Skip to main content
Iklan

Lifestyle

Dari trauma kesehatan anak ke inovasi mi instan yang lebih sehat

Ketika putrinya mengalami infeksi yang terkait dengan alergi terhadap pewarna makanan buatan, Cynthea Lam mulai mempertanyakan apa saja yang dikonsumsi keluarganya. Dari situ, ia akhirnya menggagas ulang mi instan – salah satu santapan andalan (comfort food) di Singapura – sekaligus meninjau kembali makna hidup sehat.

Dari trauma kesehatan anak ke inovasi mi instan yang lebih sehat

Pendiri Super Farmers, Cynthea Lam, menggagas ulang mi instan bukan agar masyarakat meninggalkan comfort food, melainkan menghadirkan alternatif saat mereka ingin makan lebih sehat (Foto: Eveline Gan).

Suka atau tidak, mi instan kerap menjadi pilihan kalangan muda yang sibuk, orangtua dengan waktu terbatas, atau saat perut keroncongan di larut malam.

Bagi Cynthea Lam, ibu dua anak sekaligus pendiri merek kesehatan lokal Super Farmers, kebiasaan ini memunculkan pertanyaan: mungkinkah makanan instan tetap terasa memuaskan sekaligus bergizi?

Sebagai ahli nutrisi bersertifikat di usia 40-an, Cynthea menjawabnya lewat versi mi instan buatannya sendiri. Tahun lalu, ia meluncurkan sejumlah mi instan vegan serta bubuk kaldu bebas gluten dan MSG, yang dapat ditambahkan ke tumisan atau diseduh dengan air untuk menghasilkan semangkuk hidangan hangat.

Tujuannya sederhana: menyediakan alternatif bagi mereka yang ingin makan lebih sehat tanpa harus meninggalkan santapan andalan mereka.

“Bagi saya, mi instan itu pilihan jelas,” ujar Cynthea kepada CNA Women. “Karena saya sendiri suka banget.”

TRAUMA KESEHATAN AKIBAT PEWARNA BUATAN

Motivasi Cynthea untuk berinovasi dengan salah satu santapan andalan warga Singapura ini tidak semata berangkat dari selera pribadi. Perjalanannya menuju pola makan sehat justru dipicu oleh trauma kesehatan. Pada 2012, putrinya mengalami pneumonia parah akibat alergi yang tidak terdeteksi terhadap pewarna makanan buatan.

Saat itu, Cynthea tengah hamil anak kedua. Ia masih mengingat jelas bagaimana putrinya yang baru berusia tiga tahun mengalami demam tinggi dan batuk berdarah, hingga akhirnya harus menjalani perawatan di rumah sakit selama sebulan.

 

Cynthea bersama putrinya (dalam foto ini berusia 16 tahun). Alergi terhadap pewarna makanan buatan menjadi titik awal perjalanan menuju pola makan dan gaya hidup yang lebih sehat (Foto: Cynthea Lam).

Hasil pemeriksaan menunjukkan putrinya memiliki alergi terhadap pewarna makanan buatan yang umum ditemukan dalam camilan olahan dan permen.

“Kami baru menyadari – astaga – ternyata penyebabnya itu permen cokelat yang dia suka banget karena warna-warni,” kata Cynthea.

Ia menjelaskan, alergi tersebut memengaruhi respons sistem imun anaknya, sehingga membuatnya lebih rentan terhadap infeksi seperti pneumonia.

Meski alergi makanan tidak secara langsung menyebabkan infeksi pernapasan, sejumlah studi menunjukkan bahwa reaksi alergi dapat memicu peradangan dalam tubuh. Kondisi ini, pada gilirannya, dapat melemahkan sistem kekebalan dan meningkatkan kerentanan terhadap infeksi serius.

DIDERA RASA BERSALAH

Dilanda kecemasan dan rasa bersalah, Cynthea segera meninggalkan kariernya di bidang pemasaran dan memilih fokus merawat putrinya. Situasi kian menekan ketika biaya rumah sakit – mencapai puluhan ribu dolar Singapura – menguras tabungan “hingga angka nol”.

“Secara emosional, saya hancur. Ketakutan kehilangan putri saya terasa sangat nyata,” kata Cynthea, mengenang bagaimana ia berupaya mengontrol tiap bahan makanan yang disajikan untuk keluarganya.

 

Cynthea bersama keluarga pada 2018. Kini, putrinya berusia 17 tahun dan putranya 15 tahun (Foto: Cynthea Lam)

Artinya, ia memasak semuanya dari nol dan beralih ke bahan-bahan organik, meski biaya belanja menjadi tidak berkelanjutan bagi keluarga dengan satu sumber penghasilan ini.

“Saya ingin memasak sendiri setiap makanan, dan saya merasa kami harus makan organik karena itulah yang selalu didengungkan – hidup bersih berarti hidup sehat. Tapi itu menguras kantong kami,” ujarnya.

Semakin ketat ia mengatur makanan dan semakin tinggi tingkat stresnya, kondisi mental dan fisiknya pun memburuk. Ia mengalami insomnia parah, dan eksim yang dideritanya kambuh hingga luka berdarah.

MENEMUKAN KESEIMBANGAN

Titik balik datang pada 2013, ketika Cynthea memutuskan mencari bantuan untuk kesehatan mental. Terapi membantunya mengubah cara pandang terhadap rasa takut, makanan, dan kesehatan – tidak lagi sebagai daftar aturan yang kaku dan serba membatasi.

Ia menyadari, anak-anak kerap menyerap sikap, kecemasan, dan ketakutan orang tua, termasuk dalam hal makanan. Menurutnya, melabeli makanan tertentu sebagai “buruk” atau “berdosa” dapat menanamkan rasa takut dan bersalah, bahkan memengaruhi bagaimana tubuh merespons makanan tersebut.

 

“Saya ingin memasak sendiri setiap makanan, dan saya merasa kami harus makan organik karena itulah yang selalu didengungkan.”

Alih-alih mengejar kesempurnaan, Cynthea memilih pendekatan yang lebih realistis. Ia membantu anak-anaknya – kini berusia 17 dan 15 tahun – untuk belajar membuat pilihan makanan secara mandiri.

Misalnya, ia tidak sepenuhnya melarang putrinya mengonsumsi permen berwarna-warni. Sebaliknya, ia menjelaskan risikonya dan menawarkan alternatif yang menggunakan pewarna alami dari tumbuhan atau buah.

Menurut Cynthea, perubahan pola pikir menuju keseimbangan ini berlangsung bertahap, dengan fokus pada hal-hal yang praktis dan berada dalam kendalinya. Ia pun mulai menanam sendiri microgreens atau sayuran mini untuk menambah asupan nutrisi harian keluarga.

“Perubahannya bertahap. Ketika putri saya mulai sekolah dasar, kami mulai beli makanan di luar dua sampai tiga kali seminggu,” ujarnya.

MEMBANTU ORANG LAIN MAKAN LEBIH SEHAT

Pada 2015, Cynthea mendirikan Super Farmers – suatu usaha di bidang microgreens dan nutrisi – sebagai wadah untuk berbagi pengetahuan. Saat itu, kondisi emosinya sudah jauh lebih stabil, dan ia membekali diri dengan pemahaman yang lebih mendalam tentang nutrisi serta pertanian urban.

Berawal dari lokakarya kecil, ia membangun bisnis secara mandiri, dan memperoleh S$600 pertamanya dari satu sesi pelatihan korporat. Seiring meningkatnya minat masyarakat terhadap pola makan sehat, Cynthea kemudian mengembangkan paket tanam microgreens untuk penghuni apartemen HDB (perumahan publik di Singapura) – dirancang untuk menumbuhkan sayuran mini bernutrisi tinggi yang tidak membutuhkan banyak cahaya maupun perawatan intensif.

 

Untuk memperkuat kredibilitas sekaligus memperdalam keahliannya, Cynthea mengikuti kursus daring di The Nutrition Institute Australia dan meraih sertifikasi ahli gizi pada 2024.

Namun, menerapkan ilmunya ke dalam produk mi instan yang lebih sehat ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Salah satu tantangan terbesarnya adalah mereplikasi umami, cita rasa gurih khas yang menjadi daya tarik utama mi instan konvensional dan kaldu berbahan daging.

Menurut Cynthea, mi instan pada umumnya memang diformulasikan secara khusus agar terasa lezat dan adiktif. “Sudah dikaji secara ilmiah untuk bikin ketagihan, mulai dari bahan tambahan hingga bentuk mi yang keriting.

“Saya sadar, sulit sekali mencapai rasa yang persis sama tanpa menggunakan zat tambahan, penguat rasa, atau perisa buatan.”

Butuh sekitar satu tahun riset dan eksperimen – mengombinasikan berbagai sayuran, rempah, dan ekstrak ragi – untuk membangun cita rasa gurih secara alami.

 

Cynthea melakukan riset dan eksperimen selama setahun untuk mendapatkan cita rasa umami pada produk berbasis nabati tanpa penguat rasa maupun zat tambahan (Foto: Eveline Gan)

Seluruh produk mi instan dan bubuk kaldu Super Farmers bersifat vegan, tanpa bahan tambahan pangan maupun pengawet. Varian rasanya antara lain Not Chicken! – yang mereplikasi rasa sup ayam – serta Kimchi dan Garlic Mushroom, yang tersedia melalui situs web resmi mereka.

Bubuk kaldu Super Farmers dibuat dari 100 persen sayuran dan rempah. Varian Not Chicken!, misalnya, memadukan bawang putih, bawang bombai, daun bawang, kembang kol, kol, brokoli, peterseli, kunyit, lada hitam, paprika, dan ekstrak ragi untuk menghasilkan cita rasa gurih alami.

Berbeda dari mi instan konvensional yang umumnya berbahan dasar terigu serta dapat mengandung minyak kelapa sawit dan zat tambahan, mi Super Farmers dibuat dari 100 persen beras – serupa dengan yang digunakan dalam pho Vietnam. Kaldunya pun terasa seperti versi lebih ringan dan “bersih” dari sup ayam dan sayuran pada umumnya.

Menurut Cynthea, ekstrak ragi menjadi kunci dalam menghadirkan rasa gurih tersebut, secara alami menghadirkan kelezatan umami yang biasanya ditemukan dalam kaldu ayam atau daging.

 

Aneka bubuk kaldu instan Super Farmers dapat digunakan sebagai bumbu tumisan atau diseduh dengan air panas menjadi semangkuk sup instan bergizi. Produk-produk ini juga bebas lemak dan rendah kalori. (Foto: Cynthea Lam)

Produk terbarunya, Ready-in-90 Instant Oats, berupa bubur instan yang siap disajikan dalam 90 detik, mengandung buah kering dan biji chia yang, menurut Cynthea, memberikan tambahan serat untuk membantu pelepasan glukosa darah secara lebih bertahap. Ia menyebutnya sebagai alternatif yang lebih sehat dibandingkan sarapan lokal seperti chee cheong fun atau chai tow kway goreng. Sejumlah varian rasa dan produk lain pun tengah dikembangkan.

Bagi Cynthea, tujuannya sejak awal bukan untuk membuat orang meninggalkan comfort foods, melainkan menawarkan pilihan di kala mereka ingin makan lebih sehat.

Pesannya untuk para bunda: jangan terlalu keras pada diri sendiri. Ia menyadari banyak ibu melakukan segala cara demi menjaga kesehatan anak, namun kerap merasa bersalah ketika tidak mampu memenuhi standar yang mereka tetapkan sendiri.

“Realistis saja, ketika anak-anak pergi ke sekolah, mereka pasti terpapar berbagai jenis makanan dengan pewarna, gula, dan zat tambahan. Jangan hidup seolah-olah kita bukan bagian dari masyarakat urban,” ujarnya. Ia sendiri mengaku masih sesekali menikmati mi instan biasa.

Kini, putri Cynthea sudah sembuh dari alergi terhadap pewarna makanan. Fokus Cynthea beralih pada upaya memperkuat sistem imun anak-anaknya melalui suplemen serta pola makan yang seimbang dan beragam.

Pendekatan ini juga membentuk kemandirian anak-anaknya dalam menentukan pilihan makanan. “Karena putri saya sudah terbiasa makan banyak buah dan sayuran sejak kecil, ia secara alami lebih menyukainya. Di food court, misalnya, ia cenderung memilih sup ikan daripada gorengan,” kata Cynthea.

Meski demikian, keluarga ini sesekali menikmati pizza dan burger ketika menginginkannya – tanpa rasa bersalah.

“Perubahan terbesar bagi saya adalah menemukan keseimbangan. Kita tetap bisa menikmati sesuatu yang bikin senang, meskipun oleh masyarakat itu dianggap ‘tidak baik’,” pungkasnya.

Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.

Source: CNA/ar

Juga layak dibaca

Iklan
Iklan