Skip to main content
Iklan

Lifestyle

Curhatan perempuan dengan gaji lebih besar dari pasangan: Realita cinta dan finansial yang jarang terungkapkan

Uang bukan sekadar angka di rekening, tetapi juga mencerminkan nilai, pola pikir, dan dinamika kekuasaan dalam hubungan. Bagi sebagian perempuan, penghasilan yang lebih besar dari pasangan menghadirkan dilema unik antara isi hati dan realita ekonomi.

Curhatan perempuan dengan gaji lebih besar dari pasangan: Realita cinta dan finansial yang jarang terungkapkan
Pembahasan finansial dalam hubungan seringkali terkait dengan rasa kepercayaan, komunikasi, kesamaan nilai hidup, hingga kematangan emosional. (Foto: iStock/Ventz)

Tidak bisa dipungkiri, uang punya peran besar dalam fondasi hubungan yang sehat.

Bukan soal seberapa banyak isi rekening, tetapi proses "mencari uang" itu sendiri yang sering memunculkan topik-topik penting lain dalam menjalin hubungan, seperti kepercayaan, komunikasi, kesamaan nilai hidup, hingga kematangan emosional. 

"Aku tidak pernah punya pasangan yang lebih sukses secara finansial," aku Jo-anne Peng, perempuan berusia 46 tahun yang berprofesi sebagai business development manager dengan penghasilan S$18.000 (sekitar Rp212 juta) per bulan di Singapura. 

"Setiap kali memulai hubungan baru, aku selalu berpikir selama aku nyaman secara finansial, dan pasangan tidak meminta uang, maka semua akan baik-baik saja," kata ungkapnya. 

Dia tidak pernah menanyakan secara langsung berapa gaji pasangannya, tetapi menebak penghasilan mereka biasanya 30–50 persen lebih rendah.

Masalahnya, pola pikir ini membuat Jo-anne tidak pernah bergantung pada pasangan, tetapi lama-kelamaan ia merasa sulit untuk "menjadi perempuan" dalam hubungan.

“Seiring waktu, aku lupa bagaimana membawa sisi feminin ke dalam hubungan. Aku mengabaikan kebutuhan emosional, hanya berfokus pada hal-hal yang praktis, dan selalu saja, cinta itu lama-kelamaan memudar," ujarnya.

Kesuksesan finansial berbeda dengan kesamaan nilai finansial dalam sebuah hubungan. (Foto: iStock/Drazen_)

BUKAN DRAMA

Menurut psikolog utama di The Psychology Clinic, Aloysius Tay, perasaan Jo-anne sangat wajar.

"Jika satu pihak menanggung beban finansial yang lebih besar, mereka bisa mengalami kelelahan emosional karena di saat yang sama diharapkan mengurus rumah dan memenuhi kebutuhan emosional pasangan," jelasnya.

Beban ini juga dapat dirasakan laki-laki, tetapi perempuan sering mendapatkan tekanan tambahan untuk menjadi penyedia kebutuhan sekaligus menjadi pasangan yang penuh kasih sayang.

"Perempuan kerap terjebak dalam mode 'harus bisa menjadi segalanya'. Ini membuat mereka sulit rileks, merasa kurang didukung, atau sulit terhubung dengan emosi mereka sendiri," kata Tay.

KEAMANAN EMOSIONAL LEBIH PENTING DARI GAJI

Bagi Jessica Lim, communications manager berusia 41 tahun yang telah menjalin rumah tangga selama hampir 23 tahun, kesuksesan finansial berbeda dengan kesamaan nilai finansial.

"Yang lebih penting adalah kami memiliki nilai finansial yang sama. Misalnya, sikap terhadap pengeluaran dan menabung harus sejalan," jelasnya.

Meskipun gaji mereka berbeda, Jessica menganggap dirinya dan suami tetap seimbang berkat tingkat keamanan pekerjaan masing-masing.

"Di bidang pekerjaanku, PHK sering terjadi. Aku sudah dua kali terkena PHK, tetapi pekerjaan suami cukup stabil dan memberikan bonus yang layak. Jadi meskipun penghasilanku lebih tinggi, aku tahu aku bisa mengandalkan dia saat situasi tidak pasti," katanya.

Perempuan sering berperan sebagai penyedia kebutuhan sekaligus menjadi pasangan yang penuh kasih sayang. (Foto: iStock/SunnyVMD)

Sementara bagi Amy Ang, perempuan berusia 35 tahun yang bekerja di bidang finansial dengan gaji sekitar S$13.000 (sekitar Rp153 juta) per bulan di Singapura, laki-laki bisa menutupi kekurangan pendapatan dengan hal lain. 

"Aku lebih mencari keamanan emosional di tahap hidup saat ini," ujarnya.

Amy, yang saat ini masih lajang, merasa laki-laki yang sukses secara finansial kadang kurang siap berkomitmen pada satu perempuan. 

"Aku tidak masalah berpacaran dengan laki-laki yang berpenghasilan lebih rendah, selama tidak sampai membuatku harus mengubah gaya hidup," tuturnya. 

"Yang penting, dia memiliki rencana keuangan dan hidup sesuai dengan kemampuannya," tegasnya.

Tay dari The Psychology Clinic menekankan, kesuksesan sebuah hubungan bukan hanya bergantung pada besaran penghasilan. 

"Yang terpenting adalah rasa saling menghormati, kecerdasan emosional, dan kesamaan nilai," jelasnya. 

Tay menyebut bahwa hl yang paling penting adalah kesediaan bagi masing-masing pihak untuk berbagi tanggung jawab serta saling menghargai kontribusi masing-masing.

Di balik stigma bahwa perempuan berpenghasilan tinggi pasti "pilih-pilih" pasangan, mungkin mereka hanya sedang "melindungi diri". (Foto: iStock/staticnak1983)

SETARA SECARA FINANSIAL

Belakangan, media sosial sering membicarakan tentang "energi feminin" dan bagaimana perempuan perlu terhubung dengan sisi feminin mereka untuk berkembang dalam hubungan.

Tay mengatakan, hal ini memang memiliki dasar psikologis, tetapi intinya, siapa pun akan lebih merasa terpenuhi secara emosional jika tidak terbebani masalah finansial.

Jo-anne, yang baru bercerai, dengan tegas menyatakan bahwa untuk hubungan berikutnya, ia ingin pasangan yang setara atau lebih sukses secara finansial.

"Aku tidak butuh uang laki-laki, tetapi aku menginginkan laki-laki yang punya uang," tegasnya.

Bagi Jo-anne, uang adalah hasil dari kerja keras dalam membangun karier dan meninggalkan warisan untuk keturunan. 

"Aku ingin punya pasangan yang tahu rasanya khawatir tentang keamanan finansial, yang memahami kekhawatiranku tentang masa depan. Saat aku lelah, aku berharap ia ada untuk membantuku."

Baginya, uang bukan hanya simbol keamanan, kekuasaan, identitas, dan ego, tetapi juga mencerminkan pola pikir dan bagaimana pasangan dapat hadir secara efektif dalam hubungan.

Di Singapura, hypergamy (menikah dengan pasangan yang statusnya lebih tinggi) masih menjadi ekspektasi sosial. 

Namun, ketimbang memberi stigma bahwa perempuan berpenghasilan tinggi pasti "pilih-pilih" pasangan, kita perlu memahami bahwa mereka mungkin sedang "melindungi diri".

"Beberapa perempuan menganggap kesuksesan (finansial) mereka membuat mereka tidak dapat sukses dalam hubungan romantis," ungkap Tay. 

"Ketika mereka berpasangan dengan laki-laki yang kurang sukses (secara finansial), rasa tidak percaya diri laki-laki itu bisa berdampak buruk pada hubungan," tambahnya. 

Keyakinan bahwa laki-laki merasa terintimidasi oleh kesuksesan perempuan justru melemahkan posisi perempuan dalam dunia kencan. (Foto: iStock/Panupong Piewkleng)

Kenyataannya, mungkin tidak seburuk yang mereka pikirkan. Pelatih kencan, Hayley Quinn, menulis di situsnya bahwa bukan berarti laki-laki tidak menyukai perempuan sukses, hanya saja hal itu tidak menjadi prioritas utama mereka.

Menurutnya, keyakinan bahwa laki-laki merasa terintimidasi oleh kesuksesan perempuan justru melemahkan posisi perempuan dalam dunia kencan.

Ia menulis, meskipun banyak laki-laki tidak memiliki banyak uang di rekening, mereka juga tidak mendiskriminasi perempuan sukses. 

"Hubungan yang tepat memberi dukungan dan stabilitas yang kamu butuhkan untuk mencapai tujuan," kata pelatih kencan, yang TedX talk-nya berjudul Searching for Love to Escape Ourselves telah ditonton lebih dari 3 juta kali ini. 

Apa pun peran uang dalam menentukan kesuksesan hubungan, yang terpenting adalah menjalani setiap hubungan dengan keaslian diri, serta memastikan pasanganmu mendukung dan sejalan dengan visi hidupmu, bukan justru meruntuhkannya.

"Kesuksesan bukanlah hukuman. Bagaimana laki-laki, perempuan, dan masyarakat bereaksi terhadap kesuksesan itulah yang terasa seperti hukuman," tutup Tay.

Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.

Source: Others/ps

Juga layak dibaca

Iklan
Iklan