Skip to main content
Iklan

Lifestyle

Gajinya sudah besar, tapi bule di Singapura ini jadi kurir makanan di waktu luang. Apa misinya?

Menjadi kurir makanan di waktu luang, Yann AitBachir mendapatkan Rp84 juta dalam 11 bulan dan menyumbangkan semuanya.

Gajinya sudah besar, tapi bule di Singapura ini jadi kurir makanan di waktu luang. Apa misinya?

Yann AitBachir, yang juga bekerja purnawaktu di industri teknologi, menghabiskan akhir pekannya menjadi kurir makanan GrabFood dan menyumbangkan semua penghasilannya ke badan amal. (Foto: CNA/Raj Nadarajan)

Singapura: Ketika tengah mengerjakan artikel tentang tantangan yang dihadapi oleh kurir makanan pada tahun lalu, saya meluangkan waktu pergi ke tempat istirahat di sejumlah mal perbelanjaan yang populer di sekitaran Singapura, dengan harapan bisa bertemu dengan kurir-kurir tersebut di waktu istirahat mereka.

Ketika pertama kali bertemu dengan Yann AitBachir di luar mal Paya Lebar Quarter, ia mengenakan pakaian biasa berupa kaos hitam polos dengan celana pendek dan helm hitam, serta tas kurir Grab hijau terang yang bertengger di belakang sepedanya. 

Yang mencuri perhatian saya adalah sosok AitBachir sendiri. Pria bule 43 tahun berkebangsaan Prancis itu sedang duduk di bangku luar, di tengah lautan kurir lokal yang sedang beristirahat.

Saya pun memulai obrolan singkat dengannya dan ternyata ia di sana sama seperti kurir lainnya menunggu pesanan makanan untuk diantar. Namun, ia tidak seperti yang lain. Ia di sana untuk menyumbang semua penghasilannya saat itu ke badan amal.

Obrolan kami tak lama terputus setelah suara 'ping' terdengar dari aplikasi Grabnya, menandakan masuk pesanan baru.
Pun, pertemuan itu membuat saya teringat-ingat. Saya terkesima melihat dirinya berkeliling mengantarkan nasi ayam dan makanan lainnya untuk menggalang dana amal di waktu luangnya.

SIANG HARI KERJA IT, MALAM HARI ANTAR MAKANAN

Kami akhirnya kembali berjumpa pada akhir November lalu dan saya bertanya apakah saya bisa mengikutinya selama jam berkeliling. 

Saya naik sepeda dan berusaha mengikutinya, mengajaknya mengobrol sembari menyusuri jalanan kota Katong.
Di bawah sinar sore hari, saya mendapati bahwa penduduk tetap Singapura ini ternyata memiliki pekerjaan penuh waktu sebagai spesialis kecerdasan buatan (AI) di Google.

"Sambilannya", yang ia mulai pada Februari tahun lalu, berawal dari keinginan untuk lebih aktif di luar pekerjaannya, yang tidak begitu menuntutnya untuk banyak bergerak.

Keputusannya untuk menjadikan kegiatan ini sebagai jalurnya untuk "beramal" membuatnya mendonasikan semua penghasilannya dari semua pesanan yang ia antarkan ke berbagai badan amal.

Antara Februari dan Desember tahun lalu, AitBachir berhasil mengumpulkan sekitar S$7,000 (Rp84 juta) dari target S$10,000 (Rp120 juta) yang awalnya ia tetapkan sendiri.

Ia kemudian menutupi yang kurang dengan tabungannya sendiri dan dari pemasukan lain. Akan tetapi, ia menolak mengungkap berapa banyak yang akhirnya ia donasikan ke badan amal pada tahun lalu. 

Tahun ini, ia berharap bisa menggalang S$10,000 (Rp120 juta) sepenuhnya dari pekerjaan kurir makanan ini.
Kendati ia menolak untuk memberitahu besaran gajinya, seorang warga bernama Joo Chiat menceritakan bahwa ia "seorang karyawan IT berpenghasilan tinggi". Hal ini membuatnya khawatir akan dirinya "tidak dapat berbaur" dengan masyarakat lokal setempat, terlebih ia juga seorang ekspatriat.

"Walaupun saya sudah berkecukupan, menjadi kurir Grab membuat saya merendah diri," terang AitBachir, yang sudah lama di Singapura sejak 2009. 

Melalui pekerjaan paruh waktunya, ia bersyukur ia bisa membina interaksi dengan masyarakat sekelilingnya, baik itu penduduk lokal dan lansia yang tinggal di jantung kota, serta kurir makanan lainnya.

"Ketika saya mengantar kiriman, saya jadi (semacam) pekerja garda terdepan dan benar-benar dapat berbaur dengan lingkungan Singapura yang mungkin tidak dapat saya lakukan dengan keseharian saya pada biasanya."

Pekerjaannya sebagai kurir makanan kerap menjadi "pemantik obrolan yang ampuh" di semua interaksi sosial yang ia jalin, ucap AitBachir yang menambahkan bahwa ia juga seringkali menerima dorongan semangat dari pelanggannya.

Meskipun awalnya beberapa temannya mengolok-olok usaha sampingannya, mereka berakhir menjadi suportif setelah mengetahui alasan mengapa ia melakukan hal itu.

"Ketika teman dan rekan kerja saya tahu kalau saya jadi kurir di hari libur, mereka mulai mengolok-olok, menanyakan apa uang dari pekerjaan tetap saya belum cukup juga. Tapi setelah saya jelaskan mengapa saya mengambil pekerjaan itu, saya menerima banyak dukungan semangat," ujarnya.

Mengingat betapa menantang dan melelahkan pekerjaan kurir secara fisik, AitBachir menerangkan bahwa mengambil kerja serabutan juga membantunya "kembali menghargai nilai dari uang".

"Kita tentunya tahu berapa tenaga yang harus dikeluarkan untuk mendapatkan S$20, S$25. Ketika kita punya gaji yang sangat besar, kita barangkali tak menyadari bahwa uang kita cepat sekali habis hingga ratusan dolar bila kita pergi ke restoran, minum, atau naik taksi (saat hari libur)."

Usai mengitari lalu lintas dan bersepeda bersama di bawah rintik hujan - yang, tak lama, disusul oleh matahari sore yang menyengat - saya perlahan mulai mengerti dengan apa yang ia maksud.

Karena harus mengejar waktu dari satu lokasi ke lokasi lain agar makanan sampai tepat waktu dan dalam kondisi utuh, saya memintanya untuk terus melaju supaya saya tidak memberatkannya dan memengaruhi ratingnya pada platformnya.

Rata-rata, AirBachir menghabiskan total sekitar sepuluh jam sepanjang akhir pekan mengantar makanan dan bahkan ia juga melakukannya pada hari kerja jika pekerjaan dan kehidupan keluarganya memungkinkan. 

Ia biasanya dapat mengumpulkan dana sebesar S$700 (Rp8,3 juta) hingga S$1.000 (Rp12 juta) per bulannya. Kadang, ia silih berganti menyumbangkan ke badan amal yang fokus pada pelestarian lingkungan dan memerangi kemiskinan.

Ketika ia mengantar makanan, ia juga meninggalkan catatan pada aplikasi Grab-nya, mengabarkan kalau ia bekerja untuk bersedekah.

Jika pelanggan memberinya uang tip, ia juga menambahnya dengan jumlah serupa dan mendonasikan semuanya.

Yann AitBachir, yang juga bekerja purnawaktu di industri teknologi, menghabiskan akhir pekannya menjadi kurir makanan GrabFood dan menyumbangkan semua penghasilannya ke badan amal. (Foto: CNA/Raj Nadarajan)

BERHUBUNGAN DENGAN PELANGGAN, MENGELUH DENGAN KURIR LAINNYA

Ketika ditanya perihal beberapa interaksi yang paling berkesan dari pekerjaannya, AitBacher mengenang satu momen ketika ia mengantarkan kue ulang tahun ke suatu unit apartemen di perumahan umum Bedok.

Kue itu dipesan oleh putri sang pemilik rumah yang sudah berusia 81 tahun, dan pada saat itu, ia sedang pergi ke luar negeri.

Sebagai bagian dari pesanannya, ia meminta kurirnya untuk mengucapkan "selamat ulang tahun yang ke-81" saat mengantarkan kue tersebut.

Ketika AitBachir sampai, pria tua itu sedang sendirian di apartemennya dan kemudian mengundangnya masuk ke dalam rumahnya serta menawarkannya potongan kuenya.

"Ada sepuluh menit saya habiskan (untuk mendengarkan) ia berbagi cerita tentang hidupnya," kenangnya.

Bagi beberapa staf di sejumlah gerai makanan, mereka masih belum terbiasa melihat keberadaan AitBachir.

"Kadang ketika saya masuk, mereka kaget melihat ada seorang bule, mereka kira saya pelanggan dan mengantar saya ke meja, bukannya memberikan saya makanan untuk diantar."

Ia juga harus belajar menghadapi pelanggan yang tidak puas selama bekerja, tersesat saat mengantar dan menghadapi cuaca tak menentu.

Terlepas dari semua ini, AitBachir mengatakan bahwa ia sangat menikmati bercengkerama dengan kurir lainnya, meskipun obrolannya kerap singkat dan sekilas. 

Ia menjelaskan bahwa banyak dari kurir tersebut juga terkejut karena ia ternyata sesama kurir.

"Mereka sering bertanya kenapa saya, seorang bule, mau bekerja seperti ini," ucapnya.

Selain itu, ia juga turut nimbrung dalam kegiatan favorit warga Singapura, yaitu mengeluh. 

"Pembahasan kami seringkali mengeluh tentang cuaca ekstrem – entah itu terlalu panaslah atau terlalu sering hujanlah," candanya.

Para kurir tersebut juga memberinya kiat-kiat mengambil jalan pintas melewati kawasan perumahan tertentu, seperti menggunakan pintu belakang atau jalur pejalan kaki supaya dapat mengantar pesanan lebih cepat.

Tiga jam membuntutinya dengan sepeda membuat saya terengah-engah. Saya sampai bertanya-tanya mengapa ia rela mengorbankan waktu luangnya untuk melakukan ini dan bagaimana pendapat keluarganya perihal pekerjaan sampingannya.

Sembari tertawa, ia menceritakan tentang anak-anaknya yang berusia 13 dan 10 tahun bahwa "kadang mereka senang saya melakukan ini, supaya saya tidak terus-terusan merecoki mereka soal tugas sekolah."

Ia menjelaskan bahwa istrinya juga paham akan waktu yang ia habiskan untuk mengantar kiriman, mengingat ia menjalankan bisnisnya sendiri dan tidak mengikuti jam kerja pada biasanya.

Selain itu, AitBachir menceritakan bahwa mengambil pekerjaan tambahan ini telah membuatnya lebih cermat atas waktu yang dihabiskan dengan istri dan anaknya.

"Kami tahu kami tidak begitu menghabiskan banyak waktu bersama, jadi kami lebih fokus (memiliki) waktu berkualitas bersama sebagai keluarga."

Perihal hilangnya waktu luangnya sendiri, AitBachir menerangkan bahwa menjadi kurir sudah menjadi waktu "me time" sendiri karena ia bisa berolahraga dan mendengar podcast dan musik sembari menggayuh sepeda.

Hampir setahun penuh sejak ia pertama kali mulai melakukan jasa kurir ini, AitBachir mengungkapkan rasa syukurnya bisa menggalang lebih dari S$7.000 (Rp84 juta) pada tahun lalu dan dapat menyumbang lebih dari yang ia sisihkan dari pendapatan tahunannya sebesar S$2.000 (Rp24 juta) hingga S$3.000 (Rp36 juta).

"Saya selalu rutin menyumbang ke berbagai badan amal ... dan cukup sering menjadi relawan di Singapura. Ketika saya memutuskan untuk bekerja menjadi jasa kurir makanan, pekerjaan ini memberi saya ruang untuk berkontribusi lebih serta memberi saya tujuan hidup.

"Menjadi kurir Grab memberi saya gambaran sekilas tentang keragaman masyarakat Singapura, mulai dari mereka yang tinggal di rumah mewah hingga pasangan lansia di apartemen HDB.

"Setiap interaksi, betapa pun singkatnya, membuka peluang dan perspektif baru. Bertemu berbagai macam orang memperluas pandangan saya dan membantu pribadi saya tumbuh."

Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.

Source: CNA/da

Juga layak dibaca

Iklan
Iklan