Riset global: Laki-laki Gen Z makin konservatif, anggap istri harus taat pada suami
Di balik kesan modern anak muda, pandangan pria Gen Z tentang relasi dan peran gender ternyata tidak selalu progresif, bahkan lebih tradisional dibanding baby boomers.
Ilustrasi pekerjaan domestik yang tidak setara antara suami dan istri di rumah. Pria hanya bersantai sementara perempuan melakukan pekerjaan rumah. (Foto: iStock/champpixs)
Di tengah citra generasi paling terbuka dan progresif, laki-laki Gen Z justru menunjukkan kecenderungan pandangan yang lebih konservatif soal relasi. Survei global terbaru mengungkap sebagian besar pria Gen Z masih percaya istri harus taat pada suami, bahkan dalam tingkat yang lebih tinggi dibanding generasi baby boomers.
Survei global terhadap 23.000 responden menemukan bahwa hampir sepertiga laki-laki dan remaja Gen Z percaya bahwa seorang istri seharusnya mematuhi suaminya.
Survei tahunan terhadap responden berusia di atas 16 tahun ini dilakukan oleh Ipsos dan Global Institute for Women’s Leadership di King’s College London, Inggris.
Survei yang dilakukan di 29 negara, termasuk Inggris, Amerika Serikat, Brasil, Australia, dan India ini juga mengungkap bahwa 33 persen laki-laki Gen Z berpendapat suami seharusnya memiliki keputusan akhir dalam hal-hal penting.
Angka ini kontras dengan generasi lebih tua, di mana hanya 13 persen laki-laki yang setuju bahwa seorang istri harus selalu mematuhi suaminya. Di antara responden perempuan, hanya 18 persen Gen Z dan 6 persen baby boomers yang memiliki pendapat serupa.
Temuan ini menunjukkan adanya pergeseran pandangan bagi laki-laki generasi muda yang tidak selalu sejalan dengan citra progresif mereka.
Menurut laporan The Guardian pada awal Maret 2026, survei itu mengungkapkan bahwa laki-laki Gen Z (lahir 1997-2012) dua kali lebih mungkin dibanding laki-laki baby boomers (yang lahir 1946-1964) untuk memiliki pandangan tradisional soal pengambilan keputusan dalam pernikahan.
Baik laki-laki maupun perempuan di Indonesia (66 persen) dan Malaysia (60 persen) menjadi yang paling mungkin setuju dengan pernyataan tersebut, dibandingkan dengan 23 persen di AS dan 13 persen di Inggris.
Riset tahunan ini juga menunjukkan sejumlah perbedaan yang cukup tajam dalam keyakinan antar generasi laki-laki terkait peran gender, yakni di antaranya:
- Hampir seperempat (24 persen) laki-laki Gen Z percaya bahwa perempuan sebaiknya tidak terlihat terlalu mandiri atau terlalu mampu berdiri sendiri, dibandingkan dengan 12 persen laki-laki baby boomers.
- Pandangan terhadap norma seksual juga menunjukkan perbedaan mencolok antar generasi, dengan 21 persen laki-laki Gen Z berpendapat bahwa "perempuan sejati" seharusnya tidak pernah menginisiasi hubungan seksual, dibandingkan hanya 7 persen laki-laki baby boomers.
- Lebih dari setengah (59 persen) laki-laki Gen Z mengatakan bahwa para pria saat ini dituntut terlalu banyak hal untuk mendukung kesetaraan, dibandingkan dengan 45 persen laki-laki baby boomers. Bagi responden perempuan, angkanya masing-masing 41 persen dan 30 persen untuk dua generasi tersebut.
Namun anehnya, meski berpendapat perempuan tidak seharusnya terlihat terlalu mandiri, 41 persen pria Gen Z juga menilai bahwa perempuan yang memiliki karier sukses justru lebih menarik di mata laki-laki.
Profesor Heejung Chung, direktur Global Institute for Women’s Leadership sekaligus pemimpin riset ini, mengatakan bahwa masih ada tanda-tanda positif bahwa dukungan terhadap kesetaraan gender tetap kuat. Contohnya, sebagian besar responden sepakat bahwa seharusnya ada lebih banyak perempuan di pemerintahan.
"Saya pikir ada banyak keresahan, banyak ketakutan laki-laki kehilangan posisi sosial," kata Chung.
"Dan ada kekosongan yang diisi oleh narasi dan pendapat yang mencoba membenturkan antara laki-laki generasi muda dengan pandangan kesetaraan gender, dengan perempuan muda, bahkan dengan kaum migran," tuturnya.
Hasil survei ini juga menunjukkan bahwa laki-laki Gen Z memiliki ekspektasi yang lebih tradisional terhadap perilaku dan pilihan mereka sendiri, misalnya:
- Sebanyak 30 persen pria Gen Z percaya bahwa laki-laki seharusnya tidak mengatakan "aku mencintaimu" kepada teman mereka, dibandingkan dengan 20 persen laki-laki baby boomers dan 21 persen perempuan Gen Z.
- Sebanyak 21 persen laki-laki Gen Z percaya bahwa laki-laki yang terlibat dalam pengasuhan anak dianggap kurang maskulin dibandingkan mereka yang tidak terlibat. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan dengan 8 persen laki-laki baby boomers dan 14 persen perempuan Gen Z yang berpendapat serupa.
- Baik laki-laki maupun perempuan merasa bahwa perempuan memiliki lebih banyak pilihan dalam hal kencan dan hubungan (22 persen), peran dalam rumah tangga (24 persen), serta pakaian yang bisa mereka kenakan (34 persen). Sementara itu, laki-laki dianggap memiliki lebih banyak pilihan dalam hobi (18 persen) dan pekerjaan (39 persen).
Meski berpendapat perempuan tidak seharusnya terlihat terlalu mandiri, 41 persen pria Gen Z menilai bahwa perempuan yang memiliki karier sukses justru lebih menarik di mata laki-laki.
Ketua Global Institute for Women’s Leadership sekaligus mantan perdana menteri Australia, Julia Gillard, menilai hasil riset ini cukup mengkhawatirkan.
"Bukan hanya soal banyak pria Gen Z yang memberikan batasan terhadap perempuan, mereka juga membatasi diri mereka sendiri dalam norma gender yang sempit," ujarnya.
"Kita harus terus berupaya menghapus anggapan bahwa ini adalah situasi zero-sum, di mana hanya perempuan yang diuntungkan dari dunia yang setara secara gender," kata Gillard.
Sementara menurut Chung, faktor ekonomi bisa jadi berperan dalam kondisi ini. "Di generasi sebelumnya, laki-laki bisa, dalam istilah sosiologi, mengekspresikan maskulinitas melalui peran sebagai pencari nafkah, melalui kontribusi finansial mereka, seperti membeli rumah, menjadi penyedia dan pelindung."
"Sekarang, bagi banyak laki-laki generasi muda di seluruh dunia, peluang tersebut tidak semudah dulu. Jadi mereka mungkin merasa kehilangan peluang, dan tidak memiliki gambaran maskulinitas yang positif dan beragam," ujarnya.
Data ini juga menunjukkan adanya perbedaan antara pandangan pribadi soal peran gender di rumah dan ekspektasi dari masyarakat.
Di Inggris, hanya 14 persen responden yang secara pribadi merasa bahwa perempuan seharusnya mengambil sebagian besar tanggung jawab dalam pengasuhan anak.
Namun, sebaliknya, 43 persen responden berpendapat perempuan memang diharapkan untuk memikul tanggung jawab tersebut, baik secara sebagian besar atau sepenuhnya.