Skip to main content
Iklan

Lifestyle

4 film Indonesia tampil di Festival Film Internasional Shanghai, 'My Own Last Supper' masuk kompetisi utama

Kehadiran film-film Indonesia serta partisipasi Kamila Andini sebagai juri memperkuat posisi perfilman nasional di panggung internasional.

4 film Indonesia tampil di Festival Film Internasional Shanghai, 'My Own Last Supper' masuk kompetisi utama

Sutradara Ronny Gani bergabung dengan para penonton dalam sesi tanya jawab setelah pemutaran film GARUDA: DARE TO DREAM, yang masuk dalam nominasi Kompetisi Animasi. (Foto: IG/@shanghaifilmfestival)

SHANGHAI: Perfilman Indonesia kembali mencatatkan pencapaian di panggung internasional melalui kehadiran empat film nasional dalam ajang Festival Film Internasional Shanghai (Shanghai International Film Festival/SIFF) ke-28 pada 20-23 Juni 2026.

Film-film yang diputar dalam festival tersebut adalah Rencana Besar untuk Mati dengan Tenang (My Own Last Supper), Yuni, JUMBO, dan Garuda di Dadaku.

Sorotan utama datang dari film My Own Last Supper (MOLS) karya sutradara Ismail Basbeth, yang berhasil masuk nominasi Main Competition Golden Goblet Award, kategori paling bergengsi di SIFF. Film tersebut menjadi salah satu dari 12 karya yang tayang perdana secara global (world premiere) dalam kompetisi utama tahun ini.

Film tersebut mengisahkan seorang duda berusia 76 tahun yang mengumpulkan anak-anaknya untuk menghadiri “perjamuan terakhir” dalam hidupnya.

Melalui kisah sebuah keluarga keturunan Tionghoa Indonesia, film ini merekam perjalanan lintas generasi dengan latar berbagai periode penting, mulai dari 1960-an hingga 2018, sekaligus mengeksplorasi dinamika keluarga dan makna kehidupan.

Dalam sesi temu media di Shanghai, Ismail Basbeth menyampaikan apresiasinya kepada penyelenggara festival atas sambutan terhadap film dan tim produksinya.

“Saya berharap melalui karya ini, terjalin hubungan yang lebih mendalam antara China dan Indonesia,” kata Ismail Basbeth seperti dilaporkan Antara News, Rabu (24/6).

Produser Lyza Anggraheni juga menyatakan kegembiraannya dapat menayangkan kisah masyarakat Tionghoa Indonesia di China. 

Pendapat serupa disampaikan salah satu pemeran utama, Olivia Irawan Chen, yang merupakan keturunan Tionghoa generasi ketiga. “Saya ingin menampilkan situasi kehidupan nyata masyarakat Tionghoa-Indonesia di Indonesia,” ujarnya.

Antusiasme publik terhadap film Indonesia terlihat sejak penjualan tiket SIFF dibuka pada 5 Juni 2026 lalu. Sejumlah sesi pemutaran My Own Last Supper dilaporkan habis terjual, mencerminkan tingginya minat penonton Shanghai terhadap karya-karya Indonesia.

Sutradara Ronny Gani bergabung dengan para penonton dalam sesi tanya jawab setelah pemutaran film GARUDA: DARE TO DREAM, yang masuk dalam nominasi Kompetisi Animasi. (Foto: IG/@shanghaifilmfestival)

Selain MOLS, Indonesia juga mencatatkan prestasi melalui film animasi Garuda di Dadaku karya Ronny Gani yang masuk nominasi Golden Goblet Award kategori animasi. 

Kehadiran Indonesia dalam kompetisi film cerita dan animasi sekaligus mempertegas posisi perfilman nasional sebagai salah satu kekuatan yang semakin diperhitungkan di Asia Tenggara.

Seperti dilaporkan Disway, partisipasi Indonesia di SIFF tahun ini juga terlihat dari keterlibatan sutradara dan produser Kamila Andini sebagai juri kategori Asian New Talent.

Sekretaris Jenderal Kementerian Kebudayaan Bambang Wibawarta menuturkan pengakuan internasional terhadap film Indonesia menunjukkan perkembangan positif industri perfilman nasional.

“Perfilman Indonesia tengah mengalami pertumbuhan yang luar biasa dengan karya-karya yang semakin diakui di tingkat internasional,” kata Bambang dalam acara nonton bersama My Own Last Supper yang diselenggarakan KJRI Shanghai.

Ia menambahkan, kehadiran MOLS di SIFF menunjukkan bahwa cerita lokal Indonesia mampu menjangkau audiens yang lebih luas.

“Kehadiran MOLS di SIFF 2026 membuktikan bahwa cerita lokal Indonesia yang dikemas dengan kuat dan autentik mampu menarik perhatian serta diterima oleh audiens global,” ujarnya.

Sementara itu, Konsul Jenderal RI di Shanghai Berlianto Situngkir menilai, film dapat menjadi jembatan diplomasi budaya sekaligus membuka peluang ekonomi kreatif.

“Film memiliki kekuatan untuk membangun koneksi lintas budaya, memperkenalkan identitas bangsa, dan membuka peluang ekonomi baru melalui industri kreatif,” kata Berlianto dikutip dari Disway.

Selain pemutaran film, Indonesia juga memanfaatkan SIFF Market melalui penyelenggaraan Indonesia Film Talk yang menghadirkan tim kreatif MOLS untuk mempromosikan perkembangan industri perfilman nasional.

Kehadiran film-film Indonesia di Shanghai dinilai tidak hanya memperkuat citra bangsa, tetapi juga membuka peluang kolaborasi internasional dan memperluas akses pasar bagi sineas Indonesia.

Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.

Source: Others/ar(ps)

Juga layak dibaca

Iklan
Iklan