Skip to main content
Iklan

Lifestyle

Alasan film Superman versi James Gunn disebut pro-Palestina, lokasi Jarhanpur mirip Gaza?

Tak hanya sekadar tentang superhero, film Superman kali ini rupanya juga menyelipkan berbagai sindiran politik yang membuat penonton menghubungkannya dengan perang Israel di Gaza.

Alasan film Superman versi James Gunn disebut pro-Palestina, lokasi Jarhanpur mirip Gaza?

Poster film Superman yang menampilkan David Corenswet sebagai Clark Kent dan anjing super bernama Krypto. (Foto: Dok. Warner Bros)

16 Jul 2025 10:35AM (Diperbarui: 16 Jul 2025 11:08AM)

Film Superman terbaru garapan James Gunn langsung menyedot perhatian warganet karena dianggap menyelipkan pesan politik yang cukup tajam. Banyak penonton menghubungkan film ini dengan perang Israel di Gaza dan menyebutnya pro-Palestina

Film ini bercerita tentang perjalanan hidup Clark Kent (David Corenswet), seorang jurnalis muda yang bekerja di harian Daily Planet. Sejak bayi, ia tinggal di Bumi setelah dikirim oleh kedua orang tuanya dari planet asalnya, Krypton.

Clark dibesarkan oleh pasangan Jonathan dan Martha Kent di sebuah kota kecil bernama Smallville, Kansas. Ia tumbuh menjadi sosok yang memegang teguh nilai-nilai moral dan kemanusiaan, meskipun menyadari sejak bahwa dirinya memiliki kekuatan luar biasa, seperti kemampuan terbang, kekuatan fisik yang luar biasa dan penglihatan tembus pandang. 

Di balik pekerjaannya sebagai jurnalis, Clark juga menjalani identitas rahasianya sebagai Superman, pahlawan super yang melindungi umat manusia dari berbagai bahaya. Ia pun turun tangan untuk membela warga Jarhanpur dari serangan pasukan militer Boravia. 

Kondisi ini dimanfaatkan oleh Lex Luthor (Nicholas Hault), seorang taipan dan pengusaha di bidang teknologi, yang menganggap Superman sebagai ancaman besar. Luthor menyusun strategi untuk menyingkirkan Superman dengan segala cara, termasuk mengerahkan berbagai kekuatan dan pengaruh yang dimilikinya.

Para penggemar menyebut cerita ini sangat mencerminkan perang Israel terhadap Gaza.

Dalam film ini, Boravia digambarkan sebagai negara fiktif di Eropa Timur yang merupakan sekutu kuat Amerika Serikat, dengan persenjataan militer yang sangat mumpuni: tank, Humvee, dan tentara bersenjata lengkap dengan senapan serbu, gambaran yang dinilai mirip dengan militer Israel

Sebaliknya, Jarhanpur digambarkan sebagai negara yang jauh lebih miskin dan lemah, dengan latar yang menyerupai wilayah Timur Tengah atau Asia Selatan yang mirip gurun pasir. 

Penduduk Jarhanpur digambarkan tidak memiliki kemampuan untuk melawan secara seimbang dan hanya mengandalkan apa yang bisa mereka temukan untuk membalas serangan militer Boravia.

Salah satu adegan memperlihatkan kekuatan militer dengan tentara yang bersenjata lengkap menyerang warga sipil di perbatasan. Terlihat dengan anak-anak menjadi korban dalam pertempuran ini, yang langsung mengingatkan penonton terhadap perang Israel di Gaza.

Lex Luthor (Nicholas Hoult) dalam trailer film Superman versi James Gunn. (Foto: YouTube/DC)

Tokoh Lex Luthor, sang miliarder dan antagonis utama dalam waralaba ini, dilihat sebagai representasi dari tokoh elite global yang dapat memasok senjata tanpa henti ke Boravia.

Akhir film ini juga disebut-sebut mirip dengan aksi protes di perbatasan Gaza pada 2018–2019, yang dikenal dengan nama The Great March of Return, ketika warga Palestina menuntut hak untuk kembali ke tanah mereka dan menolak pendudukan Israel.

Adegan terakhir dalam film Superman menampilkan warga Jarhanpur, termasuk anak-anak, mengibarkan bendera Superman setelah sang pahlawan menyelamatkan mereka. Adegan ini mengingatkan penonton pada momen saat warga Gaza mengibarkan bendera Palestina selama demonstrasi Great March of Return.

Seorang pengguna X menulis, "Kalian enggak bercanda soal betapa pro-Palestina-nya film Superman ini. Mereka sangat jelas soal ini."

Sementara pengguna lain menulis, "Enggak bakal bohong, sekarang gue tahu James Gunn memang konsisten berdiri di pihak mana."

Banyak juga penggemar yang memuji film ini karena tidak mencoba mengambil posisi netral, seperti di berbagai film superhero lainnya, termasuk Captain America. 

Kiri ke kanan: Peter Safran, Nicholas Hoult, Rachel Brosnahan, David Corenswet dan James Gunn menghadiri pemutaran perdana film Superman (2025) di Los Angeles, California, A.S., 7 Juli 2025. (Foto: REUTERS/Daniel Cole)

Para pencinta film juga memuji Superman versi ini karena berani menyampaikan kritik terhadap industri militer, kaum miliarder, dan oligarki global.

Dalam wawancara dengan The Times, James Gunn menyebut bahwa film ini "bercerita tentang politik" dan "moralitas", serta merupakan "kisah imigran". 

Meskipun begitu, James Gunn maupun para pemain Superman tidak pernah menyebut secara eksplisit bahwa film ini mengangkat isu Israel atau Palestina.

Film Superman (2025) sedang tayang di bioskop Indonesia sejak 9 Juli 2025.

Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.

Source: Others/ps

Juga layak dibaca

Iklan
Iklan