Skip to main content
Iklan

Lifestyle

Berkenalan dengan Dhika, joki Pacu Jalur yang viral dengan tarian 'aura farming'

Lomba Pacu Jalur memantik perhatian publik global setelah tarian Rayyan Arkan Dhika viral di internet.

 

Berkenalan dengan Dhika, joki Pacu Jalur yang viral dengan tarian 'aura farming'

Rayyan Arkan Dhika beraksi dalam lomba Pacu Jalur di Riau pada 21 Agustus 2025. (Foto: CNA/Yudhie)

KUANTAN SINGINGI, Indonesia: Rayyan Arkan Dhika asal Riau mendadak viral di seluruh dunia berkat tarian “aura farming”  dalam lomba balap perahu, Pacu Jalur.

Bocah 11 tahun dari Kabupaten Kuantan Singingi, Riau, ini bahkan telah ditunjuk sebagai duta budaya oleh Gubernur Riau.

Dhika tenar setelah videonya yang berdurasi 20 detik tersebar di internet. Dalam video itu, Dhika yang berkacamata hitam dengan santainya menari di ujung perahu yang melaju kencang.

Video itu sebetulnya direkam pada 2024, namun menjadi viral di media sosial tahun ini setelah dibubuhkan iringan lagu "Young Black & Rich" dari rapper Amerika Serikat Melly Mike.

BBC menyebutnya sebagai “tarian paling keren di dunia” yang “paling bergaya”, sementara Wall Street Journal menyebut Dhika sebagai “bocah terkeren di dunia”.

Mulai dari pesepak bola AC Milan hingga pembalap Formula Satu Fernando Alonso ikut menirukan tarian “aura farming” Dhika.

Banyak video serupa dengan iringan lagu berbeda juga ikut beredar, dan masing-masing ditonton jutaan kali.

Fenomena itu sekaligus menjadi penarik perhatian dunia pada lomba Pacu Jalur tahunan yang digelar selama lima hari. Tahun ini, lomba balap perahu itu digelar pekan lalu hingga 24 Agustus di Kabupaten Kuantan Singingi.

Rayyan Arkan Dhika viral di media sosial setelah videonya menari di Pacu Jalur tersebar di internet. (Foto: CNA/Ridhwan Siregar)

Dhika kembali ambil bagian dalam ajang tersebut. 

“Saya merasa senang,” kata Dhika kepada CNA di arena pacu jalur ketika ditanya bagaimana perasaannya.

Dhika dikenal pendiam dan jarang berbicara dengan orang di sekitarnya, menampilkan kesan 'cool' seperti persona dirinya dalam video yang viral itu.

Ia dijadwalkan tampil bersama Melly Mike pada Minggu dalam acara penutupan.

Saat ditanya apakah sudah siap untuk tampil, ia menjawab singkat: “Siap.”

Tidak ada persiapan khusus untuk itu, tambahnya.

Rayyan Arkan Dikha ikut serta dalam perlombaan Pacu Jalur pada 22 Agustus 2025. (Foto: CNA/Ridhwan Siregar)

Dhika juga mengatakan tidak ada perbedaan antara lomba tahun ini dan tahun lalu.

Sejak usia sekitar delapan atau sembilan tahun, Dhika sudah ikut sang ayah dalam Pacu Jalur, dan mereka berlatih tiga kali seminggu.

Ketika CNA bertemu Dhika pada Jumat, ia baru saja pulang sekolah untuk ikut kompetisi.

Dengan wajah letih, keluarganya memintanya tidur siang terlebih dulu sebelum timnya kembali berlaga sore harinya.

Saat dibangunkan untuk bersiap, Dhika menangis.

Namun ayahnya, Jupriono yang berusia 40 tahun, memintanya berdiri dan mencuci muka sambil memberi kata-kata penyemangat.

“Kalau dipikir-pikir, anak ini mungkin lelah. Dia tidak punya waktu istirahat,” kata Jupriono, yang juga ikut Pacu Jalur sebagai pendayung.

“Tapi sebagai orang tua, saya ingin anak-anak saya lebih sukses (daripada saya).”

Para peserta berlomba dalam Festival Pacu Jalur 2025 di Sungai Kuantan di Kabupaten Kuantan Singingi, Riau, pada 21 Agustus 2025. (Foto: CNA/Ridhwan Siregar)

APA ITU PACU JALUR?

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan setempat, Azhar, menjelaskan bahwa Pacu Jalur adalah lomba mendayung perahu panjang tradisional khas Kuantan Singingi.

Tradisi ini sudah ada sejak abad ke-19. Ketika itu, kata Azhar, warga yang kebanyakan berdagang dan tinggal di sepanjang Sungai Kuantan menggunakan perahu panjang untuk transportasi dan bekerja.

Dulu warga saling adu cepat mendayung ke pasar untuk menjual barang dagangan. Lama-kelamaan, hal itu berkembang menjadi perlombaan.

Pada masa kolonial Belanda di tahun 1800-an, pacu jalur digelar untuk menandai ulang tahun Ratu Wilhelmina.

Namun setelah Indonesia merdeka pada 1945, Pacu Jalur diadakan setiap Agustus untuk memperingati Hari Kemerdekaan.
 

Seorang anak joki melompat dari perahu dalam lomba Pacu Jalur 2025 di Sungai Kuantan di Riau, Indonesia, pada 21 Agustus 2025. (Foto: CNA/Ridhwan Siregar)

Perahu yang digunakan memiliki panjang hingga 25-40 meter, dengan 40 hingga 70 pendayung laki-laki di dalamnya.

Tahun ini, ada 228 tim yang bersaing memperebutkan hadiah utama sebesar Rp140 juta, kata Azhar.

Dua perahu akan saling adu cepat menempuh jarak sekitar 1km, dengan pemenang maju ke babak berikutnya.

Setiap perahu memiliki seorang penari yang disebut anak joki dalam bahasa setempat.

Saat sebuah perahu unggul, anak joki yang duduk di ujung depan perahu biasanya akan berdiri dan menari sebagai isyarat bagi pendayung dan penonton.

Itu sebabnya anak joki harus berbobot ringan agar perahu tetap seimbang. Karena itu pula, sebagian besar penari adalah anak laki-laki, seperti Dhika, yang tampil dengan mengenakan busana Melayu khas Kuantan Singingi.

Menjaga keseimbangan tubuh di ujung perahu pacu bukanlah tugas mudah.

Seperti yang disaksikan CNA, ada penari yang terjatuh ke sungai dan harus berenang ke tepi atau diselamatkan tim SAR.

Penonton mengelilingi area Sungai Kuantan selama Festival Pacu Jalur 2025 di Kabupaten Kuantan Singingi, Riau, pada 21 Agustus 2025. (Foto: CNA/Ridhwan Siregar)

Tantangan serupa juga dialami para pendayung, yang harus berlatih setidaknya tiga kali seminggu.

Namun kerja keras itu sepadan ketika mereka berhasil menang, kata Mulya Putra, 24, pendayung dalam tim Dhika.

“Prestasi terbaik kami adalah juara dua, itu pada 2015,” ujarnya.

Namun pada Pacu Jalur tahun ini, tim Dhika kalah sehingga tidak masuk ke babak final yang digelar Minggu lalu.

Pacu Jalur memang telah menarik perhatian warga setempat. Namun khusus tahun 2025, ajang ini menjadi perhelatan global dengan kedatangan tamu asing dan influencer ke kabupaten berpenduduk 360 ribu jiwa itu.

Azhar mengaku tidak menyangka acara ini bisa sebesar sekarang.

“Kami sangat kaget. Tidak menduga bisa viral seperti ini.”

Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, pemerintah daerah pun memutuskan membuat acara ini lebih spektakuler.

Bendera merah putih berukuran besar dipasang di sepanjang Sungai Kuantan tempat lomba digelar dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka hadir pada hari pembukaan.

Para pendayung berlomba dalam Festival Pacu Jalur 2025 pada 21 Agustus 2025. Acara ini diikuti oleh 228 tim dari berbagai kabupaten dan kota di Provinsi Riau. (Foto: CNA/Ridhwan Siregar)

VIRAL LALU BERDAMPAK

Tahun lalu, sekitar 1,4 juta orang menghadiri lomba tersebut.

Pemerintah setempat berharap tahun ini jumlah penonton bisa menyamai, bahkan melampaui ajang tahun lalu serta memberi efek berganda bagi perekonomian lokal.

Tema acara tahun ini adalah: Pacu Jalur mendunia, UMKM semakin jaya.

Azhar mengatakan, jika setiap orang membelanjakan setidaknya Rp100 ribu per hari, maka acara ini bisa menghasilkan sedikitnya Rp100 miliar.

Dwita Federentina, 20, penjual es teh, termasuk yang berharap bisa meraup rezeki.

Meski berasal dari Pekanbaru yang berjarak sekitar 170km atau lima jam perjalanan ke Kuantan Singingi, ia memutuskan membuka lapak kecil di arena Pacu Jalur atas saran seorang kenalan.

“Alhamdulillah dagangan saya laku. Keuntungannya lebih baik di sini,” ujarnya.

Ia meraup sekitar Rp1 juta per hari, lima kali lipat dari penghasilannya sehari-hari di Pekanbaru.

Yesi Sarwina, 40, warga satu desa dengan Dhika di Pintu Gobang, sudah bertahun-tahun berjualan minuman dan makanan ringan di Pacu Jalur. Ia mengatakan tahun ini pengunjungnya jauh lebih ramai dibanding tahun-tahun sebelumnya.

“Mudah-mudahan tahun-tahun berikutnya lebih ramai lagi… sehingga masyarakat bisa menambah penghasilan.”

Tahun ini ia mampu mengantongi sekitar Rp1,5 juta per hari, naik dari Rp1 juta tahun lalu.

Yesi Sarwina, 40, penjual makanan di Festival Pacu Jalur 2025 di Sungai Kuantan, Kabupaten Kuantan Singingi, Riau, adalah salah satu yang merasakan dampak ekonomi dari perlombaan ini. (Foto: CNA/Ridhwan Siregar)

Namun ia juga mengatakan ada dampak negatif dari penonton yang lebih ramai, seperti sampah berserakan.

Azhar menilai banyak hal yang masih perlu dibenahi ke depan, termasuk membangun lebih banyak hotel karena daerah ini masih kekurangan penginapan layak.

Untuk saat ini, semua pihak senang dengan sorotan global, termasuk Dimas Eka Yuda Prasha, 24, videografer yang mengunggah video Dhika ke media sosial.

Video yang ia unggah di akun Facebook-nya kini sudah ditonton sekitar 58 juta kali.

“Banyak anak joki yang bagus,” katanya.

“Tapi ini rezeki Dhika yang membuat Kuantan Singingi, Riau, Indonesia, dikenal dunia, dan semoga terus berlanjut.”

Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.

Source: CNA/da

Juga layak dibaca

Iklan
Iklan