Kisah penuh haru lukisan sang ayah jadi gaun resepsi pernikahan Luna Maya
Luna mengenang mendiang ayahnya, yang wafat saat ia berusia 12 tahun, dengan mengenakan gaun yang terinspirasi dari lukisan terakhir peninggalannya. Gaun penuh makna itu kemudian diberikan sebagai hadiah kejutan untuk sang ibunda.
Luna Maya mengenakan salah satu gaun pada resepsi pernikahannya, yang terinsipirasi dari lukisan terakhir karya ayahnya, seniman lukis, Uut Bambang Sugeng. (Foto: Instagram/@lunamaya)
Pernikahan Luna Maya dan Maxime Bouttier masih menjadi buah bibir netizen Indonesia. Di momen bahagia itu, Luna Maya menghadirkan penghormatan penuh haru untuk almarhum sang ayah, Uut Bambang Sugeng, melalui sebuah gaun resepsi bermotifkan lukisan terakhir karya sang ayah, yang diberikan sebagai kejutan untuk ibunya, Desa Maya Waltaurd Maiyer.
Gaun dengan nuansa biru-hitam penuh payet itu dirancang oleh desainer ternama Indonesia, Yefta Gunawan. Desainnya sangat personal: motif pada kain tersebut terinspirasi dari lukisan terakhir sang ayah.
Dalam keterangan unggahannya di Instagram pada 13 Mei 2025, Luna menyebut busana ini sebagai "a gentle tribute, woven with longing and love."
Unggahan yang ia beri tagar pernikahannya, #MOONtotheMAX, itu segera menyita perhatian warganet, mendapatkan lebih dari 319 ribu likes dan ribuan komentar.
TAK KUASA MENAHAN TANGIS
Video itu juga memperlihatkan Luna berdiri anggun, diapit dua manekin yang menampilkan versi berbeda dari gaun spesial tersebut. Dalam salah satu bingkai, terlihat jelas lukisan asli karya sang ayah, yang menjadi dasar rancangan gaun.
Dalam video, Luna tampak tak kuasa menahan air mata saat sesi fitting gaun. "Dari (tahun) 95, I was twelve," ucap Luna ketika mengenang waktu kepergian sang ayah.
Menurut laporan Tempo, ayah Luna berpulang pada 28 November 1995 ketika Luna berusia 12 tahun.
Detail gaun itu pun penuh makna. Di bagian depan, tergambar wajah sang ayah dengan guratan tegas dan warna-warna emosional yang seolah menghidupkan kembali kenangan masa lalu.
Komposisi warna biru gelap dan bentuk artistik lukisan tersebut memberi kesan hangat dan menyentuh, menciptakan harmoni antara seni dan busana.
KEJUTAN UNTUK IBU
Tak hanya sebagai bentuk penghormatan kepada mendiang ayah, gaun tersebut juga dibuat sebagai kejutan untuk sang ibu, Desa Maya Waltaurd Maiyer.
"Jadi ini sebenarnya surprise for my mom. Dia pasti seneng banget. Dress-nya itu dibikin (dari) lukisan bapak," ujar Luna dalam video yang ia unggah.
Reaksi sang ibu tak kalah mengharukan. Dengan mata berkaca-kaca dan suara bergetar, ia berkata, "Can I wear?" yang langsung disambut sorakan meriah dari para tamu.
Ia terlihat bangga sekaligus terharu saat melihat lukisan suaminya kini hidup kembali dalam bentuk busana yang dikenakan putrinya di hari pernikahan.
Desainer Yefta Gunawan pun mendapatkan banyak pujian karena berhasil menerjemahkan emosi mendalam Luna menjadi sebuah karya seni yang bisa dikenakan.
Foto-foto proses perancangan menunjukkan Yefta dengan teliti menyusun potongan kain, seperti tengah merangkai ulang fragmen kenangan menjadi wujud nyata.
Sosok sang ayah, yang dulunya dikenal sebagai seniman lukis, kini abadi dalam setiap jengkal kain di gaun tersebut. Setiap goresan warna, setiap potret wajah di gaun itu, menyuarakan kisah dan perasaan yang hanya bisa dipahami oleh Luna Maya dan keluarganya.
Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.