Skip to main content
Iklan

Lifestyle

'Dari trip solo pertama, saya sadar ternyata wisata bukan cuma soal spot viral dan Instagrammable'

'Dari trip solo pertama, saya sadar ternyata wisata bukan cuma soal spot viral dan Instagrammable'

Penulis habiskan 12 hari di Kirgizstan, belajar untuk keluar dari zona nyaman dan berinteraksi dengan orang-orang yang berbeda darinya. (Eunice Sng/TODAY)

Di satu perkemahan yang dikelilingi pegunungan, saya keluar dari tenda dan menginjak rumput basah, lalu mendongak memandangi jutaan bintang yang berkedip lembut di langit malam.

Sepuluh menit penuh lamanya saya menengadah, menikmati hamparan alam yang belum pernah saya lihat di lanskap urban Singapura.

Di dinginnya udara, napas saya mengepul jadi uap. Terdengar gemericik air mengalir di antara bebatuan di sungai kecil yang dekat. Sebentuk damai yang garib merengkuh rasa.

SATU LANGKAH BERANI

Saya akui, saya tidak tahu keberadaan Kirgizstan — apalagi cara melafalkan namanya — sebelum secara kebetulan menemukan paket tur yang ditawarkan oleh satu agen perjalanan kecil.

Foto-foto indah di situs web agen perjalanan tersebut mendorong saya untuk menggali lebih dalam, dan saya pun langsung yakin untuk mendaftar ikut trip ke sana.

Beberapa bulan sebelumnya, mengunjungi satu negara yang kurang dikenal di Asia Tengah tidak termasuk dalam daftar prioritas saya. Saat itu, saya terobsesi mencari pekerjaan tetap dan terjun langsung ke dunia kerja setelah lulus.

Secara umum, liburan pun tidak terlalu menarik minat saya. Tiap kali saya ikut ke luar negeri bersama teman atau keluarga, arti "berwisata" hanyalah mengunjungi semua spot yang sedang populer dan berfoto diri dengan latar belakang tempat-tempat terkenal yang sudah pernah diposting oleh ribuan orang di media sosial.

Akibatnya, liburan saya tak pernah unik, dan tentu saja tak pernah sampai mendorong saya untuk merenung penuh makna. Yang terjadi hanyalah berpindah dari satu tempat ke tempat lain.

Saat itu, liburan belum semenarik itu untuk bisa membuat saya menghabiskan ribuan dolar — uang hasil kerja keras magang — untuk tiket pesawat dan akomodasi.

Namun, setelah menyerahkan tugas akhir, saya merasa perlu merayakan pencapaian penting itu. Melihat teman-teman merencanakan perjalanan wisata mereka usai wisuda, saya jadi ragu untuk buru-buru memulai kontrak kerja purnawaktu.

Saya pun menyadari, tiap bepergian ke mana pun, saya belum pernah mengikuti keinginan sendiri, melainkan asal ikut ide keluarga atau teman-teman.

Maka saya ingin memetakan arah langkah sendiri.

Dan kapan lagi waktu yang tepat untuk memulainya kalau bukan di ujung perjalanan kuliah?

KERAGAMAN BUDAYA

Saya bergabung bersama tiga pelancong solo lain dari Singapura. Kami dipimpin oleh pemandu asal Rusia yang tinggal di Kirgizstan.

Kami menghabiskan 12 hari menjelajahi rangkaian ngarai, kampung, dan kota. Saya menunggang kuda sendirian untuk pertama kalinya, serta meluncur di gunung berselimut salju.

Penulis (kanan) menunggang kuda di perkemahan yurt Jeti Oguz.

Saya banyak belajar tentang Kirgizstan, berikut campuran pengaruh budayanya yang menarik.

Negara itu memiliki hubungan historis yang kuat dengan Rusia, sehingga orang Kirgiz, yang merupakan kelompok etnis Turki, fasih berbahasa Rusia.

Akan tetapi, meski sebagian orang Kirgiz terlihat lebih ‘Eropa’ dengan rambut pirang dan mata hijau, aneka sajian kuliner mereka jelas-jelas Asia.

Tiap restoran menawarkan manti, yang terlihat seperti versi lebih besar dari xiao long bao (pangsit daging kukus ala Tiongkok). Jika xiao long bao biasanya berisi daging babi, manti dibuat dengan isi daging domba atau sapi, sebab mayoritas penduduk setempat beragama Islam.

Saya pun belajar tentang orang-orang Dungan, Muslim Tiongkok yang menggunakan variasi bahasa China beralfabet Sirilik yang mirip abjad Rusia. Tak seperti bahasa Mandarin, bahasa Dungan tidak berirama. Meski samar-samar mirip bahasa China, satu kalimat dalam bahasa itu sudah cukup untuk bikin saya bingung.

Untuk pertama kalinya, saya menyadari betapa berlimpahnya keragaman dalam ras saya. Leluhur kami bagian dari diaspora yang meninggalkan China sekian generasi lalu, tetapi kami menjadi sangat berbeda setelah begitu lama berasimilasi di tempat-tempat yang akhirnya kami tinggali.

Di sebuah museum di Desa Yirdik, tuan rumah menjelaskan sejarah orang-orang Dungan, kelompok minoritas Muslim Tiongkok di Kirgizstan.

DETOKS DIGITAL

Menghabiskan beberapa hari di pegunungan, bukan di tengah lanskap kota penuh gedung sebagaimana biasanya, turut menyusun lembaran pengalaman yang membuka mata.

Selama dua malam, alih-alih berada kamar hotel yang nyaman, kami beristirahat di yurt, tenda bulat dari kayu dan kain felt. Tak ada akses internet. Kami tidak menghabiskan waktu dengan memelototi layar ponsel, melainkan bermain kartu dan bercanda tentang aneka kata makian dalam bahasa Rusia.

Pada satu malam, saat kami menginap di sebuah pesanggrahan, terjadi pemadaman listrik, yang sering terjadi di negara ini. Tidak bisa mengisi daya ponsel atau menyalakan lampu, kami pun menerangi meja makan dengan lilin.

Kami lantas terdorong untuk menghidupkan suasana dengan aneka permainan. Salah satunya: bergantian meniup lilin sampai nyalanya nyaris mati. Yang kalah adalah siapa pun yang menyebabkan api betul-betul padam.

Sudah lama saya tidak merasakan kegembiraan semacam itu, melakukan sesuatu yang terasa begitu iseng.

Di Singapura, tiap interaksi seolah-olah harus memiliki tujuan.

Bagi banyak orang, pertemuan untuk sekadar mengobrol harus dijadwalkan berminggu-minggu sebelumnya. Dan ketika bertemu, kita justru terus terpaku pada layar ponsel.

Demi efisiensi, kita berkomunikasi melalui pesan teks dan panggilan Zoom meski tinggal tak terlalu jauh satu sama lain.

Terkadang kita berpura-pura sibuk dengan ponsel hanya untuk menghindari interaksi sosial di tempat umum.

Melepaskan ketergantungan digital membuat saya tersadar, hal-hal itu telah ciptakan suatu pembatas, bukan kenyamanan.

Tiap hari yang saya lewatkan di Kirgizstan diisi percakapan-percakapan tulus tentang segala sesuatu, dengan orang-orang yang belum pernah saya temui sebelum memulai perjalanan tersebut. Tak perlu janjian, cukup saling menyapa.

Teman-teman seperjalanan bermain kartu saat bermalam di perkemahan yurt Jeti Oguz.

Singapura juga punya julukan "negara ber-AC". Orang-orangnya bisa begitu gamang akan ketidaknyamanan sampai menghindari apa pun yang berada di luar zona nyaman, meski barang sebentar.

Namun, berada di Kirgizstan membuka pikiran saya terhadap cara hidup orang-orang yang berbeda. Bahkan hal sederhana seperti pergi ke kamar mandi pun terasa sangat asing.

Banyak toilet desa tak lebih dari sekadar gubuk dengan lubang di tanah, tanpa sistem penggelontoran. Saya harus jongkok sambil menutup hidung akibat bau kotoran manusia yang menguar begitu kuatnya dari bawah hingga mengundang kawanan lalat.

Suatu kali ke toilet, saya diserang oleh beberapa ekor lebah. Kedua tangan saya tersengat sampai saya menjerit kesakitan.

Saya terkejut ketika seorang penduduk lokal membawakan irisan tomat untuk meredakan nyeri sengatan. Hal itu biasa bagi mereka, tetapi betapa anehnya bagi saya yang tadinya belum pernah mengandalkan obat-obatan organik.

Rasa sakitnya pun mereda. Bersamaan dengan itu, hilang pula keraguan saya untuk mencoba hal-hal baru yang lebih unik.

MENGAMBIL HIKMAH

Bagi saya, perjalanan ke Kirgizstan mengajarkan bahwa berwisata bukan sekadar untuk pamer di Instagram.

Perjalanan jauh mendorong kita keluar dari hal-hal yang familiar, terhubung dengan orang-orang dari latar belakang yang sangat berbeda, dan menciptakan ruang untuk perenungan yang arif.

Pada satu kesempatan, penulis (paling kanan) menikmati makan siang yang disiapkan oleh satu keluarga setempat.

Pemandu tur saya — si orang Rusia — meninggalkan bangku sekolah menengah untuk menumpang sana-sini demi lintasi benua. Dia menguasai banyak bahasa, familiar dengan isu-isu masyarakat di banyak tempat, dan terhubung baik dengan orang-orang dari seluruh dunia.

Sebaliknya, yang saya pikirkan di usia 18 tahun hanyalah masuk universitas. Definisi tunggal "kesuksesan" itu telah tertanam dalam diri saya sejak kecil. Tak pernah terpikirkan untuk menyimpang dari jalur tersebut.

Akan tetapi, perjalanan ini telah menunjukkan banyak hal lain dalam hidup selain belajar dengan tekun, mengumpulkan kekayaan, dan membeli apartemen sesuai selera. Hal-hal yang mengisi realitas sehari-hari di Singapura hanya sebagian kecil dari beragam pengalaman yang ditawarkan dunia nan luas.

Saya ingin terbang paralayang di Swiss. Berbincang dengan para perempuan Filipina yang menikah di Kepulauan Faroe yang jauh. Mengikuti lokakarya seni tradisional di Afrika Selatan.

Sekembalinya ke Singapura, saya membeli sebentang peta dunia dan memajangnya di dinding kamar untuk mengingatkan diri saya akan impian-impian itu.

Di usia 25 tahun — sekitar dua tahun lagi — saya sudah harus tahu tiga fakta tentang tiap negara di dunia, dengan harapan bisa mengunjunginya satu per satu serta menggunakan pengetahuan itu untuk menjalin kisah dengan orang-orang di sana.

Dua pekan lebih telah berlalu sejak saya meninggalkan Kirgizstan. Namun, hingga sekarang, tiap malam sebelum tidur, saya masih bisa melihat satu pemandangan dalam benak saya: Malam berbintang di pegunungan itu.

Masalah-masalah kita — keberadaan kita — amatlah kecil. Namun, tiap diri berkesempatan untuk memanfaatkan eksistensi kecilnya sebaik mungkin.

TENTANG PENULIS:
Eunice Sng, 23 tahun, adalah jurnalis untuk TODAY.

Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel CNA.id dengan klik tautan ini. 

Source: Today/da

Juga layak dibaca

Iklan
Iklan