Evan eks-ENHYPEN ungkap perjuangan melawan kanker, lihat teman-temannya di RS wafat satu per satu
Masa kecil Evan ternyata menyimpan pengalaman berat menjalani pengobatan intensif setelah didiagnosis mengidap limfoma ganas.
Penyanyi asal Korea Selatan, Evan, baru-baru ini berbagi kisahnya tentang perjuangannya melawan kanker saat masih kecil. (Foto: Instagram/h_evva_n)
Mantan member ENHYPEN, Evan, untuk pertama kalinya menceritakan secara terbuka perjuangannya melawan kanker saat ia masih kecil.
Penyanyi yang kini berusia 24 tahun bernama asli Lee Hee-seung itu mengungkapkan pertama kali mengetahui ia mengidap limfoma ganas ketika masih duduk di kelas empat sekolah dasar, atau berusia sekitar 10 tahun.
Limfoma ganas merupakan jenis kanker darah yang terjadi ketika sel darah putih tertentu menjadi abnormal dan mulai berkembang biak secara tidak terkendali hingga membentuk tumor di kelenjar getah bening atau organ lainnya.
"Aku terus batuk, dan awalnya aku hanya mengira itu pilek dan tidak terlalu memikirkannya," ujarnya kepada Weverse Magazine.
"Tapi kemudian ketika aku sedang bermain sepak bola, aku baru berjalan empat atau lima langkah dan tiba-tiba tidak bisa bernapas," katanya, menjelaskan gejala yang ia alami.
"Aku baru mengetahui kemudian di rumah sakit bahwa itu kanker."
INGIN TERUS HIDUP
Mengenai pengobatan berat yang harus dijalaninya, Evan mengungkapkan, "Tapi ketika melihat bagaimana ibuku merawatku tanpa henti, aku ingin terlihat tegar demi dia."
Selama menjalani perawatan di bangsal rumah sakit, Evan kerap tampil dalam pertunjukan bakat bersama pasien lain dan bermimpi suatu hari bisa menjadi bintang K-pop.
"Aku sudah bermimpi menjadi penyanyi sejak berusia enam tahun, tapi sejujurnya, saat itu aku bahkan tidak punya kapasitas mental untuk memikirkan hal tersebut."
Bintang K-pop yang menggunakan nama Heeseung selama menjadi member Enhypen itu juga mengenang pengalaman menyakitkan ketika harus melihat teman-teman yang dikenalnya di rumah sakit meninggal dunia akibat penyakit tersebut.
"Aku melihat teman-temanku meninggal dan terus berpikir, 'Aku sangat ingin hidup, aku sangat ingin pulang.' Untungnya aku berhasil melewati pengobatan dan bisa melanjutkan hidupku," tuturnya.
JADI KORBAN BULLY
Namun, kembali ke sekolah setelah menjalani pengobatan ternyata menjadi tantangan besar lainnya bagi Evan. Ia menjadi korban bullying karena kondisi rambutnya setelah menjalani kemoterapi.
"Energiku jauh berkurang dan karena rambutku masih tumbuh kembali setelah kemoterapi, aku sering diejek karena hal itu," ungkapnya.
Mengenai alasannya memilih untuk tidak membicarakan perjuangannya melawan kanker hingga sekarang, Evan mengakui, "Sudah lama sekali aku tidak memikirkan hal itu. Rasanya menyakitkan untuk membicarakannya kembali."
Meski Evan sebelumnya tidak pernah membahas pengalaman tersebut secara langsung, ternyata ia pernah menuangkannya dalam bentuk lagu tanpa diketahui siapa pun.
"Ketika aku bernyanyi di Death Of Me, single utamanya, bahwa ini 'bukan akhir hidupku', itu berasal dari pengalaman ketika aku sendiri benar-benar pernah berada tepat di ambang kematian," ungkapnya.
"Seberapa pun terpuruknya aku, berkali-kali aku merasa bahwa itu tidak pernah benar-benar menjadi akhir," pungkasnya.
Pada Maret lalu, Evan meninggalkan ENHYPEN untuk mengejar karier sebagai penyanyi solo. Ia menyampaikan pesan langsung kepada para penggemar melalui sebuah surat yang diunggah di Weverse.
Dalam surat tersebut, Evan mengenang perjalanan yang telah dilaluinya bersama grup dan menjelaskan bahwa ia sebenarnya sudah cukup lama mengembangkan materi musik pribadinya.
Namun, saat itu ia memilih menahannya agar proyek solonya tidak mengalihkan perhatian dari aktivitas ENHYPEN.
Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.