Skip to main content
Iklan

Lifestyle

Kehilangan suami di usia 45, Cynthia ubah luka jadi ruang aman bagi janda dan anak yatim

Kehilangan suami akibat kanker setelah hampir 30 tahun bersama, Cynthia Tay tak ingin larut dalam duka. Ia memimpin komunitas Wicare untuk mendampingi janda serta anak yatim melewati duka.

Kehilangan suami di usia 45, Cynthia ubah luka jadi ruang aman bagi janda dan anak yatim

Cynthia Tay menjabat sebagai ketua di Wicare, kelompok pendampingan bagi para janda. Dia dan anak-anaknya mulai menjadi relawan di kelompok tersebut, tak lama usai kepergian suaminya pada tahun 2017. (Foto: Dok. Cynthia Tay)

SINGAPURA: Usianya bahkan belum genap 16 tahun ketika Cynthia Tay jatuh cinta dengan Jesse Peh, laki-laki yang kelak akan menjadi suaminya selama hampir 19 tahun, dan yang kepergiannya, akan mengubah hidup Cynthia selamanya.

Saat itu. tahun 1998, masa ketika telepon masih berkabel dan belum ada ponsel yang dilengkapi kamera, Tay bertemu dengan Peh dengan tidak sengaja. 

"Zaman saya dulu, semasa menjelang ujian sekolah, kami biasa menulis surat kenang-kenangan untuk teman-teman dengan menyertakan foto yang diambil dengan kamera film tradisional," kenang perempuan yang kini berusia 53 tahun itu.

"Saat itu belum ada Wefie. Jadi, saya dan teman-teman pergi mencari orang untuk mengambil foto kami bersama. Tiga laki-laki yang kami temui di Raffles City Shopping Centre menawarkan diri, lalu mengambil foto dengan kamera kami dan kamera mereka," ujarnya mengingat momen itu.

Remaja-remaja tersebut pun bertukar alamat, supaya mereka dapat saling mengirimkan foto. Jesse Peh merupakan salah satu dari tiga remaja laki-laki itu, dan mulai bertukar surat dengan Cynthia Tay, karena saat itu belum ada WhatsApp maupun surel.

Setelah setahun saling berkirim surat, mereka akhirnya bertemu, dan hubungan mereka bersemi dalam waktu singkat.

Tay berasal dari keluarga yang bercerai tanpa kehadiran sosok ayah. Sementara Peh dibesarkan dalam keluarga penuh kasih sayang dari kedua orang tuanya. Hal itulah yang membuat Tay jatuh hati padanya.

"Sejak kecil, saya banyak tidak percaya diri. Jadi, mencari cinta dan rasa aman sudah selalu menjadi misi saya," jelasnya kepada CNA.

Delapan tahun mereka berpacaran, pasangan tersebut menikah di usia 25 tahun pada 1998. Mereka bersama-sama membangun keluarga yang tak pernah Tay miliki sebelumnya.

Cynthia Tay dan kekasihnya, Jesse Peh, ketika keduanya masih berusia 18 tahun. (Foto: Dok. Cynthia Tay)

Mereka dikaruniai tiga anak. Setelah anak keduanya lahir, Tay mengundurkan diri dari pekerjaannya untuk menjadi ibu rumah tangga. Sementara Peh, yang bekerja sebagai pilot Angkatan Udara Republik Singapura, menjadi tulang punggung keluarga.

"Suami saya selalu menjadi sosok ayah yang baik. Waktu saya kecil, saya tidak punya ayah, jadi saya ingin suami saya selalu ada," terang Tay.

Impiannya seketika sirna ketika Peh meninggal karena kanker lambung pada tahun 2017 di usia 45 tahun. Tay merasa "dunia seolah-olah runtuh".

Menghadapi duka yang sulit diungkapkan dengan kata-kata, janda muda tersebut menemukan ketenangan di tengah para janda lain yang juga berduka.

Pada tahun 2017, dia bergabung dengan Wicare Support Group, yayasan sosial untuk para janda dan anak-anaknya. Tak lama kemudian, dia mulai berinisiatif menjadi pendamping sosial sekaligus anggota pengurus. Mei tahun ini, dia ditunjuk menjadi ketua kelompok pendampingan tersebut.

Tumpukan surat-surat yang mereka tulis satu sama lain di tahun 1998 setelah mereka bertemu, jauh sebelum ada WhatsApp dan media sosial. (Foto: Dok. Cynthia Tay)

DUKA SEBELUM KEMATIAN

"Duka tidak muncul setelah orang meninggal. Justru muncul saat mereka tidak lagi dapat berbicara dengan kita, memegang tangan kita, tidur di kasur yang sama," begitu Tay memikirkannya.

Peh menerima diagnosis pertamanya mengidap kanker lambung stadium awal pada tahun 2010 saat berusia 38 tahun, namun kemudian pulih setelah menjalani operasi dan kemoterapi. Selama empat tahun, dia hidup bebas dari kanker.

Akan tetapi, di tahun kelima, menjelang rencana perjalanan keluarga ke Italia yang sudah lama dinanti, kanker itu kembali. Namun kali ini lebih parah.

Pada tahun 2015, Peh didiagnosis menderita kanker lambung stadium 4. Dokter mengatakan bahwa ayah tiga anak tersebut hanya memiliki waktu sekitar setahun untuk hidup.

"Kami batalkan perjalanan kami. Semua rencana kami kandas," kata Tay.

Foto keluarga yang diambil tahun 2010, tepat sebelum Peh menerima diagnosis pertama mengidap kanker lambung. (Foto: Dok. Cynthia Tay)

Peh sempat mengalami depresi. "Dia tahu impian saya untuk bersama anak-anak dan memberi mereka masa kecil yang bahagia. Dia juga tahu saya selalu menginginkan keluarga yang utuh. Menyadari kalau dia tidak lagi dapat menafkahi kami atau menemani kami sangatlah berat baginya," tambahnya.

Akan tetapi, Peh bangkit dan memilih untuk menghabiskan sisa waktunya sebaik mungkin. Dia bahkan melamar Tay kembali, lalu menggelar perayaan sederhana untuk memperbarui janji perkawinan mereka pada tahun 2015 di Hari Natal. "Saya sangat bahagia sekali," kenang Tay.

Peh bertahan jauh lebih lama dari perkiraan dokter, yakni dua tahun tiga bulan. Selama itu, dia menjalani radioterapi dan beberapa operasi pengangkatan bagian organ lambung, usus, dan pankreas.

Pasangan itu memperbarui janji perkawinan mereka pada 25 Desember 2015. (Foto: Cynthia Tay)

Namun, dalam sembilan bulan terakhir masa hidupnya, sistem pencernaannya gagal berfungsi dan dia harus mendapat asupan nutrisi lewat saluran infus. Cara ini tidak membuat rasa laparnya hilang dan dia selalu kelaparan.

"Saya dan anak-anak tidak enak makan di depannya, jadi kami sering bersembunyi untuk makan. Kami selalu memastikan mulut kami bersih sebelum berada di dekatnya," ujar Tay.

Kala itu, suaminya menjalani rawat inap, dan Tay tinggal di rumah sakit untuk menemaninya setiap waktu, sedangkan anak-anaknya datang setiap hari untuk menjenguk.

Menjelang dua minggu terakhir masa hidupnya, Peh tidak lagi dapat menerima asupan lewat infus karena organnya tidak mampu memproses nutrisi yang masuk. Pada saat itu, Tay melihat suaminya terbaring lemah dengan berat badan yang semula lebih dari 70 kilogram menjadi sekitar 30 kilogram.

Merasa tak berdaya, keluarga membawanya pulang ke rumah dan delapan hari kemudian, pada 31 Maret 2017, dia meninggal. Anak-anaknya saat itu berusia delapan, 16, dan 18 tahun.

Foto keluarga yang diambil di rumah sakit pada 6 Oktober 2016, sekitar lima bulan sebelum Peh meninggal. (Foto: Cynthia Tay)

KANDASNYA SEBUAH KELUARGA

"Terkadang, orang membandingkan pengalaman hidup menjanda dengan orang yang tidak menikah, atau yang bercerai dan menjadi single parent.

"Tapi sebenarnya ada sedikit perbedaan. Menjanda artinya hubungan cinta kita dipaksa berakhir. Tidak ada yang menginginkannya, tidak ada yang bisa disalahkan, kita tidak punya pilihan selain menerimanya," jelas Tay.

"Rasa rindu akan orang tersebut akan selalu ada," tambahnya. "Sekarang, setiap kali bangun pagi, dia tidak ada di sana. Kadang, saya masih sulit menerima kenyataan. Benarkah dia sudah pergi?"

Karena sebelumnya Peh merupakan satu-satunya tulang punggung keluarga, Tay menjual kondominium keluarga dan pindah ke apartemen Lembaga Pengembangan Perumahan (HDB) untuk menjamin kelangsungan keuangan keluarga. Berkat hasil penjualan dan tabungan Peh, keluarganya masih dapat bertahan hidup.

Akan tetapi, keheningan menyelimuti kediaman mereka. "Sebagai pengasuh, kita selalu sibuk setiap hari. Tapi setelah dia pergi, waktu seperti tidak berjalan," ujarnya. Kadang-kadang, Tay menangis sendiri hingga tertidur.

Sebenarnya, pada hari ulang tahun pertama sejak kepergian suaminya, Tay sengaja menyuruh anak-anaknya untuk tidak pulang cepat-cepat supaya dia punya waktu sendiri.

"Saya waktu itu sudah siap untuk menangis sepuas-puasnya. Tapi hari itu, tak satu pun air mata dapat saya keluarkan. Malah, saya menghabiskan waktu mengingat perjalanan hidup kami dan kenangan indah. Dan di saat itulah saya merasa, mungkin ini sudah menjadi jalan saya memulai hidup lagi," terangnya.

Kadang, saya masih sulit untuk menerima kenyataan. Benarkah dia sudah pergi?

Sembilan bulan setelah kepergian Peh, dua teman Tay dari gereja mengundangnya untuk menghadiri lokakarya Wicare.

Selama sesi berlangsung, dia mendengar para janda lain menyuarakan ketakutan terbesar yang juga menghantuinya, yaitu jatuh sakit dan meninggalkan anak-anak mereka menjadi yatim piatu. Dia juga baru tahu bahwa anak-anak yatim dalam grup itu memiliki ketakutan yang berbeda-beda. Mereka tidak senang bagaimana orang memandang mereka berbeda dan ingin diperlakukan sebagai anak-anak pada umumnya.

Terharu dengan keterbukaan mereka, Tay mulai aktif mengikuti program konseling serta terapi grup Wicare.

"Ini tempat di mana kita bisa bercerita soal kematian secara terbuka. Tidak mudah membicarakan hal ini di tempat lain karena orang tidak tahu bagaimana harus berbicara dengan kamu, batas apa saja yang tidak boleh mereka lewati," sebutnya.

FOTO 7: Keluarga mengunjungi pemakaman Peh pada 3 April 2017. (Foto: Dok. Cynthia Tay)

MENDAMPINGI DALAM DUKA

Beberapa bulan setelah menghadiri sesi perempuan di Wicare, Tay menawarkan diri menjadi pendamping sosial, menjadi pendengar bagi para janda yang baru berduka. Sejak itu, dia menjalin hubungan dengan beberapa janda, mendampingi mereka menjalani kehidupan.

"Kalau dua janda duduk berdampingan, meskipun tak ada kata yang terucap, air mata bisa saja mengalir. Mereka tahu sebab mereka melewati perjalanan hidup serupa," ujarnya.

Setahun kemudian, pada 2019, Tay diundang untuk bergabung menjadi pengurus Wicare. Dia bersama beberapa anggota pengurus lainnya merancang program pendampingan dan merekrut para pendamping sosial.

Dia juga meningkatkan Program Pendampingan Duka Anak (CGSP), untuk membekali anak-anak yatim dalam mencerna duka mereka melalui konseling, terapi grup, serta terapi psikososial seperti lokakarya membuat keramik dan boneka.

Inisiatif ini bergerak di bawah WiShine, program pendampingan janda dan anak-anaknya selama proses penyembuhan, dan didanai oleh Community Chest serta SGSHARE, platform donasi Community Chest.

Tay juga menanamkan jiwa relawan dalam keluarganya. Sejak 2020, dia melibatkan anak-anaknya, yang kini berusia 17, 25, dan 26 tahun, dalam setiap kegiatan dan acara Wicare. Di sana, mereka menjaga serta berinteraksi dengan anak-anak yang lebih kecil lewat permainan, seni dan kerajinan tangan, serta percakapan.

Tay sangat merindukan mendiang suaminya dan menangis ketika mengingat saat-saat bahagia mereka. Foto ini diambil pada 25 Desember 1997, ketika mereka menikah di usia 25 tahun. (Foto: Cynthia Tay)

Karena keaktifannya sebagai relawan, Tay ditunjuk menjadi ketua Wicare pada Mei.

"Saya dulu orangnya sederhana banget. Yang saya butuhkan hanya menjadi ibu yang baik untuk anak-anak. Tapi setelah kehilangannya, saya melihat dunia dari sudut pandang yang sangat berbeda. Saya sekarang melihat ada begitu banyak orang yang merasakan kehilangan. Saya juga mengambil keberanian dari setiap cerita yang saya dengar.

"Sepanjang jalan, saya bersyukur banget telah sampai di ruang ini, di mana saya bisa menemukan diri saya kembali dan melakukan sesuatu yang tak pernah saya lakukan sebelumnya," tegasnya.

Tidak peduli berapa tahun telah berlalu dan seberapa banyak dia telah berubah, Tay masih sangat merindukan suaminya dan menitikkan air mata ketika mengingat masa-masa bahagia mereka.

Yang paling menyakitkan, menurutnya, adalah menyadari bahwa ketika anak-anaknya tumbuh dewasa, dia akan menjalani sisa hidup tanpa seorang lelaki untuk berbagi cerita dan membangun keluarga bersamanya. Saat-saat seperti ini membuatnya merasa begitu kesepian, ucapnya.

Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.

Source: CNA/ps/da

Juga layak dibaca

Iklan
Iklan