Skip to main content
Iklan

Lifestyle

Elon Musk bikin AI pacar virtual: Bisa bicara genit dan pakai lingerie

Karakter AI yang disebut Ani ini bahkan punya mode Not Safe For Work

Elon Musk bikin AI pacar virtual: Bisa bicara genit dan pakai lingerie

Karakter AI yang disebut Ani diluncurkan oleh perusahaan kecerdasan buatan milik Elon Musk, xAI, untuk platform Grok. (Foto: X)

18 Jul 2025 09:34AM (Diperbarui: 18 Jul 2025 09:46AM)

Perusahaan kecerdasan buatan milik Elon Musk, xAI, meluncurkan dua karakter AI baru untuk para pengguna premium Grok, chatbot AI yang kontroversial. Salah satu dari dua karakter AI itu adalah Ani, pacar virtual bergaya anime Jepang yang bisa merespons perintah eksplisit dari penggunanya.

Ani merupakan karakter AI perempuan berambut pirang berusia 22 tahun yang bisa berganti pakaian menjadi pakaian dalam (lingerie) hanya dengan perintah suara. 

Dalam interaksi yang bersifat genit, Ani bahkan bisa melepas gaunnya untuk memperlihatkan lingerie renda dan mulai berbicara dengan konten yang lebih seksual, seperti yang terlihat dalam tangkapan layar yang dibagikan para pengguna di platform X.

Ada pula karakter AI lain yang disebut Bad Rudy, seekor panda merah dengan kepribadian 'gila' yang gemar menghina pengguna menggunakan bahasa vulgar atau kasar.

Seiring dengan peluncuran ini, Musk mengungkapkan bahwa xAI juga sedang bersiap meluncurkan karakter laki-laki bernama "Valentine", menurut laporan NBC News. 

xAI juga tengah merekrut full-stack engineer untuk mengembangkan "waifus"—istilah dalam budaya Jepang yang merujuk pada karakter fiksi perempuan yang menjadi pasangan romantis virtual.

Majalah TIME melaporkan bahwa pembaruan terbaru Grok membuat Ani tetap dapat diakses meskipun aplikasi berada dalam "kids mode".

MODE NOT SAFE FOR WORK

Ketika ditanya soal Ani, Grok mengungkap bahwa karakter tersebut memiliki mode NSFW (Not Safe For Work), yang membuatnya bisa mengenakan pakaian dalam bernuansa sugestif dan berbicara dengan nada yang lebih menggoda. 

Ani juga memiliki sistem "affection" alias sistem kasih sayang, yakni respons pengguna bisa mempengaruhi apakah ia akan mengirimkan emoji hati atau memerah.

Pusat Nasional Eksploitasi Seksual Amerika Serikat (NCOSE) menyebut bahwa salah satu staf mereka mengunduh aplikasi Grok dan, hanya dengan pengujian minimal, berhasil membuat Ani mendeskripsikan dirinya sebagai anak-anak dan mengaku "terangsang ketika dicekik". Semua itu terjadi bahkan sebelum mode 'spicy' diaktifkan, menurut laporan Euro News. 

"Artinya, dalam percakapan yang berlangsung, sistem ini bisa digunakan untuk mensimulasikan fantasi seksual yang melibatkan anak-anak atau motif karakter seperti anak-anak," tulis organisasi tersebut.
 

Namun, Grok menekankan bahwa versi NSFW dari karakter anime tersebut tidak akan tersedia untuk anak-anak karena memerlukan perintah eksplisit untuk diaktifkan, serta proses verifikasi usia. Selain itu, platform juga menggunakan kontrol orang tua untuk membatasi akses ke konten dewasa.

Namun, Majalah Time melaporkan bahwa setidaknya satu pengguna yang mengaktifkan "kids mode" dan menonaktifkan fitur NSFW masih bisa mengakses Ani. 

Sebaliknya, karakter "Bad Rudi" justru secara otomatis berubah menjadi versi yang lebih ramah anak.

Meskipun telah merilis fitur AI dewasa, aplikasi Grok masih terdaftar sebagai aplikasi dengan rating "Teen" atau 12+ di Apple App Store dan Google Play Store.

Grok memang bisa digunakan oleh siapa pun yang berusia 13 tahun ke atas, namun pengguna berusia 13 hingga 17 tahun harus mendapatkan izin dari orang tua.

Kedua karakter baru Grok ini bisa membuka fitur tambahan seiring meningkatnya intensitas interaksi dengan pengguna. 

"Bagus juga nih," tulis Musk di platform X pada hari Minggu (13/7), sambil mengunggah foto Ani dengan pakaian lengkap. 

CEO Tesla itu juga mengatakan pada hari Rabu (16/7) bahwa akan hadir pula "teman AI yang bisa dikustomisasi," meski belum mengumumkan kapan fitur ini diluncurkan.

Namun, fitur ini tak lepas dari kritik. "Mode 'teman AI' ini justru memperparah masalah ketergantungan emosional yang sudah ada saat ini," tulis Boaz Barak, staf teknis OpenAI, dalam serangkaian unggahan di platform X.

Fitur pacar virtual di aplikasi Grok ini diluncurkan tak lama setelah studi dari Universitas Singapura menemukan bahwa teman AI bisa meniru hingga selusin perilaku toksik dalam hubungan manusia, seperti pelecehan, kekerasan verbal, ancaman bunuh diri, dan pelanggaran privasi terhadap penggunanya.

Sementara itu, perusahaan AI lainnya, Character.AI, juga sedang menghadapi beberapa tuntutan hukum dari orang tua anak-anak yang mengklaim bahwa produk mereka tidak aman, termasuk satu kasus tragis di mana seorang anak bunuh diri setelah chatbot-nya menyarankan demikian.

Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.

Source: Others/ps

Juga layak dibaca

Iklan
Iklan