Demam padel landa Jakarta, tapi tak semua orang terpincut
Tito Triputra (kanan) bermain padel bersama rekannya Arien Karina (kiri) di Jakarta, 2 Agustus 2025. (Foto: CNA/Ridhwan Siregar)
JAKARTA: Perdebatan panas terjadi soal rencana alih fungsi sebidang lahan di perkampungan daerah Kedoya Selatan, Kebun Jeruk, Jakarta Barat.
Warga setempat pada Juli lalu mengetahui adanya rencana mengubah satu-satunya lapangan sepak bola di kampung itu menjadi lapangan padel berbayar, sebuah olahraga raket yang sedang naik daun.
Warga pun bereaksi. Spanduk-spanduk protes bermunculan, tidak sedikit juga yang menyuarakan penentangan mereka di media sosial.
"Lapangan ini sudah ada sejak zaman kakek saya. Kalau sudah nggak ada lagi, di mana nanti anak-anak main bola?" kata warga, Suhardian, 34.
Pelatih sepak bola Sumiran mengatakan lapangan itu setiap hari selalu digunakan.
"Pagi ini jam 6, anak-anak latihan di sini. Jam 2 nanti, tim dari akademi remaja Kedoya akan datang. Lapangan ini tidak pernah menganggur," kata dia kepada CNA.
Setelah beberapa pekan mendapatkan tekanan dari masyarakat, pemerintah setempat akhirnya menyerah dan membatalkan rencana pembangunan lapangan padel.
Namun warga ingin keputusan itu dibuat dalam bentuk tertulis, agar di masa depan rencana serupa tidak terulang lagi.
Jayadi, 50, tokoh masyarakat di Kedoya Selatan, mengatakan ini adalah soal keadilan.
Menurut dia, padel adalah olahraga masyarakat kelas menengah atas dan lapangannya akan digunakan kebanyakan oleh orang dari luar daerah itu.
"Di Kelurahan Kedoya Selatan, Kecamatan Kebun Jeruk, lapangan padel bermunculan di mana-mana. Sementara di Kebun Jeruk sendiri, cuma ada dua lapangan sepak bola dan itu yang dipakai oleh warga, kebanyakan dari kelas menengah ke bawah."
Apa yang terjadi di Kedoya Selatan adalah bagian dari perbincangan yang lebih luas di Jakarta, soal bagaimana mengelola olahraga padel yang sedang banyak digandrungi.
Arrie Nugraha, 41, adalah penggemar berat sepak bola dan padel.
Menurut dia, tidak bijak jika pemerintah ingin mengubah ruang publik menjadi lapangan padel.
"Ruang ini harus tetap gratis untuk masyarakat berolahraga, bukan tempat eksklusif hanya untuk segelintir orang."
POPULARITAS YANG MENINGKAT
Padel, permainan raket gabungan antara tenis dan squash, adalah salah satu olahraga dengan pertumbuhan tercepat di seluruh dunia.
Di Asia Tenggara, negara-negara seperti Malaysia, Thailand dan Singapura telah memperlihatkan ketertarikan pada olahraga ini.
Di Indonesia sendiri, perkembangannya luar biasa pesat.
Menurut Federasi Padel Internasional, sekitar 100 klub dan 350 lapangan padel telah dibuka di Indonesia dalam dua tahun terakhir,
Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) menyebut Indonesia kini menjadi pasar padel dengan pertumbuhan tercepat keenam di Asia Tenggara dan peringkat ke-29 di dunia.
Padel kerap dibandingkan dengan pickleball, olahraga lain yang juga tengah naik daun secara global.
Namun keduanya berbeda — padel lebih mirip gabungan tenis dan squash, dimainkan di lapangan yang dikelilingi dinding kaca, sedangkan pickleball campuran tenis dan tenis meja, dimainkan di lapangan terbuka yang lebih kecil dengan bola plastik ringan.
Di beberapa daerah di Jakarta, hampir setiap bulan ada saja lapangan beratap dan arena olahraga yang dialihfungsikan menjadi lapangan padel.
Beberapa lapangan bahkan telah dipesan beberapa pekan sebelumnya.
"Sekarang kalau mau bermain, kamu harus memesan sebulan sebelumnya atau bergabung dengan klub," kata Julius Putra, 41, yang mulai bermain padel awal tahun ini.
Arrie mulai bermain padel April tahun ini dan sekarang dia rutin bermain tiga hingga empat kali sepekan.
Bersama istrinya, dia mengelola klub padel online yang menghubungkan para pemain dan mengatur pembagian sewa lapangan.
“Ini saling menguntungkan. Saya bisa bermain gratis dan bahkan dapat sedikit uang,” kata pengusaha tersebut.
TREN MEDIA SOSIAL
Dari liga perusahaan hingga turnamen para influencer, padel sekarang telah menjadi tren gaya hidup dan kebugaran paling populer di Jakarta.
"Komunitasnya meledak. Setiap bulannya ada lapangan baru yang dibuka, dan perlengkapannnya terjual habis di mana-mana," kata Arrie.
Media sosial berperan besar bagi meroketnya popularitas olahraga ini. Para influencer kerap membagikan di medsos foto dan video pertandingan, serta selfie di pinggir lapangan.
"Saya pernah melihat para pemain buka botol minuman saat pertandingan di lapangan," kata Arrie.
Tito Tri Putra, 41, manajer yang berbasis di Bali, mengatakan kehidupan malam di kotanya kini lebih sepi karena semakin banyak orang beralih ke olahraga padel.
“Hiburan malam jadi melambat karena semua orang bangun pagi-pagi untuk main padel jam enam,” ujarnya.
LAPANGAN PADEL 24 JAM
Untuk memenuhi lonjakan permintaan, sejumlah pengelola lapangan memperpanjang jam operasional mereka.
Ryan Ng, pengelola lapangan padel di Avion Sports Center, Kedoya Utara, Jakarta, mengatakan fasilitasnya buka 24 jam.
“Permintaan cukup stabil dan melampaui ekspektasi kami. Sejak dibuka, kami beroperasi 24 jam karena ada saja yang ingin main jam satu dini hari atau menjelang subuh,” katanya.
Tito, yang juga bermain padel ketika di Jakarta, mengatakan: "(Di Jakarta) selama Ramadan bahkan lebih gila lagi. Orang-orang pesan lapangan jam 2 atau 3 pagi, main sebelum sahur."
Rata-rata sewa lapangan padel di Jakarta adalah Rp400.000 per jam, sementara harga raket beragam mulai dari Rp1 juta hingga Rp7 juta.
Pada Mei lalu, pemerintah memberlakukan pajak hiburan sebesar 10 persen untuk olahraga padel, namun hal itu tak menyurutkan minat masyarakat.
“Tidak terlalu berpengaruh,” ujar Arrie. “Nilainya tidak besar kalau dibagi rata di antara para pemain.”
Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.