Skip to main content
Iklan

Lifestyle

Fenomena war takjil: perayaan umat lintas agama berebut jajanan favorit

Umat Islam dan non-Islam ramai-ramai berburu aneka gorengan dan minuman dingin pada jam-jam menuju berbuka puasa. Apakah fenomena ini berhasil mencerminkan keberagaman Indonesia? 

Fenomena war takjil: perayaan umat lintas agama berebut jajanan favorit
Fenomena war takjil mendorong warga membelanjakan uangnya untuk membeli takjil favorit mereka di lapak-lapak pedagang kecil setempat. (Photo: Nivell Rayda)
22 Mar 2024 06:01PM (Diperbarui: 24 Jun 2024 11:22AM)

War takjil menjadi istilah yang riuh rendah dibahas di media sosial belakangan ini. Fenomena ini merujuk pada kegiatan berburu takjil (cemilan untuk berbuka puasa) yang dilakukan bukan hanya oleh umat Islam, namun juga umat dari berbagai keyakinan agama lainnya. 

Alhasil, pasar jajanan pun ramai oleh umat lintas agama demi mendapatkan jajanan favorit. 

Misalnya saja, Pricila (21), seorang mahasiswi beragama Katolik, yang mengaku suka dengan menu-menu takjil yang berseliweran selama Ramadhan. Apalagi, menurut dia, menu-menu takjil biasanya hanya ada di bulan Ramadhan.

"Ngerasa makanannya enak. Biasanya, kan, kalau jualan takjil itu di hari biasa enggak jualan, tapi karena Ramadhan jadi jualan," ungkap Pricilla, dikutip dari laporan CNN Indonesia. 

Hal serupa juga ditemukan pada cuitan akun Instagram @remabareng, yang memperlihatkan seorang laki-laki yang sedang berburu takjil. Laki-laki itu berpakaian seperti umat Muslim, lengkap menggunakan sarung dan kopiah, namun memperlihatkan tato di lengan kanannya yang bergambar salib, menandakan bahwa ia seorang Kristiani, dikutip dari laporan Viva. 

CAIRKAN SUASANA USAI PEMILU

Fenomena yang melibatkan berbagai kalangan lintas agama ini menjadi salah satu gerakan yang terjadi secara organik di masyarakat usai Pemilihan Umum Presiden dan Legislatif yang hasilnya telah diumumkan pada Rabu (20/3) kemarin. 

Suasana pemilu yang dapat meningkatkan perbedaan pendangan politik di antara para pendukung kini dicairkan dengan kesukaan masyarakat berburu jajangan pasar khas Indonesia. Apa pun agamanya, siapa pun tokoh yang dijagokan saat pemilu kemarin, semua suka berburu takjil. 

Hal itu tampaknya yang coba ditampilkan oleh pasangan calon capres-cawapres nomor 01, Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar, saat ikut berburu takjil di Pasar Benhil, pasar yang terkenal menyajikan beragam jajanan pasar ini.

“Sambil menunggu pengumuman KPU, war takjil dulu bareng Gus Imin di Benhil, padang Kurusetra-nya para pemburu takjil,” ujar Anies dalam unggahan di akun Instagram miliknya, dikutip dari laporan Bisnis. 

Anies dan Cak Imin meraih posisi kedua dalam hasil pilpres yang dimenangkan oleh pasangan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka. Anies dan Cak Imin juga telah secara resmi mengajukan gugatan terhadap hasil pilpres ke Mahkamah Konstitusi (MK).

"Alhamdulillah, kami sukses memenangkan tahu goreng, tahu brontak, martabak mini, bubur padang, ceker mercon, pisang ijo, bubur kampiun, dadar gulung, dan es buah! Masih banyak kok, siapa yang bilang jam 16 sudah habis? Belinya juga nggak dicek dulu KTP-nya. Aman, semua bisa ikutan war," ujar Anies. 

TINGKATKAN EKONOMI

Tanpa adanya fenomena war takjil, bulan Ramadan selalu dianggap sebagai salah satu katalisator pertumbuhan ekonomi Tanah Air. 

Mengutip laporan Kompas, pada Lebaran 2023, momentum Lebaran turut mengakselerasi pertumbuhan ekonomi triwulan II-2023 sebesar 5,17 persen secara tahunan. 

Tahun sebelumnya, pertumbuhan ekonomi triwulan II-2022 yang bertepatan dengan perayaan Idul Fitri tumbuh 5,44 persen secara tahunan. 

Berkaca dari data historis di atas, periode Ramadhan 2024 yang akan berlangsung 30 hari terhitung 12 Maret-10 April 2024 diproyeksi akan turut mengatrol pertumbuhan ekonomi pada triwulan I-2024 hingga triwulan II-2024.

Pertumbuhan ekonomi tersebut tentu didorong dari ramainya warga membelanjakan uangnya untuk membeli takjil favorit mereka di lapak-lapak pedagang kecil setempat. 

JANGAN BERLEBIHAN

Kendati menjadi cerminan keberagaman dan berkah bagi pedagang, fenomena war takjil diharapkan tidak menjadi ajang untuk memperlihatkan budaya konsumtif dan belanja berlebihan. 

Pendapat tersebut disampaikan oleh Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) bidang Dakwah dan Ukhuwah K.H. Cholil Nafis. Ia berharap agar fenomena war takjil tidak membuat masyarakat terjebak pada perilaku berlebihan yang dilarang dalam Islam. 

"Yang harus diingat, persiapan berbuka puasa itu tidak boleh berlebihan," ujarnya, dikutip dari laporan Antara.  

Cholil mengingatkan bahwa berbuka puasa tanpa berlebihan juga menjadi salah satu ciri orang yang puasanya mencapai khawasil khawas atau tingkatan sangat istimewa. 

Selain itu, teladan untuk berbuka tanpa berlebihan juga sudah dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW yang terbiasa membatalkan puasanya hanya dengan kurma. 

"Islam juga mengajarkan agar kita berhenti makan sebelum kenyang. Itu berlaku baik saat berbuka puasa maupun situasi umum. Itu menunjukkan kita tidak boleh berlebihan. Karena kita tidak akan makan sampai terlalu kenyang, maka kita tidak perlu berlebihan saat menyiapkan buka ataupun mengikuti Takjil War," ujarnya. 

Source: Others/ps(ih)

Juga layak dibaca

Iklan
Iklan