Skip to main content
Iklan

Lifestyle

Di tengah fenomena fatherless, masih perlukah kita merayakan Hari Ayah Nasional?

Sosok ayah sejatinya bukan hanya pencari nafkah, tapi juga sumber rasa aman dan teladan bagi anak-anaknya.

Di tengah fenomena fatherless, masih perlukah kita merayakan Hari Ayah Nasional?
Kehadiran ayah yang hangat dan penuh kasih bisa membuat perbedaan besar dalam dinamika keluarga. (Foto: iStock/ferlistockphoto)
12 Nov 2025 12:26PM (Diperbarui: 14 Nov 2025 04:18PM)

JAKARTA: Setiap tanggal 12 November, masyarakat Indonesia memperingati Hari Ayah Nasional, momen yang seharusnya menjadi perayaan kasih sayang, dedikasi, dan ketulusan seorang ayah. 

Namun, di tengah meningkatnya fenomena fatherless atau ketidakhadiran figur ayah dalam kehidupan anak, perayaan Hari Ayah Nasional mengundang pertanyaan reflektif: masihkah kita benar-benar memahami arti kehadiran seorang ayah?

Tidak sedikit anak di Indonesia yang tumbuh tanpa kehadiran ayah. Berdasarkan Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) BPS Maret 2024, tercatat 20,1 persen anak Indonesia, atau sekitar 15,9 juta anak, hidup tanpa figur ayah dalam pengasuhan mereka. 

Jumlah itu setara dengan 20,1 persen dari total 79,4 juta anak di bawah 18 tahun. Dari jumlah itu, 4,4 juta anak tinggal tanpa ayah sama sekali, sementara 11,5 juta lainnya punya ayah yang bekerja lebih dari 60 jam seminggu. Artinya, banyak anak yang tumbuh dengan figur ayah yang terasa jauh, meski masih satu atap.

Absennya ayah dalam keluarga tak selalu berarti ia sibuk bekerja di luar rumah, atau tak lagi tinggal dalam satu rumah bersama anak. Banyak ayah yang secara fisik hadir, namun secara emosional menghilang. Sibuk bekerja, lelah, dan jarang punya waktu untuk sekadar duduk dan bertanya kepada anak, "Bagaimana kabarmu hari ini?"

Fenomena ini dikenal sebagai fatherless society, sebuah kondisi di mana kehadiran ayah secara emosional tak lagi dirasakan dalam kehidupan anak. Dampaknya tidak main-main: dari rasa tidak aman, kurangnya kepercayaan diri, hingga kesulitan membangun relasi yang sehat di masa depan.

Ketidakhadiran ayah dalam keluarga bisa menimbulkan berbagai dampak terhadap anak, salah satunya, hilangnya rasa aman. (Foto: iStock/Rifka Hayati)

KEHADIRAN AYAH: KUNCI KELUARGA HARMONIS

Dekan Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM), Rahmat Hidayat, menegaskan bahwa ketidakhadiran figur ayah tidak hanya bermakna secara fisik, tetapi juga secara emosional. 

Kehadiran ayah yang hangat dan penuh kasih bisa membuat perbedaan besar dalam dinamika keluarga. Dalam keluarga yang harmonis, komunikasi terbuka dan minim konflik bisa menekan risiko "ketidakhadiran ayah".

Oleh karena itu, konseling pranikah, dapat menjadi langkah awal penting bagi pasangan untuk memahami seni hidup berkeluarga—mulai dari cara berkomunikasi hingga membangun keintiman emosional. 

Hal ini akan membantu para calon ayah memahami peran dan tanggung jawabnya sebelum membangun keluarga. 

"Edukasi peran dalam menghadapi pernikahan harus menjadi bagian penting sebelum membangun komitmen berkeluarga. Kita sering menganggap pernikahan sebagai hal alami, padahal itu dunia baru yang menuntut kesiapan psikologis dan pemahaman peran antara ayah dan ibu," tulisnya, dikutip dari laman resmi UGM. 

Karena ayah bukan hanya pencari nafkah, tapi juga sumber rasa aman dan teladan bagi anak-anaknya.

Ayah bukan hanya pencari nafkah, tapi juga sumber rasa aman dan teladan bagi anak-anaknya. (Foto: iStock/rudi_suardi)

ASAL USUL HARI AYAH NASIONAL

Menariknya, Hari Ayah Nasional di Indonesia lahir dari semangat penghargaan terhadap peran orangtua, tanpa membedakan gender. Gagasannya muncul dari Perkumpulan Putra Ibu Pertiwi (PPIP), komunitas lintas budaya dan agama di Solo.

Ceritanya bermula pada tahun 2014, saat PPIP menggelar acara peringatan Hari Ibu. Beberapa peserta bertanya, "Kenapa hanya ada Hari Ibu? Kapan Hari Ayah dirayakan?"

Pertanyaan sederhana ini akhirnya memicu deklarasi Hari Ayah Nasional pada 12 November 2006 di Solo, yang juga bertepatan dengan Hari Kesehatan Nasional, mengutip situs Kemendikbudristek.

Sejak itu, setiap tanggal 12 November diperingati sebagai Hari Ayah Nasional, berbeda dengan Father’s Day internasional yang jatuh setiap Minggu ketiga di bulan Juni (tahun 2025 jatuh pada 15 Juni).

Salah satu tujuan utama Hari Ayah adalah memperkuat peran ayah sebagai teladan. (Foto: iStock/Sorapop)

MAKNA HARI AYAH

Hari Ayah bukan sekadar seremoni untuk memberi ucapan di media sosial atau membelikan hadiah kecil. Ia adalah momen untuk mengingat kembali peran penting seorang ayah dalam membentuk karakter, moral, dan masa depan anak.

Menurut Kemendikbudristek, tujuan utama Hari Ayah adalah memperkuat peran ayah sebagai teladan, menjaga keharmonisan keluarga, dan menumbuhkan kesadaran publik bahwa peran ayah sama pentingnya dengan ibu.

Namun, makna ini bisa terasa hampa kalau banyak anak bahkan tak merasakan kehadiran ayahnya. Maka, Hari Ayah seharusnya tidak hanya menjadi ajang apresiasi, tapi juga ajakan untuk memperbaiki relasi dan kehadiran emosional ayah di tengah keluarga.

Di tengah kehidupan yang semakin sibuk dan jarak emosional yang kian melebar, Hari Ayah Nasional seharusnya menjadi saat bagi para ayah untuk berhenti sejenak dan bertanya pada diri sendiri: sudahkah waktu dan perhatian benar-benar diberikan untuk anak? Atau justru urusan anak selama ini sepenuhnya diserahkan kepada ibu?

Kehadiran ayah tak selalu diukur dari waktu yang dihabiskan, tapi dari kasih dan perhatian yang ia tanamkan di hati anaknya. (Foto: iStock/Rifka Hayati)

Bagi para anak, Hari Ayah sebaiknya tidak sekadar lewat sebagai perayaan tahunan. Mungkin kita tak bisa serta-merta mengubah sistem kerja yang membuat banyak ayah jarang di rumah, tapi kita selalu bisa memulai dari hal-hal kecil.

  • Berikan ucapan tulus. Kadang satu kalimat "Terima kasih, Ayah" bisa lebih berharga dari hadiah apa pun. Katakan langsung betapa kamu menghargainya, atau tulis surat kecil berisi rasa terima kasihmu.
  • Kembali membangun komunikasi. Ajak ngobrol, dengarkan cerita, dan tunjukkan bahwa hubungan ayah-anak selalu bisa diperbaiki.
  • Habiskan waktu berkualitas. Tonton film favoritnya, main gim bareng, atau sekadar minum kopi sambil ngobrol santai.
  • Berikan hadiah personal. Hadiah kecil yang sesuai hobinya bisa jadi bentuk perhatian yang berkesan.

Kehadiran ayah tak selalu diukur dari waktu yang dihabiskan, tapi dari kasih dan perhatian yang ia tanamkan di hati anaknya.

Dan mungkin, justru di tengah fenomena fatherless inilah, kita paling membutuhkan peringatan seperti Hari Ayah, agar setiap anak di Indonesia bisa kembali merasakan hangatnya sosok ayah, dalam arti yang sebenarnya.

Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.

Source: Others/ps/da

Juga layak dibaca

Iklan
Iklan