Skip to main content
Iklan

Lifestyle

'Fangirling' tak kenal usia: Pengakuan perempuan umur 50-an yang masih rutin nonton konser 'boy band'

Tiket konser berbagai boy band era 1990-an dan 2000-an yang selalu sold out membuktikan bahwa antusiasme para penggemar mereka, yang kini tak lagi muda, tak pernah pudar.

'Fangirling' tak kenal usia: Pengakuan perempuan umur 50-an yang masih rutin nonton konser 'boy band'

Penulis Balvinder Sandhu kerap menonton konser "boy band" sejak ia masih remaja, yang teranyar saat ia berkesempatan menonton konser "boy band" asal Inggris, Five, pada bulan Mei di Singapura. (Foto: Dok. Balvinder Sandhu)

Konser pertama yang pernah aku datangi adalah New Kids On The Block pada 1992, saat aku masih remaja. Konser terbaru? Aku baru saja menyaksikan boy band Inggris era 1990-an, Five, pada Mei 2026 lalu.

Kedua konser itu dipisahkan jarak 34 tahun, tetapi kecintaanku pada boy band tak pernah pudar. Mereka menemaniku dari masa remaja hingga memasuki menopause. Selain keluarga, tidak banyak orang yang hadir dalam hidupku selama itu.

Saat masih muda, aku menghabiskan banyak waktu, sekaligus banyak uang, untuk membeli dan membaca majalah. Aku juga merekam video musik serta penampilan mereka agar bisa diputar berulang kali. Fangirling bukanlah pekerjaan mudah di era sebelum YouTube.

Sekarang, aku follow mereka di media sosial dan senang melihat mereka membagikan momen bersama pasangan atau anak-anak mereka. Aku merasa ikut terhubung dengan perjalanan hidup mereka dan lega mengetahui sebagian besar dari mereka berhasil melewati sisi gelap industri musik yang kadang bisa begitu eksploitatif.

Melihat penjualan tiket konser mereka, jelas aku bukan satu-satunya perempuan paruh baya yang masih memiliki perasaan seperti ini terhadap boy band era 1990-an dan 2000-an.

Mungkin sekarang mereka lebih pantas disebut "man band", tetapi mereka tetap berhasil membuat para penggemarnya berdesakan memenuhi arena dan stadion demi menyakiksikan aksi panggung mereka di berbagai belahan dunia.

"Boy band" dari era 80-an, 90-an, dan 2000-an masih diminati para penonton sehingga konser mereka selalu dipadati penonton. "Boy band" asal Inggris, Five, kembali reuni setelah 25 tahun dan menggelar konser di Melbourne, Australia, pada Mei 2026. (Foto: Dok. Balvinder Sandhu)

KONSER REUNI YANG SELALU SOLD OUT

Backstreet Boys menjalani residensi selama dua bulan di Sphere, Las Vegas, Amerika Serikat pada 2025. Mereka dilaporkan meraup pendapatan sekitar US$4 juta (sekitar Rp72,3 miliar) setiap malam. Tahun ini, mereka kembali tampil di venue yang sama sepanjang Juli dan Agustus 2026.

Sementara itu, New Kids On The Block, yang kini lebih dikenal sebagai NKOTB dan menjadi satu-satunya boy band era 1980-an dalam daftar ini, menggelar residensi di Park MGM, Las Vegas, pada Juni dan Juli 2025. Tahun ini, mereka kembali dijadwalkan tampil pada Juni, Juli, dan Oktober.

Baik Backstreet Boys maupun NKOTB masih tampil dengan formasi yang membuat mereka meraih popularitas.

Di Eropa, Take That dianggap sebagai raja boy band Inggris. Grup ini telah eksis sejak 1992, meski sempat vakum selama 10 tahun. Awalnya mereka beranggotakan lima orang, tetapi sejak 2014 mereka tampil sebagai trio.

Take That dikenal lewat tur konser yang megah. Mereka baru saja menutup tur bertema sirkus bertajuk The Circus Live - Summer 2026 pada Juli lalu. Tur tersebut berhasil menjual 736.000 tiket di 17 stadion di Inggris dan Irlandia.

Dua boy band yang baru-baru ini kembali tampil di atas panggung bersama untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun adalah boy band Irlandia Boyzone dan grup asal Inggris Five.

Boy band asal Irlandia, Westlife, akan kembali ke Singapura untuk menggelar dua pertunjukan di Singapore Indoor Stadium pada Januari 2027. (Foto: Dok. Unusual Entertainment)

DEMI KENANGAN MASA REMAJA

James Kang, pendiri sekaligus CEO Mode Entertainment yang membawa A1 dan Blue ke Singapura, mengatakan bahwa penonton konser boy band umumnya didominasi sekitar 70 persen perempuan dan 30 persen laki-laki, dengan rentang usia 35 hingga 45 tahun.

Menurut Kang, tiket VIP dan pengalaman meet and greet menjadi daya tarik utama. Para penggemar perempuan ingin bertemu idola yang mereka kagumi sejak remaja dan bersedia membayar lebih untuk mendapatkan pengalaman yang istimewa tersebut. Biasanya, mereka harus mengeluarkan tambahan sekitar S$100 (Rp1,4 juta) hingga S$200 (Rp2,8 juta) di luar harga tiket konser.

Untuk residensi mereka di Sphere, Backstreet Boys membayar biaya satu kali sekitar US$8 juta (sekitar Rp144,7 miliar) untuk grafis venue tersebut. Biaya sebesar itu dapat dengan mudah kembali berkat penjualan paket VIP dan tiket platinum yang rela dibeli para penggemar lama.

Koh San Chin, Assistant Marketing Director Unusual Entertainment, mengungkapkan bahwa penonton konser boy band sebagian besar merupakan perempuan berusia akhir 20-an hingga 40-an. 

Penulis Balvinder Sandhu mengenakan kaos Take That yang ia beli saat menonton "boy band" tersebut tampil di Singapura pada tahun 1995. (Foto: Dok. Balvinder Sandhu)

Menurutnya, daya tarik nostalgia dan rasa akrab dengan lagu-lagu mereka menjadi alasan utama para penggemar datang ke konser, yakni untuk "menghidupkan kembali masa muda mereka, saat berbagai boy band ini menjadi bagian besar dalam hidup mereka."

Berbeda dengan saat masih remaja, kini para perempuan tersebut juga memiliki daya beli sehingga membantu boy band favorit mereka terus bertahan di industri musik.

Menjadi penggemar boy band perempuan di usia paruh baya sebenarnya tidak jauh berbeda dengan laki-laki paruh baya yang tetap setia mendukung tim olahraga favorit sejak kecil.

Mereka membeli merchandise, membuat spanduk untuk pertandingan, dan ikut terbawa emosi ketika melihat idola mereka secara langsung.

Saat banyak pria begitu setia mengikuti tim olahraga favorit mereka dan menyebutnya sebagai kecintaan terhadap olahraga, menurutku tidak ada yang salah jika perempuan menunjukkan cinta dan loyalitas yang sama besarnya kepada para personel boy band yang tampil di atas panggung.

TAK SEKADAR MENGANDALKAN NOSTALGIA

Berbagai tur konser yang selalu sold out ini bukan sekadar menghadirkan sekelompok laki-laki paruh baya yang berdiri di atas panggung menyanyikan lagu-lagu lama demi meraup uang.

Pertunjukan mereka dikemas dengan tata panggung yang megah, koreografi yang rumit, serta didukung banyak penampil.

Bahkan, Take That menghadirkan gajah mekanis setinggi sekitar 9 meter dalam konser mereka yang bertema sirkus.

Para personel boy band, yang kini berusia 40-an hingga 50-an, pun masih mampu menampilkan gerakan dance yang mengesankan.

Bahkan, koreografi menjadi salah satu daya tarik utama konser mereka. Saat intro lagu Pray mulai dimainkan di konser Take That, sulit menggambarkan rasa bahagia yang sederhana melihat mereka kembali membawakan dance yang begitu disukai para penggemar.

Bahwa para personel boy band itu masih bisa menjatuhkan diri, berlutut, lalu berdiri lagi dengan begitu mudah di usia tersebut saja sudah menjadi nilai tambah tersendiri.

Secara pribadi, aku menikmati konser-konser seperti ini karena membawaku kembali ke masa-masa yang lebih sederhana. Aku hafal setiap lirik dari setiap lagu mereka dan banyak kenangan yang melekat pada musik-musik tersebut. 

Ini bukan sekadar konser musik. Ada unsur dance, teater, bahkan komedi, karena para penggemar lama memahami candaan-candaan internal saat para personel saling bercanda di atas panggung.

Pengalaman itu berbeda dibanding menonton musisi lain dari era yang sama. Dalam dua tahun terakhir, aku sudah menonton konser Oasis, Go West, Nik Kershaw, dan Bryan Adams. Mereka semua musisi luar biasa, tetapi sebagian besar hanya berdiri di atas panggung dan bernyanyi.

Konser boy band bukan hanya tentang musik yang enak didengar atau nostalgia. Konser ini juga menjadi perayaan persahabatan yang telah terjalin selama bertahun-tahun, kenangan memilih personel favorit, membolak-balik majalah demi mencari wawancara terbaru, hingga merekam penampilan mereka di televisi menggunakan pemutar kaset video milik orang tua kita.

Kang dari Mode Entertainment mengatakan bahwa boy band memiliki daya tarik yang unik.

"Tidak seperti band rock yang sorotannya biasanya hanya tertuju pada vokalis utama, setiap personel boy band memiliki penggemarnya masing-masing," ujarnya.

"Penggemar hafal nama setiap personel beserta karakter khas mereka. Selain itu, boy band juga membawa energi 'awet muda' yang luar biasa," lanjut Kang.

"Melihat mereka kembali membawakan koreografi dan serenade yang sama puluhan tahun kemudian membuat penonton seolah kembali ke masa lalu dan merasakan lagi rasanya menjadi remaja," tuturnya.

Berbagai boy band ini juga merupakan pelopor bagi banyak grup K-pop yang hadir saat ini. Fakta bahwa mereka masih mampu menjalani tur dengan sukses menjadi bukti panjangnya umur karier mereka.

Sebagian dari mereka bahkan masih merilis musik baru hingga sekarang, meski tingkat kesuksesannya berbeda-beda.

Penulis Balvinder Sandhu bersama temannya saat menonton konser "boy band" Inggris Take That pada tahun 2017. (Foto: Balvinder Sandhu)

KABUR SEJENAK DARI RUTINITAS

Saat mendengar tentang konser boy band era dulu, sebagian orang mungkin langsung membayangkan perempuan paruh baya yang kesepian dan tergila-gila pada para bintang pop. Kenyataannya jauh dari anggapan tersebut.

Tentu, kami mengagumi bagaimana para personel boy band itu tetap menjaga kebugaran dan masih terlihat menarik. Namun, kami tak lagi berkhayal menikahi mereka, seperti saat kami masih remaja.

Ruby Chow, berkunjung ke Las Vegas, AS, bersama suaminya pada Desember 2025 untuk menyaksikan konser Backstreet Boys. Mereka menghabiskan sekitar US$850 (Rp15,25 juta) untuk dua tiket.

Perempuan berusia 50 tahun ini mengaku sudah menggemari Backstreet Boys sejak era 1990-an dan sudah beberapa kali menonton konser mereka di Singapura. Ia juga berencana menghadiri konser Westlife di Singapura pada Januari mendatang.

"Energinya, atmosfernya, mendengarkan semua lagu favorit dibawakan secara langsung," katanya kepada CNA terkait alasan ia sampai rela berangkat ke AS.

"Bisa bernyanyi bersama ribuan penggemar lain seolah sedang menghadiri reuni besar, lalu kita benar-benar menikmati momen itu, meski hanya selama dua jam, sambil merasa seperti dibawa kembali ke masa remaja," tuturnya.

Chow bahkan pernah mengajak anak-anaknya ke konser semacam ini. Ia berseloroh anak-anaknya terkejut melihat "ibunya berubah menjadi perempuan yang menjerit sekencang mungkin."

Ruby Chow dan suaminya, Richard, mengunjungi Las Vegas, Amerika Serikat, pada Desember 2025 demi menonton konser Backstreet Boys. (Foto: Dok. Ruby Chow)

Menonton konser boy band dapat menjadi alternatif menyenangkan untuk rehat sejenak dari rutinitas yang kerap membuat penat.

Musik mereka juga benar-benar memberikan ruang untuk sejenak menjauh dari rutinitas karena sebagian besar lagu boy band berbicara tentang cinta, patah hati, persahabatan, dan kesenangan.

Misalnya, lagu-lagu mereka tidak membahas politik atau perang. Karena itulah, berbagai konser ini menawarkan jeda dari kerasnya rutinitas kehidupan sehari-hari.

Bagiku, bernyanyi sekeras mungkin bersama ribuan orang lain yang merasakan kebahagiaan sederhana yang sama jelas memberikan manfaat bagi kesehatan mental.

Para personel boy band ini adalah para pria yang sudah menjalin persahabatan dengan penggemar mereka selama puluhan tahun.

Mereka telah melewati berbagai pasang surut karier dan kehidupan, tetapi tetap dapat bersikap profesional dan terus menghadirkan pertunjukan yang luar biasa penuh energi.

Jadi, bagaimana bisa ada yang menganggap semua hal itu merupakan sesuatu yang buruk? 

Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.

Source: CNA/ps(ar)

Juga layak dibaca

Iklan
Iklan