Skip to main content
Iklan

Lifestyle

Cinta yang selalu berhasil: Alasan genre Romantasy jadi pelarian favorit perempuan

Genre ini bukan sekadar kisah fantasi penuh romansa, melainkan menjadi ruang aman para perempuan berimajinasi, memaknai cinta dan harapan, yang tak mereka temukan di dunia nyata.

Cinta yang selalu berhasil: Alasan genre Romantasy jadi pelarian favorit perempuan

Genre Romantasy sangat diminati oleh para perempuan yang mencari pelarian dalam kisah-kisah fantasi yang mengedepankan rasa aman secara emosional dan cinta abadi. (Ilustrasi: CNA/Jasper Loh)

Di tengah tekanan hidup yang makin kompleks, banyak perempuan mulai mencari ruang aman yang tidak mereka temukan di dunia nyata. Salah satunya lewat "romantasy", genre yang menawarkan hubungan dengan hasil yang terasa pasti.

Bagi banyak perempuan, beban mental yang terus menumpuk, mulai dari pekerjaan domestik, membina hubungan, dan berkarier membuat istirahat terasa bukan lagi sebagai kemewahan, melainkan kebutuhan. Jika tidak, kelelahan emosional atau burnout, mengintai.

Mungkin itu sebabnya semakin banyak perempuan membaca cerita yang menawarkan investasi emosional yang dijamin membuahkan hasil: dunia romantasy, sebuah genre yang menggabungkan latar fantasi dengan kisah cinta sebagai inti cerita, dan terkadang juga adegan seksual yang eksplisit.

Menurut Bloomberg, pada 2024, industri ini diperkirakan mencapai nilai US$610 juta (Rp10,4 triliun).

Laporan Circana BookScan, yang melacak penjualan buku fisik di Amerika Serikat serta negara lain seperti Inggris, Spanyol, Australia, dan India, mencatat bahwa pada kuartal pertama 2025, fiksi dewasa meningkat sebanyak 1,9 juta penjualan buku.

Genre romansa dan romantasy memimpin semua kategori genre di AS, tetapi angka tersebut hanya sebagian dari ceritanya.

Dalam romantasy, para tokoh laki-laki lebih memilih mempertaruhkan segalanya untuk melindungi tokoh perempuan daripada memikirkan masalah sehari-hari.

Sebagai pasangan, laki-laki dalam genre romantasy sudah memiliki kesadaran emosional. Kenikmatan perempuan menjadi prioritas, dan yang paling penting, hubungan tersebut selalu bertahan.

Buku pertama dari seri A Court of Thorns and Roses karya Sarah J. Maas pertama kali diterbitkan pada tahun 2015. (Foto: Dok. Amazon)

Buku seperti A Court Of Thorns And Roses karya Sarah J Maas dan Fourth Wing karya Rebecca Yarros menarik jutaan pembaca karena menawarkan sesuatu yang jarang diberikan kehidupan nyata: kepastian emosional.

Onyx Storm karya Yarros, buku ketiga dari seri The Empyrean, terjual 2,7 juta kopi dalam minggu pertama saat dirilis pada Januari 2025, menjadikannya novel dewasa dengan penjualan tercepat dalam 20 tahun, menurut The New York Times.

Lonjakan minat pembaca ini sebenarnya mengungkap sesuatu yang lebih dalam tentang bagaimana perempuan membaca, menginginkan, dan membayangkan keintiman saat ini.

APA ITU ROMANTASY?

Jadi, sebenarnya apa itu romantasy?

Tidak ada definisi tunggal yang disepakati untuk romantasy. Genre ini mencakup spektrum luas, dari romansa yang tak menampilkan adegan intim secara eksplisit hingga konten yang sangat eksplisit.

Yang pasti, genre romantasy menawarkan perpaduan antara dunia fantasi dengan hubungan romantis sebagai pusat cerita.

Novel romansa berfokus pada koneksi emosional, sementara fantasi berpusat pada dunia magis dan petualangan. Romantasy menggabungkan keduanya.

Para karakternya mengejar cinta sekaligus bertahan hidup, sambil menjalani hubungan romantis yang terkadang eksplisit dengan teman, musuh, atau makhluk supranatural.

Dalam buku fantasi seperti The Lord Of The Rings karya Tolkien, romansa hanya menjadi bagian kecil. Romantasy membalikkan hal ini dengan menjadikan hubungan romantis sebagai fokus utama, meskipun pembangunan dunia tetap penting.

Fourth Wing karya Rebecca Yarros menjadi buku pertama dari seri The Empyrean. (Foto: Dok. Amazon)

Cerita-cerita ini menghadirkan elemen fantasi klasik seperti pertarungan antara kebaikan dan kejahatan, sekolah sihir, makhluk mitologi, dan dunia fiksi, tetapi lebih menekankan pada pengalaman personal.

Tokoh utama perempuan menjalani perjalanan mereka sendiri, menghadapi kekuasaan, bahaya, dan tanggung jawab, sambil membangun hubungan yang menjadi inti cerita.

Mereka bisa tertarik pada rival, terpaksa menjalin aliansi yang tidak nyaman, atau harus melintasi batas sosial dan politik. Dinamika ini menciptakan ketegangan emosional yang sama kuatnya dengan misi utama.

Sebagai contoh, dalam Empire Of Sand (2018) karya penulis Inggris Tasha Suri, seorang perempuan muda dengan kemampuan sihir terlarang dipaksa menjalani pernikahan politik, ketika upaya bertahan hidup bergantung pada kemampuannya menavigasi hubungan berbahaya, sama pentingnya dengan kekuatan atau strategi. Buku ini merupakan bagian pertama dari duologi The Books Of Ambha.

TENTANG SEKS, TAPI BERBEDA

Sebagian orang mungkin menganggap romantasy hanya sebagai bacaan erotis. Memang, romantasy dikenal karena konten seksualnya yang eksplisit, dan para penggemar sering membicarakan "tingkat kepedasan" sebuah buku.

Namun, yang membedakan romantasy dari erotika bukanlah seberapa banyak adegan seks yang ada, melainkan maknanya. Erotika sebagian besar berfokus pada hubungan seksual, sementara romantasy menempatkan keintiman sebagai bagian dari cerita emosional yang lebih besar.

Bagi banyak pembaca, melihat seksualitas yang berpusat pada kenikmatan perempuan terasa seperti fantasi tersendiri. Dalam buku-buku ini, pengabdian itu sendiri dianggap erotis.

Karakter pasangan sering digambarkan sebagai sosok yang peduli secara emosional, protektif, dan sangat setia, kualitas yang sering tidak ditemukan dalam fantasi tradisional, bahkan kadang juga tidak dalam kehidupan nyata.

Dan yang lebih penting, cerita-cerita ini berfokus pada keintiman yang tumbuh dari rasa aman secara emosional dan pengabdian yang tulus. Ini merupakan jenis hubungan yang menegaskan kesetiaan tidak tergoyahkan, bahkan ketika segalanya runtuh.

Dalam cerita Romantasy, usaha emosional selalu membuahkan hasil bagi para tokohnya, sesuatu yang mungkin tidak terjadi dalam kehidupan nyata. (Ilustrasi: CNA/Jasper Loh)

MENGGUNAKAN FEMALE GAZE

Pembaca genre romantasy didominasi oleh perempuan. Menurut Nielsen, 84 persen pembaca romansa adalah perempuan, dengan lebih dari setengahnya berusia antara 18 hingga 44 tahun.

Salah satu karakteristik terbesar romantasy adalah fokusnya pada perspektif perempuan. Banyak penulis romantasy merupakan perempuan, berbeda dengan dunia fantasi klasik yang didominasi oleh laki-laki.

Dalam fantasi klasik, perempuan sering digambarkan sebagai trofi yang dibanggakan, atau malah karakter yang berakhir tragis. Dalam romantasy, perempuan mengambil peran aktif.

Cerita-cerita ini menempatkan karakter perempuan di pusat, menggambarkan mereka sebagai sosok yang kuat sekaligus kompleks secara emosional. Mereka mengejar kekuasaan, menghadapi politik, dan membuat keputusan yang tidak hanya memengaruhi kehidupan cinta mereka, tetapi juga nasib kerajaan secara keseluruhan.

Daughter of the Moon Goddess merupakan seri berjumlah dua buku karya penulis Malaysia Sue Lynn Tan yang terinspirasi dari legenda China tentang Chang'e. (Foto: Dok. Amazon)

GENRE ROMANTASY TERUS BERKEMBANG

Banyak buku romantasy terlaris berlatar dunia Barat dan menampilkan standar kecantikan tradisional, tetapi hal ini mulai berubah. Penulis Asia semakin membawa warisan budaya mereka ke dalam romantasy.

Penulis Korea-Amerika seperti Jayci Lee dan Axie Oh memasukkan mitologi Korea, sementara penulis Filipina, Thea Guanzon, melalui trilogi The Hurricane Wars (2023), menggabungkan pola cuaca Asia Tenggara ke dalam romansa fantasi.

Penulis Malaysia, Sue Lynn Tan, dengan Daughter Of The Moon Goddess (2022), yang terinspirasi dari mitologi Tiongkok, memenangkan Alex Award 2023 yang diberikan oleh American Library Association untuk buku dewasa dengan daya tarik lintas usia ke pembaca muda.

Singapura memiliki penulis fantasi yang memasukkan unsur romansa dalam cerita mereka, tetapi belum ada penulis romantasy yang dikenal luas.

Genre Romantasy memadukan dunia fantasi dengan hubungan romantis sebagai inti ceritanya, yakni ketika cinta dan perjuangan untuk bertahan hidup sama-sama penting bagi alur cerita. (Foto: iStock/Chris Babcock)

JANGKAUAN GLOBAL

Cerita fantasi dengan hubungan seksual eksplisit bukan hal baru. Kushiel’s Dart (1999) karya Jacqueline Carey mengeksplorasi kink dan otonomi seksual dengan cara yang tidak biasa untuk fantasi arus utama.

Romansa paranormal menjadi populer di abad ke-21, dengan seri Twilight (2005-2008) yang membuat cinta segitiga supranatural menjadi fenomena.

Vampire Academy (2007-2010) dan The Mortal Instruments (2007-2014) menyusul, membuat sekolah sihir dan cinta terlarang semakin menarik.

Ledakan romantasy kemungkinan dimulai saat pandemi. Studi menunjukkan bahwa membaca selama COVID-19 membantu orang mengatasi stres dan kesepian.

Sementara, populernya tren BookTok membuat reaksi emosional terhadap novel favorit menjadi viral, memberikan perhatian baru pada buku lama.

Seri A Court Of Thorns And Roses karya Maas, yang pertama kali diterbitkan pada 2015, menjadi populer ketika video reaksi pembaca terhadap plot twist menyebar selama lockdown pandemi.

Momentum ini terus berlanjut, bahkan melampaui cerita berbahasa Inggris. Pada Maret, platform streaming China iQIYI dan Netflix merilis Pursuit Of Jade, drama sejarah China sepanjang 40 episode yang diadaptasi dari novel Chasing Jade karya Tuanzi Laixi.

Serial ini menggabungkan romansa yang berkembang perlahan dengan cerita yang didorong oleh perang. Menurut China Daily, surat kabar nasional China berbahasa Inggris, debut serial ini memuncaki tangga internasional iQIYI untuk drama berbahasa China.

Pursuit Of Jade masuk Top 10 Netflix di sembilan negara, termasuk Singapura, Malaysia, dan Thailand, menurut data di situsnya. Serial ini meraih 1,8 juta penayangan dalam satu minggu.

Kesuksesan adaptasi ini menunjukkan jangkauan global romantasy dan daya tarik komersialnya di luar pasar Barat.

Aktor Zhang Linghe memerankan seorang jenderal perang dalam serial drama sejarah China berjudul Pursuit of Jade. (Foto: Instagram/@zhanglinghe__1230)

FANTASI YANG SEBENARNYA

Yang paling menarik dari genre ini adalah janji yang ditawarkannya tentang cinta itu sendiri.

Dalam romantasy, hubungan membutuhkan usaha. Karakter menghadapi konflik, pengkhianatan, dan rasa sakit. Mereka harus terbuka, memilih untuk percaya, dan memperjuangkan apa yang mereka inginkan.

Dalam romantasy, usaha emosional selalu membuahkan hasil. Kerentanan dihargai, dan ketekunan membawa pada cinta yang bertahan. Dalam kehidupan nyata, kamu bisa terbuka, melewati konflik, memperjuangkan hubungan, dan tetap saja semuanya bisa runtuh.

Romantasy menawarkan sesuatu yang sering tidak bisa diberikan oleh realitas: jaminan bahwa melakukan segalanya dengan benar sudahlah cukup. Bahwa keberanian dan pengabdian akan bertahan dari setiap ujian. Bahwa cinta, begitu didapatkan, akan tetap ada.

Dan mungkin, jaminan cinta yang seperti itu menjadi fantasi yang sebenarnya di dunia nyata.

Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.

Source: CNA/ps(ar)

Juga layak dibaca

Iklan
Iklan