Skip to main content
Iklan

Lifestyle

Banyak remaja Singapura pakai AI untuk mengerjakan PR, apa dampaknya?

Dalam survei CNA, 500 siswa mengaku dibantu menyelesaikan PR oleh AI. Sebanyak 84 persen dari mereka duduk di bangku sekolah menengah dan menggunakan AI setidaknya setiap minggu.

Banyak remaja Singapura pakai AI untuk mengerjakan PR, apa dampaknya?

Pembawa acara Talking Point, Munah Bagharib (kiri), mendapatkan petunjuk tentang penggunaan AI dalam pekerjaan rumah, dengan bantuan siswa Rebekah Low.

SINGAPURA: Di zaman serba ChatGPT ini, apakah masih ada siswa yang mengerjakan tugas sekolahnya sendiri? Jika pun masih ada, survei di Singapura tetap menemukan bahwa alat kecerdasan buatan masih tetap mereka gunakan.

Fenomena ini tidak hanya terjadi di tingkat universitas, di mana penggunaannya diperbolehkan sesuai aturan yang berlaku. Semua siswa sekolah menengah atau Secondary (SMP dan SMA) di Singapura yang disurvei menjawab bahwa mereka menggunakan aplikasi AI.

Mereka juga sering memakainya: 84 persen responden menggunakan AI untuk menyelesaikan pekerjaan rumahnya (PR) setidaknya sekali seminggu, sementara 29 persen melakukannya beberapa kali seminggu. Sisanya memakai itu paling tidak sekali sebulan.

Survei, yang diadakan oleh Talking Point CNA, mengumpulkan 500 pelajar Singapura yang berusia 15 hingga 25 tahun dari sekolah Secondary hingga perguruan tinggi. Salah satu tujuannya adalah untuk mencari tahu bagaimana mereka menggunakan AI untuk mengerjakan tugas-tugas mereka.

Selain pelajar Secondary, responden survei lainnya juga datang dari junior college (pendidikan Diploma 2), program International Baccalaureate, politeknik dan universitas.

Survei ini diadakan setelah Pew Research Center menemukan 26 persen remaja Amerika Serikat (AS) berusia 13 hingga 17 menggunakan chatbot AI ChatGPT untuk menyelesaikan tugas sekolah mereka pada tahun lalu dan angka itu meningkat dua kali lipat dari tahun 2023.

Di Singapura sendiri, 86 persen responden yang menggunakan AI untuk hal itu beralasan bahwa mereka melakukannya untuk "mendapatkan ide untuk PR/tugas mereka."

Sementara, mereka yang duduk di bangku Secondary lebih cenderung menggunakan alat ini untuk menjawab pertanyaan matematika (63 persen) dan memeriksa tulisan dan tata bahasanya (47 persen).

Temuan survei terbaru menunjukkan kecenderungan yang besar dalam penggunaan AI di kalangan siswa daripada yang diperkirakan sebelumnya.

Dalam survei setempat dengan orang tua yang diselenggarakan pada Desember lalu oleh organisasi nirlaba Centre for Evidence and Implementation, 68 persen mengatakan anak mereka yang berusia 13 hingga 17 tahun menggunakan alat AI generatif untuk mengerjakan tugas setidaknya sekali seminggu.

Apa konsekuensinya jika pelajar dibiarkan menggunakan AI?

BAGAIMANA PARA PELAJAR MENGGUNAKANNYA

Selain ChatGPT, begitu banyak alat AI lainnya yang dapat digunakan oleh para pelajar.

Meski dapat membantu menyelesaikan berbagai tugas, "beberapa alat AI lain biasanya lebih ahli dalam tugas-tugas tertentu yang kadang tidak bisa saya kerjakan dengan sempurna atau efisien di situasi-situasi tertentu," jawab chatbot ketika ditanya mengapa dia tidak bisa mengerjakan semuanya untuk pelajar.

"Beberapa alat AI seperti Photomath atau Wolfram Alpha dirancang khusus untuk menjawab perhitungan matematika yang rumit."

Ada pula alat AI seperti Grammarly dan Wordtune untuk tugas bahasa Inggris, ChemBuddy dan Labster untuk tugas sains, dan Perplexity AI dan Google Scholar untuk pelajaran sejarah dan ilmu sosial, sebagaimana yang disarankan oleh ChatGPT.

Siswa kelas Secondary 3 (9 SMP), Rebekah Low biasanya memakai AI untuk "membantunya menghasilkan ide" untuk tugas mengarang bahasa Inggris. "Kalau pikiran saya lagi buntu, saya cukup buka ChatGPT untuk kasih saya ide-ide, supaya otak saya jalan," ucapnya.

Contohnya, topik ini: "Kamu setuju kalau orang akan senang jika mereka diperlakukan dengan adil?"

Kalau dia setuju dengan argumennya, dia akan minta ChatGPT untuk mengurutkan alasan-alasan mengapa orang senang kalau mereka diperlakukan dengan adil.

"Saya akan pilih yang saya rasa paling mudah untuk dijabarkan," ujarnya, "lalu ... menyusun kata-katanya."

Pelajar kelas Secondary 4 (10 SMA) Ryan Ukail juga menggunakan AI untuk mengerjakan tugas bahasa Inggrisnya, misalnya, untuk tugas menulis sesuatu yang dia sesali.

Satu kalimat yang dia tulis berbunyi "aku melangkahkan kaki ke rerumputan yang panjang dan berlumpur." Kalimat itu "tidak sesuai dengan yang dia mau." Jadi, dia minta AI untuk "membuatnya lebih dalam."

Lalu, dia mendapat jawaban yang lebih deskriptif: "Aku ingat betapa hati-hatinya aku melangkah melewati rerumputan yang basah, panjang, dan tidak terawat."

Sedangkan, siswa kelas Secondary 2 (8 SMP), Dorelle Ong memakai AI untuk mendapat jawaban di saat dia tidak ingin "membuang-buang" waktu dan tenaganya.

Jika dia sedang punya banyak tugas bahasa Mandarin, seperti melengkapi kalimat, dia ingin mengerjakan bagian itu semua "dengan cepat" dengan mengunggah tangkapan layar tugas itu ke ChatGPT dengan prompt (perintah), "Tolong jawabkan ini semua."

Dia juga mengirimkan foto tugas matematikanya ke ChatGPT. "Bagi saya, matematika susah sekali, jadi saya tak begitu ambil pusing," keluhnya.

Chatbot AI ChatGPT membuat daftar untuk Ribka sebelum dia mulai menulis.

GURU TIDAK SELALU TAHU

Masalahnya, guru mereka tahu bahwa mereka pakai AI, kata siswa-siswa tersebut.

Rebekah menjelaskan bahwa guru bahasa Inggrisnya kerap mendorong murid-muridnya menggunakan AI untuk menghasilkan ide-ide "dalam bentuk poin-poin" dan "benar-benar berpikir" sebelum menguraikannya dalam karangan mereka. "Pada dasarnya, itu 'kan masih karya kita," tegasnya.

Ryan, yang juga menggunakan AI untuk geografi dan bahasa Melayu, bahasa ibunya, mengatakan bahwa gurunya memberitahu siswa-siswa cara "menggunakannya untuk membantu mengisi jawaban kamu," sekaligus melarang untuk tidak "menggunakannya sepenuhnya untuk jawaban kamu."

Namun dia menambahkan: "Sekolah kami tidak begitu ketat soal itu."

Dalam survei Talking Point, 51 persen pelajar Secondary menjawab bahwa mereka memodifikasi total jawaban AI untuk menulis esai dan laporan. Sementara, 18 persen "hanya mengubah sedikit untuk tata bahasa atau kejelasannya."

Sebanyak 31 persen lainnya memakai jawaban AI sebagai referensi dan menulis ulang jawaban itu dengan kata-kata sendiri.

Karena sebagian besar orang "punya gaya tulisan sendiri," Rebekah berpikir bahwa guru-gurunya "pasti akan tahu perbedaannya" ketika siswa menyalin seluruh jawaban AI.

Lagi pula, ada alat deteksi AI dan beberapa di antaranya mengaku 99 persen akurat.

Namun demikian, "belum ada alat ukur yang bagus" di luar sana, kata Jonathan Sim, mantan asisten direktur pedagogi di AI Centre for Educational Technologies, National University of Singapore (NUS). "Semuanya masih sangat rentan membuat kesalahan."

Dia membuktikannya dengan dua pendeteksi AI, QuillBot dan GPTZero, lewat topik karangan yang biasa dikerjakan siswa Secondary 4: Ceritakan momen ketika kalian harus membuat keputusan sulit antara harus memilih teman dan melakukan hal yang benar.

Meski karangan yang dibuat produser Talking Point dengan bantuan AI terdeteksi sebanyak 74 persen buatan AI menurut GPTZero, sampel serupa justru mendapat skor nol di QuillBot.

Karangan lain, yang ditulis oleh pembawa acara Munah Bagharib, ternyata mendapat skor 100 persen AI pada GPTZero dan 0 persen pada QuillBot.

Terlepas apakah mereka menggunakan alat ini atau berusaha mendeteksi AI secara mandiri, "yang paling dikhawatirkan" adalah perihal kepercayaan antara guru dan murid.

Jika seandainya seorang guru merasakan "ada sesuatu yang janggal" dengan kualitas penulisan siswa, mereka dapat bertanya, misalnya, apa yang membuat siswa menulis demikian. Namun begitu, dia memperingatkan agar guru tidak menuduh siswanya.

"Kalau tulisan murid sangat bagus, dan sering dicap oleh guru, 'Eh, kamu pakai AI, ya?', itu dapat memengaruhi siswa dan motivasinya untuk belajar," terangnya.

Siswa Ryan Ukail sedang mengerjakan tugas sekolah.

BELUM ADA PEDOMAN YANG JELAS

Sim telah lama gencar mendorong penggunaan AI dengan tepat di sekolah-sekolah. Namun, sejauh yang dia ketahui, "belum ada pedoman yang ... benar-benar jelas dan disepakati seluruhnya." Sebagian besar disebabkan karena setiap guru memiliki pendapat yang "sangat berbeda-beda."

"Di satu sisi, kita punya guru yang sangat antusias," sebutnya. "Mereka ingin mendorong murid-muridnya menggunakan AI.

"Kita juga punya beberapa yang ... tak tahu bagaimana menghadapinya — 'anggap saja tidak ada.' Terus, ada beberapa, sebagian kecil, yang berpikir, 'Oh, AI buruk.'"

Di antara siswa-siswa Secondary yang disurvei oleh Talking Point, 51 persen berada di sekolah yang menetapkan aturan terkait penggunaan AI. Akan tetapi, 33 persen tidak yakin dengan aturan tersebut, sedangkan 16 persen mengatakan tidak ada aturan apapun.

Ketika ditanya apakah mereka takut dihukum jika ketahuan menggunakan AI, sepertiga dari total responden menjawab bahwa mereka "sama sekali tidak" takut.

Menanggapi pertanyaan apakah ada pedoman standar penggunaan AI bagi guru dan peserta didik, Kementerian Pendidikan (MOE) Singapura menunjukkan Pedoman Dasar Etika AI dalam Lingkungan Pendidikan (AIEd), modul pembelajaran daring yang berisi Kerangka Etika AIEd kementerian.

Guru-guru dapat mengakses ini untuk menuntun mereka dalam menggunakan AI di ruangan kelas.

Sementara untuk mengarahkan siswa dalam menggunakan AI sebagai dukungan pembelajaran, para guru menekankan etika terkait penggunaan data dan AI, seperti pentingnya integritas dan penanganan data yang tepat, jelas kementerian tersebut.

"MOE juga akan memfasilitasi dialog profesional di sekolah-sekolah mengenai permasalahan seperti manfaat dan potensi risiko dari AI, serta bagaimana memitigasi risiko-risiko ini," tambah kementerian tersebut.

"Sebagaimana teknologi-teknologi lain, AI sebaiknya digunakan sesuai dengan tujuannya, untuk pembelajaran dan sesuai umur yang dapat meningkatkan hasil belajar."

Itu juga tujuan yang ingin dicapai Sim. Dia mengimbau sesama pendidik untuk "memikirkan kembali bagaimana kita berinteraksi dengan siswa" dan bagaimana cara menggunakan AI untuk meningkatkan proses pembelajaran.

"Minimal, kita sudah harus jelas mengenai berapa banyak sebaiknya AI dapat digunakan," ucapnya.

Kita juga harus menjelaskan kepada siswa mengenai apa yang mereka peroleh dari mengerjakan tugas, sebab AI telah membuat orang kehilangan banyak motivasi untuk belajar."

RISIKO JIKA TERLALU MENGANDALKAN AI

Jika para siswa mengandalkan AI untuk mengerjakan PR mereka, bagaimana dampaknya ke nilai mereka?

Pertama-tama, chatbot AI diketahui kerap menyuguhkan ilusi fakta. Menurut laporan teknis OpenAI yang rilis pada bulan lalu, model chatbot yang baru cenderung berhalusinasi daripada model lama.

Hal ini dapat mengecoh para siswa, sebagaimana yang ditemukan Munah saat dia memasukkan pertanyaan ujian O-Level dari seri buku persiapan ujian nasional Singapura 10-Year Series ke dalam aplikasi AI terbaik yang direkomendasikan ChatGPT untuk setiap mata pelajaran.

Erica Low, tutor dari The Polished Word yang bertugas memeriksa lembar ujian matematika dan sains yang dipilih Munah, menyebutkan bahwa ujian matematika mendapat skor 62 dari 90, setara dengan nilai B3.

"Ada banyak kesalahan yang ceroboh," sebut Low, yang baru mengetahui setelahnya bahwa ujian itu dikerjakan oleh AI. "Ada beberapa rumus yang salah penggunaannya."

Ujian kimia mendapat nilai B4, dengan skor yang diberikan 45,5 dari 75. "Banyak sekali kata kunci yang tidak dimasukkan," sebutnya sambil memeriksa kembali soal ujian.

Ujian fisika mendapat nilai buruk, dengan skor 18,5 dari 75. Selain jawaban salah, ada kata kunci dan "fungsi yang tidak jalan", sebutnya.

Tugas bahasa Inggris yang dikerjakan ChatGPT juga tidak bagus, yaitu D7. Aplikasi tersebut "tidak menangkap dengan benar apa yang diinginkan dari pertanyaan," ujar spesialis bahasa Inggris dan humaniora Lia Tan.

Dia juga menilai tugas sejarah dan ilmu sosial. Masing-masing memperoleh nilai C6. "Anda kurang memberikan contoh-contoh yang konkret," sebutnya mengenai tugas ilmu sosial.

Lee Li Neng, direktur deputi Pusat Pengajaran, Pembelajaran dan Teknologi NUS, menekankan pentingnya "penilaian evaluatif", yaitu kemampuan menilai apakah tugas yang dikerjakan dalam domain tertentu memberi "hasil yang berkualitas atau tidak."

Dr Lee Li Neng telah mengajar berbagai modul psikologi selama sembilan tahun terakhir. Penekanannya saat ini adalah perkembangan remaja.

Para siswa harus "belajar bagaimana berpikir dengan AI dan tidak membiarkan AI mengerjakannya untuk mereka," sarannya. Kendati hal ini lebih mudah diucapkan daripada dilakukan mengingat "para siswa kekurangan waktu," menurutnya, proses belajar sudah memang seharusnya menantang.

Jika siswa mengandalkan AI sebagai jalan pintas termudah, maka "ini berbahaya bagi semuanya."

"Siswa merasa ... 'aku harus terus pura-pura sudah paham (dengan materi pembelajaran),'" lanjut Lee. "Guru tersebut juga bergerak dalam pengaruh ilusi: 'Pekerjaanku berhasil. ... Murid-muridku belajarnya lancar semua.'

"Suatu saat, ilusi itu akan pecah. Dan sayangnya, akan menimbulkan stres yang sangat besar ... bagi setiap siswa."

Bagi dua siswa yang berbicara dengan Talking Point, AI telah membantu mereka belajar, kata mereka. "Saya jadi punya pandangan lain," ujar Rebekah, yang berhasil meningkatkan nilai pelajaran mengarang dalam bahasa Inggris.

Ryan juga "menunjukkan peningkatan" dalam bahasa Inggrisnya. Dia belajar untuk lebih deskriptif dan memikirkan cara yang "tak pernah dipikirkan sebelumnya," ucapnya.

Namun, Dorelle merasa bahwa dia tidak banyak belajar saat menggunakan AI untuk mengerjakan PR-nya. "Yang penting membantu saya menyelesaikannya," sebutnya.

Source: CNA/da

Juga layak dibaca

Iklan
Iklan