ChatGPT kini bisa bantu kamu belanja online, ada fitur mirip Google Shopping
Bedanya, fitur belanja di ChatGPT menawarkan pengalaman yang lebih personal dan seru, seolah kamu dibantu asisten virtual yang paham seleramu.
Aplikasi mobile ChatGPT di antara aplikasi Google dan Bing. (Foto: iStock/Kenneth Cheung)
JAKARTA: Bingung memilih produk yang paling sesuai dengan keinginanmu saat belanja online? Tenang, sekarang kamu bisa minta bantuan ChatGPT.
Chatbot viral berbasis kecerdasan buatan (AI) ini baru saja meluncurkan fitur baru yang memungkinkan kamu mencari produk, membaca ulasan, sampai menemukan harga terbaik, layaknya menjelajah fitur Shopping pada pencarian di Google.
Bedanya, ChatGPT mengklaim fitur belanja mereka mengedepankan sentuhan yang lebih personal dan seru, agar pengalaman belanja kamu menjadi lebih gampang, seolah kamu punya asisten pribadi virtual yang tahu persis apa yang kamu suka.
Induk usaha ChatGPT, OpenAI mengumumkan fitur belanja ini pada Senin (29/4), yang membuat pengguna lebih mudah melihat harga, ulasan produk, serta menemukan tautan langsung untuk membeli rekomendasi produk yang dipersonalisasi.
Dalam pembaruannya, OpenAI menyebutkan bahwa tombol belanja untuk pencarian berbasis AI ini akan tersedia untuk semua pengguna, baik yang menggunakan ChatGPT dengan masuk ke akun mereka maupun tidak.
Namun, pengguna tidak akan melakukan proses checkout langsung di dalam ChatGPT; sebaliknya, mereka akan diarahkan ke situs merchant untuk menyelesaikan transaksi.
Dalam sesi demo prapeluncuran untuk WIRED, Adam Fry, pemimpin produk pencarian ChatGPT di OpenAI, menunjukkan bagaimana pengalaman pengguna baru ini bisa membantu pengguna yang sedang riset produk memutuskan mesin espresso atau kursi kantor mana yang akan dibeli.
Rekomendasi produk yang ditampilkan untuk calon pembeli didasarkan pada preferensi pengguna yang diingat oleh ChatGPT, serta ulasan produk yang diambil dari berbagai sumber di internet.
Fry mengungkapkan bahwa pengguna ChatGPT saat ini sudah melakukan lebih dari satu miliar pencarian web per minggu, dan banyak yang menggunakannya untuk riset berbagai kategori belanja seperti kecantikan, perlengkapan rumah, hingga elektronik.
Pengalaman belanja melalui ChatGPT ini memang serupa dengan Google Shopping. Dalam antarmuka keduanya, ketika pengguna mengklik gambar produk yang diingkan, berbagai pilihan merchant yang menjual produk itu akan muncul di sisi kanan layar, lengkap dengan tombol untuk menyelesaikan pembelian.
Namun, ada satu perbedaan besar antara berbelanja melalui ChatGPT dan Google untuk saat ini: hasil yang muncul dalam pencarian OpenAI bukan hasil berbayar, melainkan hasil organik.
"Ini bukan iklan," kata Fry. "Ini bukan konten sponsor."
Sementara beberapa rekomendasi produk yang muncul di Google Shopping memang dibayar oleh retailer agar muncul di daftar. Hal ini merupakan salah satu mekanisme yang digunakan Google untuk menentukan produk mana yang ditampilkan dalam hasil pencarian belanjanya.
Lalu, bagaimana ChatGPT memilih produk mana yang direkomendasikan? Kenapa item tertentu muncul lebih dulu saat pengguna mengetik permintaan?
"Pencariannya tidak berdasarkan algoritme tertentu," kata Fry.
Fry mengklaim pengalaman belanja di ChatGPT akan lebih bersifat personal dan berbentuk percakapan, bukan sekadar fokus pada kata kunci.
"ChatGPT mencoba memahami bagaimana orang mereview produk ini, bagaimana mereka membicarakannya, apa kelebihan dan kekurangannya," ujar Fry.
Misalnya, jika pengguna menyatakan hanya ingin membeli pakaian hitam dari retailer tertentu, maka ChatGPT akan mengingat preferensi itu untuk digunakan di permintaan berikutnya, dan merekomendasikan produk yang sesuai dengan selera pengguna.
Ulasan produk yang ditampilkan oleh ChatGPT akan diambil dari berbagai sumber daring, termasuk penerbit editorial maupun forum pengguna seperti Reddit.
Fry menambahkan bahwa pengguna juga bisa memberitahu ChatGPT jenis ulasan mana yang ingin diprioritaskan saat mengkurasi daftar produk rekomendasi.
Saat ditanya apakah ia melihat potensi fitur ini sebagai sumber pendapatan yang berarti dalam jangka panjang, Fry menekankan bahwa OpenAI untuk saat ini hanya fokus pada pengalaman pengguna, dan akan terus mengembangkan fitur belanja di ChatGPT setelah peluncuran.
Sebagai induk usaha ChatGPT, OpenAI memiliki target pendapatan besar. Menurut laporan The Information, perusahaan ini menargetkan pendapatan sebesar US$125 miliar pada tahun 2029. Tahun lalu, OpenAI menghasilkan kurang dari US$4 miliar.
Masih belum jelas seberapa besar peran afiliasi produk dalam upaya mencapai target pendapatan tersebut. Namun, CEO OpenAI, Sam Altman, sempat mengutarakan kemungkinan pendapat dari afiliasi produk dalam wawancara terbarunya dengan penulis newsletter Stratechery, Ben Thompson.
Ini bukan kali pertama OpenAI meluncurkan fitur yang berkaitan dengan belanja di tahun 2025. Agen AI mereka, Operator, memiliki kemampuan mengambil alih kendali browser dan mengklik berbagai situs untuk membantu pengguna membeli kebutuhan rumah tangga atau memesan liburan. Namun, tak seperti ChatGPT, fitur yang dijalankan Operator dinilai masih cukup membingungkan saat diluncurkan.
Di sisi lain, Perplexity — salah satu pesaing OpenAI dalam ranah pencarian berbasis AI — juga telah meluncurkan fitur "Buy with Pro" pada akhir tahun lalu, yang memungkinkan pengguna berbelanja langsung di dalam aplikasinya.
Selain itu, tab Google Shopping saat ini juga mencakup bagian "Researched with AI" untuk beberapa pencarian, menampilkan ringkasan ulasan daring dan pilihan rekomendasi produk.
Meski begitu, Google tetap menjadi pemain dominan dalam pencarian global, menguasai sekitar 89% trafik pencarian dunia menurut para pakar teknologi. Namun, pangsa pasar tersebut dikabarkan mulai perlahan menurun dalam beberapa bulan terakhir.
Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.