultancy Singapura, terdapat kesalahpahaman di masyarakat terkait dopamin, sehingga ada yang sampai harus berpuasa dari hormon tersebut.
Padahal, dopamin di otak tidak hanya dianggap sebagai hormon yang membuat candu, namun juga diperlukan dalam penguatan memori dan perilaku.
"Perlu dicatat bahwa mendapatkan dopamin bukanlah hal yang buruk. Orang lain bisa merasakan sensasi yang sama dari bermain tenis, misalnya, dibandingkan bermain video game," ujarnya.
Taufiq sendiri akhirnya mencoba puasa media sosial selama satu minggu. Setiap hari, dari jam 8 pagi hingga jam 8 malam, ia mengisi rutinitasnya dengan bekerja, berjalan kaki sebagai olahraga ringan di sela-selanya, menonton film, pergi karaoke dan juga segudang kegiatan lainnya.
Namun setelah di hari terakhir dan ia mengecek penggunaan ponselnya, hasilnya tetap sama: ia tetap saja menghabiskan berjam-jam bermain media sosial. Mengapa bisa begitu?
Ternyata, di sela-sela kegiatannya, setiap ada waktu luang, ia tidak luput "mengecek sebentar" media sosialnya.
Begitu juga di malam hari menjelang tidur, ia menghabiskan waktu untuk scrolling sana-sini, bahkan semakin lama karena seharian berkegiatan dan terlewat mengecek status teman-teman.
Ia bahkan sudah mengeset timer ketika berselancar di media sosial, namun itu pun tidak banyak membantu karena ia kerap mengeklik tombol "tunda" ketika diingatkan untuk berhenti membuka media sosial.
LANGKAH YANG TEPAT
Meskipun sulit, langkah Taufiq untuk mencoba berpuasa media sosial sudah tepat. Menurut dr. Nair, tidak apa-apa jika terasa sulit dan hasilnya belum terlihat "karena kita semua manusia".
Dr. Lim menguraikan empat alasan mengapa kita merasa sulit untuk menjauhkan diri media sosial:
1. Kita sudah terlalu biasa berselancar di media sosial, dan mengubah kebiasaan yang sudah terbentuk akan memakan waktu yang lama dan sulit.
2. Kita merasa senang saat menggunakan media sosial, yang memicu pelepasan hormon dopamin, dan otak kita akan selalu mencari cara untuk mendapatkan perasaan positif yang dihasilkan hormon ini.
3. Ponsel kita selalu dalam genggaman, sulit untuk menahan diri membuka media sosial.
4. Akan ada perasaan gelisah dan tidak nyaman ketika kita tidak tahu apa yang sedang terjadi, sedang trend, atau kabar orang-orang di lingkup sosial kita.
Jika kamu sudah melakukan sejumlah langkah yang sudah diambil Taufiq dalam berpuasa media sosial, tandanya kamu sudah di jalur yang benar. Hanya butuh kesabaran untuk membangun kebiasaan baru agar terlepas dari candu media sosial dan melakukan berbagai aktivitas bermakna dalam hidup.
Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel CNA.id dengan klik tautan ini.