Muncul di foto shirtless Nicholas Saputra, Tangkahan ternyata spot travel hidden gem di Sumatera Utara
Menjelajahi Tangkahan, kamu bisa merasakan serunya rafting, memandikan gajah, hingga menyusuri Taman Nasional Gunung Leuser yang menyimpan pesona Goa Kalong, Air Panas Skucip, dan Air Terjun Namo Tangkahan. Paket lengkap keindahan alam!
Foto aktor Nicholas Saputra bertelanjang dada di kawasan Tangkahan, Sumatera Utara. (Foto: Instagram/@nicholassaputra)
Kawasan ekowisata Tangkahan di Sumatra Utara, menjadi sorotan publik menyusul foto telanjang dada (shirtless) yang diunggah aktor Nicholas Saputra di sebuah sungai di kawasan tersebut.
Unggahan di Instagram pada Rabu (21/5) yang kini sudah meraih lebih dari 230 ribu likes ini memperlihatkan Nicholas Saputra berdiri di aliran Sungai Batang Serangan, Langkahan. Foto itu memperlihatkan bintang Ada Apa Dengan Cinta? itu bertelanjang dada, dengan bagian tubuh dari pinggang ke bawah tertutupi air.
Hanya satu kalimat singkat yang ia sematkan: "2015 recreate #tangkahan," menandakan bahwa ini adalah kunjungan ulangnya setelah satu dekade.
Unggahan ini cukup langka dari seorang Nicholas Saputra, yang selama ini jarang mengekspos kehidupan pribadinya di media sosial.
Sebelumnya, ia hanya pernah membagikan foto jari bertintanya pada Pemilu 2019, yang kemudian ia hapus sehari setelahnya.
Unggahan yang langka itu pun langsung menuai respon netizen. "Astaga keindahan alam ini," tulis salah satu warganet di kolom komentar.
HIDDEN GEM DI SUMATERA UTARA
Komentar itu tidak salah memang, karena Tangkahan menawarkan alam yang sangat indah.
Terletak di Desa Namo Sialang, Kecamatan Batang Serangan, Kawasan ekowisata Tangkahan menjadi salah satu destinasi ekowisata unggulan Sumatra Utara.
Kawasan Tangkahan menawarkan pengalaman alam seperti rafting, memandikan gajah, hingga menjelajahi hutan Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL).
Sejumlah spot menarik seperti Goa Kalong, Air Panas Skucip, dan Air Terjun Namo Tangkahan bisa dijangkau oleh para wisatawan yang ingin menyatu dengan alam.
Namun siapa sangka, Tangkahan dulunya adalah "surga" bagi pembalak liar. Pada era 1990-an, wilayah ini menjadi korban eksploitasi hutan secara besar-besaran.
Pohon-pohon kayu keras ditebang dan dikirim lewat sungai, sementara sebagian lahan diubah menjadi kebun sawit monokultur. Upaya penegakan hukum kala itu sangat minim, dan mereka yang mencoba melawan sering dihadapkan pada ancaman serius, bahkan kehilangan nyawa.
Perubahan besar mulai terjadi pada 1998. Pertemuan antara aktivis lingkungan Muhammad Syukur "Sugeng" Al Fajar dan pegiat konservasi lokal, Raniun atau "Wak Yun", serta istrinya Jane Baker-Kassim, menjadi titik balik dalam sejarah kawasan ini.
"Taman nasional akan tetap seperti ini karena masyarakat sudah paham bahwa mereka perlu menjaga hutan. Mereka dapat keuntungan dari menjaga hutan, bukan dari menebangnya, tapi dari membiarkan turis datang," ujar Wak Yun, dalam laporan The Jakarta Post tahun 2024.
Kini, kawasan ini ramai diserbu ribuan wisatawan yang ingin menikmati alam indah dengan berbagai macam satwa liar.
"Selama dua minggu libur Idul Fitri tahun [2024] saja, ada 60.000 orang datang ke Tangkahan; susah dapat kamar di sini," tutur Baker-Kassim.
Keindahan alam Tangkahan juga turun diamini oleh Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni, yang mengunjungi kawasan ini pada Februari 2025
Menteri Antoni mengapresiasi masyarakat setempat yang mendukung transformasi Tangkahan, dari kawasan pembalakan liar kini menjadi destinasi wisata. Warga lokal pun kini menjadi garda terdepan pelestarian lingkungan.
"Dulu, Tangkahan menjadi korban dari illegal logging. Masyarakatnya pun dulu ikut menebang pohon di kaki Gunung Leuser ini. Namun, dengan kesadaran bersama, mereka kini menanam dan menjaga alam sehingga kawasan ini berubah menjadi ekowisata yang menarik," ujarnya, seperti dilaporkan Metro TV News.
Nicholas Saputra sendiri sempat menyoroti dampak saat pandemi COVID-19 terhadap kondisi ekonomi masyarakat sekitar yang kehilangan mata pencaharian akibat diberlakukannya pembatasan sosial.
"Ini berdampak sangat luas ke sisi ekonomi masyarakat, biasanya mereka jadi guide, berjualan, mereka membuat warung, tapi sudah hampir dua bulan wisatawan luar atau dalam negeri tidak bisa datang karena COVID-19," ujar Nico dalam laporan Liputan6.com pada 2020 lalu.
Nico beserta sejumlah pegiat lingkungan pun berinisiatif membuka donasi guna membantu penduduk setempat.
Menurutnya, masyarakat lokal adalah kunci keberhasilan konservasi, karena mereka yang hidup berdampingan dengan hutanlah yang bisa menjaganya dengan sepenuh hati.
Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.