Tetap single sampai tua? 3 perempuan ini buktikan hidup bisa tetap seru
Hidup sendiri di usia senja tampak menakutkan, tapi bagi sejumlah perempuan di Singapura, kebebasan tanpa pasangan dan tak terikat status "istri seseorang" atau "ibu dari si X" justru jadi kunci hidup tenang dan bermakna.
Ilustrasi dua perempuan lansia sedang bercakap-bercakap. (Foto: iStock/JimmyFam)
Banyak perempuan single mulai bertanya-tanya seperti apa hidup tanpa pasangan di usia tua nanti. Di balik kebebasan menikmati hidup dengan cara sendiri, muncul pertanyaan nyata tentang pendampingan, keamanan finansial, kesehatan, dan siapa yang akan menemani di masa-masa tua.
Bagi sebagian perempuan, tetap single adalah keputusan yang dipilih sendiri; sementara bagi yang lain, pasangan yang "tepat" memang belum datang juga.
Menurut data dari Departemen Statistik Singapura, hingga tahun 2024 tercatat 19,6 persen perempuan Singapura (baik warga negara maupun penduduk tetap) berusia 35 hingga 39 tahun belum pernah menikah. Angkanya mencapai 14,7 persen untuk kelompok usia 40 hingga 44 tahun, dan 14,6 persen untuk usia 45 hingga 49 tahun.
Kami berbincang dengan tiga perempuan single dari berbagai usia yang memilih hidup sendiri, dan kini sedang merancang perjalanan menuju masa tua yang sehat dan bermakna.
Dari perencanaan kesehatan dan finansial hingga kehidupan sosial dan pensiun, mereka berbagi bagaimana cara mereka mempersiapkan diri untuk menua dengan mandiri dan penuh tujuan.
APA ITU SEPI?
Annie Tan, 67 tahun, administrator paruh waktu
Selama 40 tahun terakhir, fokusku lebih banyak pada karier dan keluarga. Aku memang pernah berkencan dan menjalin hubungan, tapi belum pernah bertemu dengan seseorang yang benar-benar tepat untuk diajak menikah.
Menjadi single di usia seperti sekarang ini sama sekali tidak membuatku kesepian. Aku selalu sibuk dari Senin sampai Minggu—bekerja, berolahraga, jalan dengan teman-teman, dan menghabiskan waktu bersama keluarga.
Mungkin karena kepribadianku yang supel, aku punya banyak teman: dari teman Zumba, teman jalan kaki, mantan rekan kerja, hingga teman-teman yang tinggal di luar negeri dan rutin aku hubungi.
Tentu, aku juga pernah merasa kesepian. Tapi momen itu sangat jarang dan cepat berlalu. Biasanya aku segera mengisi waktu dengan pekerjaan rumah, hobi, atau aktivitas lain yang bisa membuatku sibuk.
Namun memang, menua sendirian tetap menakutkan. Yang paling aku takuti adalah jatuh sakit di usia tua. Aku tidak ingin merepotkan keluarga atau bahkan teman-teman dekatku.
Karena itu, aku berusaha menjaga kesehatan dengan pemeriksaan rutin, disiplin minum obat, menjaga pola makan, dan tetap aktif lewat jalan kaki dan Zumba.
Selain kesehatan fisik, aku juga memperhatikan kesehatan mental dan emosional. Aku aktif menjadi relawan keagamaan sebagai bentuk kontribusiku untuk masyarakat.
Soal pensiun, aku sudah mulai mempersiapkan keuangan sejak masih bekerja.
Kalau suatu hari aku sudah tidak bisa berjalan, aku siap tinggal di panti jompo. Tapi idealnya, aku ingin menetap di kompleks lansia (retirement village) agar bisa menikmati masa-masa akhir dengan nyaman dan damai.
'AKU TAK AKAN PENSIUN'
Sheryl Khong, 51 tahun, kepala divisi HRD perusahaan swasta
Bagiku, menjadi perempuan single itu justru memberdayakan. Identitasku utuh, tidak terikat dengan status "istri seseorang" atau "ibu dari si X".
Aku tidak stres dengan urusan jadwal keluarga, biaya rumah tangga, atau segudang pekerjaan domestik. Tapi tentu, hidup single juga berarti aku melewatkan pengalaman berharga seperti membesarkan anak dan membangun keluarga sendiri.
Aku tumbuh di keluarga yang dipimpin perempuan. Sosok-sosok yang aku kagumi adalah perempuan single tangguh dan mandiri yang bahkan di usia 80-an masih aktif bersosialisasi.
Jadi, selain rasa khawatir kalau suatu saat aku sakit dan tak ada orang di sekitar untuk membantu, aku tidak takut menua sendirian.
Aku sendiri tidak sepenuhnya percaya pada konsep pensiun. Ibuku yang kini berusia 75 tahun masih bekerja, penuh semangat dan tetap muda hatinya.
Tentu saja, memiliki rencana finansial jangka panjang penting bagi siapa pun, tak peduli usia atau status. Aku sendiri berinvestasi di saham. Menurutku, kemampuan ini penting sekali dimiliki perempuan single—aku berharap lebih banyak perempuan mau belajar soal investasi.
Selain finansial, aku cukup tenang karena di Singapura ada banyak sistem dukungan kesehatan dan dengan asuransi yang tepat, aku bisa mendapatkan perawat pribadi atau tinggal di fasilitas perawatan.
Sekarang, yang paling penting adalah pencegahan: makan makanan bernutrisi dan berolahraga agar tetap kuat agar aku dapat menua dengan sehat.
Bagiku, menua dengan baik berarti juga hidup dengan baik—tetap aktif secara sosial dan punya hubungan yang bermakna. Aku rutin menjaga hubungan dengan keluarga besar, sepupu-sepupu, keponakan, dan teman-teman, meski jadwal sibuk atau jarak jauh.
Aku beruntung punya lingkaran pertemanan lintas usia—ada yang 30-an, 40-an, 50-an—dan kami saling mendukung. Aku juga menjaga kedekatan dengan komunitas keagamaan, yang menjadi bagian penting dari babak baru hidupku ini.
TETAP DIVING WALAUPUN LANSIA
Dawn Soh, 47 tahun, konsultan pemasaran
Aku sudah single sejak 2018. Sepertinya sang Cupid beberapa kali meleset menembakkan panahnya, dan aku masih menunggu jodoh yang tepat.
Menurutku, menua dengan baik berarti siap secara mental dan finansial. Perencanaan keuangan adalah kuncinya agar bisa menikmati kebebasan tanpa kekhawatiran.
Aku mulai membangun kemandirian finansial sejak usia 20-an, salah satunya dengan membeli apartemen HDB tempatku tinggal sekarang.
Suatu hari nanti, aku berencana menjualnya dan pindah ke unit dua kamar agar ada dana tambahan. Sebagian besar tabunganku saat ini berupa program tabungan berasuransi dan dana endowment.
Menjaga kesehatan dan mobilitas juga bagian penting dari menua dengan baik. Aku mulai sadar pola makan, mengurangi makanan olahan dan alkohol.
Aku rutin berolahraga tiga kali seminggu—kombinasi kardio dan latihan kekuatan—karena aku ingin tetap bisa mengangkat tabung scuba diving sendiri di usia tua.
Setelah melihat ibuku yang kehilangan kelincahan di usia 70-an, aku kini rajin Pilates dan stretching agar tetap lentur.
Aku sering bercanda dengan teman-teman perempuan single, bahwa suatu hari nanti kami bisa tinggal di kompleks yang sama, atau bahkan di panti lansia yang sama—semoga masih cukup kuat untuk mengurus diri sendiri.
Bagiku, yang paling penting adalah dikelilingi hubungan yang bermakna dan energi positif.
Aku percaya orang-orang yang tepat—baik teman maupun keluarga—akan selalu menjadi bagian dari perjalanan hidupku.
Dengan atau tanpa pasangan, aku ingin masa pensiunku nanti terasa penuh, bahagia, dan yang terpenting: bebas.
Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.