Desa Sade Lombok sebelum dan sesudah kebakaran, dari ikon budaya kini jadi puing
Kampung yang sebelumnya dipenuhi wisatawan dan aktivitas suku Sasak itu kini menyisakan puing setelah api melahap rumah adat pada Sabtu malam, 22 Agustus 2026.
Pintu masuk ke Desa Sade di Lombok yang menyambut pengunjung. (Foto: iStock/syahrir maulana)
Desa Adat Sade yang semula riuh oleh gemertak alat tenun perajin dan keramahan pemandu wisata kini berubah menjadi hamparan abu akibat kebakaran hebat pada Sabtu (22/8) malam. Musibah ini tidak hanya melahap 129 rumah tradisional, tetapi juga mengancam kelestarian warisan budaya Sasak yang telah bertahan sejak abad ke-14.
Kobaran api menyambar sangat cepat di antara rumah-rumah beratap alang-alang dan berdinding anyaman bambu saat sebagian besar warga tengah tertidur pulas. Dalam sekejap, kepanikan pecah di tengah malam yang sunyi, membuat ratusan warga berhamburan menyelamatkan diri tanpa sempat membawa harta benda mereka.
RUMAH TRADISIONAL DAN TRADISI KAIN TENUN
Desa Adat Sade terletak di Desa Rembitan, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB). Kampung yang berada di jalur menuju kawasan wisata Kuta Mandalika itu dipadati wisatawan yang datang untuk mengenal lebih dekat kehidupan masyarakat Sasak.
Sejak lama, Desa Adat Sade menjadi salah satu tujuan wisata budaya Lombok, tempat orang dapat melihat langsung rumah tradisional, kain tenun, bahasa, tradisi, hingga kehidupan adat masyarakat Sasak yang tetap dipertahankan.
Sade diperkirakan telah berusia sekitar 600 tahun dan disebut telah ada sejak abad ke-14. Perkampungan ini masih menjaga bentuk rumah, tata ruang, dan berbagai tradisi yang diwariskan masyarakat Sasak dari generasi ke generasi.
Menurut laporan Antara, denyut pariwisata masih terasa di desa ini hanya beberapa pekan lalu, yakni pada 9 Agustus 2026. Wisatawan keluar-masuk melalui jalan sempit di antara bangunan tradisional tersebut, sedangkan kehidupan warga tetap berjalan seperti hari-hari lainnya.
Sejumlah pemandu wisata mengenakan sapuk, ikat kepala tradisional khas Sasak bermotif lurik, sambil menjelaskan berbagai hal kepada wisatawan, termasuk turis asing. Di salah satu rumah adat, seorang perempuan terlihat menekuni aktivitas nyesek atau menenun kain. Kain-kain hasil tenunan dengan berbagai warna dan motif dipajang di bagian belakang rumah.
Bagi perempuan Sasak, nyesek bukan hanya kegiatan membuat kain. Kemampuan menenun secara tradisional merupakan bagian dari pengetahuan adat sekaligus salah satu penanda kedewasaan perempuan sebelum menikah.
HANGUS DILALAP API
Hanya 13 hari setelahnya, pemandangan berubah drastis. Pada Sabtu, 22 Agustus 2026 sekitar pukul 22.00 WITA, kebakaran hebat melanda Desa Adat Sade, dengan kobaran api yang menyambar rumah-rumah tradisional, seperti terlihat dalam berbagai video viral di media sosial.
Rumah adat Sade memang banyak menggunakan material mudah terbakar, karena memiliki ciri khas berupa atap alang-alang, dinding anyaman bambu atau bedek, serta lantai tanah liat. Secara tradisional, lantai tersebut dibuat menggunakan campuran tanah, kotoran kerbau, dan abu jerami.
Menurut laporan Detik, sekitar 129 rumah tradisional di Desa Adat Sade ludes dilalap api. Kebakaran tersebut juga menghanguskan sejumlah fasilitas lain, seperti masjid, museum, lapak UMKM, dan fasilitas umum.
Salah seorang warga, Amaq Imi, mengatakan kebakaran muncul secara tiba-tiba saat sebagian warga sedang tertidur. Banyak barang tidak sempat diselamatkan, termasuk kain tenun, uang, telepon seluler, dan barang berharga lainnya.
"Kami berharap adanya bantuan dari pemerintah, karena tidak ada barang yang bisa diselamatkan, hanya pakaian yang saya gunakan ini saja," kata Amaq, dikutip dari Detik.
Kebakaran tersebut membuat kerugian yang dialami warga tidak berhenti pada kehilangan tempat tinggal. Bagi masyarakat Sade, rumah adat juga menyimpan barang budaya, pengetahuan, cerita keluarga, benda pusaka, foto, serta kenangan yang menjadi bagian dari kehidupan mereka.
Kampung ini dihuni sekitar 700 orang yang masih berada dalam satu garis keturunan dan memiliki sekitar 200 rumah adat. Bangunan tersebut bukan sekadar tempat tinggal, tetapi menjadi wadah pengetahuan lokal yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Komunitas Lombok Heritage and Science Society (LHSS) menyebut insiden tersebut sebagai peringatan keras bagi sistem perlindungan kawasan warisan budaya di NTB.
"Kebakaran tersebut menimbulkan efek kehilangan yang tak ternilai dengan uang. Kampung Adat Sade adalah ikon budaya hidup utama Pulau Lombok," kata Ali.
DESA YANG HIDUP, BUKAN MUSEUM
Sade sendiri bukan museum yang sengaja menghentikan kehidupan masyarakat untuk menjaga masa lalu. Kampung tersebut tetap menjadi ruang hidup tempat warga tinggal, bekerja, menenun, berdagang, menjalankan tradisi, dan meneruskan kebudayaan kepada generasi selanjutnya.
Posisi Sade juga membuat kampung adat tersebut menjadi salah satu destinasi wisata yang mudah dijangkau. Lokasinya sekitar 30 kilometer dari Mataram dan hanya memerlukan perjalanan singkat dari Bandara Internasional Zainuddin Abdul Madjid. Dari kawasan The Mandalika, Sade juga dapat dicapai dalam waktu relatif singkat.
Karena itu, Sade kerap menjadi bagian dari rute wisatawan setelah mengunjungi berbagai destinasi di Lombok Selatan. Daya tariknya tidak hanya terletak pada bentuk bangunan lama, tetapi juga pada kesempatan untuk melihat masyarakat Sasak mempertahankan kehidupan dan tradisi mereka secara langsung.
Kebakaran tersebut kemudian memunculkan kekhawatiran bahwa kehilangan rumah adat juga dapat berdampak pada ekosistem kebudayaan dan pariwisata Lombok.
Sehari setelah kejadian, pemerintah daerah mulai melakukan penanganan. Posko tanggap darurat dibentuk di gedung Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) Desa Rembitan. Dapur umum juga disiapkan untuk memenuhi kebutuhan warga yang terdampak.
Bupati Lombok Tengah Lalu Pathul Bahri menyebut jumlah korban terdampak mencapai sekitar 320 jiwa atau 120 kepala keluarga.
Hingga saat ini, polisi belum dapat memastikan penyebab kebakaran karena proses penyelidikan masih berlangsung.
Di tengah proses penanganan, Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal menegaskan bahwa keselamatan warga menjadi prioritas utama.
"Yang paling penting saat ini adalah bagaimana seluruh masyarakat dan warga dalam keadaan selamat," ujar Lalu Muhamad Iqbal di lokasi kebakaran, dilansir Antara, Minggu (23/8).
"Dan harus cepat bagaimana kebutuhan dan rasa aman masyarakat yang rumahnya terbakar kita perhatikan. Kebutuhan sandang, pangan, dan aktivitas sosial ekonomi mereka harus kita pastikan," tegas Iqbal.
Namun, rekonstruksi Sade tidak hanya menyangkut pembangunan kembali bangunan yang rusak. Tantangan yang lebih besar adalah memastikan rumah-rumah yang dibangun ulang tetap membawa identitas dan sistem budaya masyarakat Sasak.
Rumah adat Sade tidak cukup sekadar dibuat menyerupai bangunan lama. Proses pemulihan perlu tetap mempertahankan arsitektur tradisional dan melibatkan masyarakat adat, para tetua, ahli arsitektur tradisional, pemerintah daerah, akademisi, pelaku pariwisata, serta komunitas pelestari budaya.
Dinas Kebudayaan NTB juga mulai mendata artefak dan unsur budaya yang masih tersisa. Kepala Dinas Kebudayaan NTB Muhamad Ihwan mengatakan pihaknya melakukan identifikasi dan penyelamatan artefak, sekaligus mendokumentasikan pengetahuan, cerita, dan tradisi yang masih hidup di tengah masyarakat Sade.
"Bagian terpenting adalah menyelamatkan artefak-artefak kebudayaan, termasuk cerita-cerita warga setempat," kata Muhammad Ihwan setelah meninjau kondisi Kampung Adat Sade.
Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.