Skip to main content
Iklan

Lifestyle

Dialah sosok di balik Sejauh Mata Memandang, label pengusung gerakan mode ramah lingkungan

Dari penata gaya menjadi perancang busana, Chitra Subyakto merintis label Sejauh Mata Memandang lebih dari satu dekade lalu. Karyanya bukan sekadar sandang; ia juga mengampanyekan pelestarian lingkungan lewat pameran edukatif di berbagai titik strategis di Jakarta, serta berbagi aneka sumber daya seputar fashion berkelanjutan melalui inisiatif terbarunya.

 

Dialah sosok di balik Sejauh Mata Memandang, label pengusung gerakan mode ramah lingkungan

Chitra Subyakto, pendiri sekaligus direktur kreatif Sejauh Mata Memandang, label mode Indonesia yang mengedepankan nilai lingkungan. (Foto: Sejauh Mata Memandang)

JAKARTA: Tiap tahun, tokoh-tokoh penting Jakarta memadati Jakarta Fashion Week, yang sejak debutnya pada 2008 disebut-sebut sebagai perhelatan mode terbesar di Asia Tenggara. Suatu malam pada Desember 2023, para pesohor yang duduk di City Hall di Pondok Indah Mall dibuat terkejut oleh deretan spanduk di sepanjang panggung peragaan.

Spanduk paling depan bertuliskan “Menolak Punah”, sementara yang lain menyuarakan pesan seperti “Kedaulatan Sandang #freetrade” dan “Pukul Mundur Krisis Iklim”.

Spanduk-spanduk bernada tegas tersebut diusung oleh para aktivis dan figur publik ternama seperti Butet Manurung (Sokola Rimba), Isabel Wijsen (Bye Bye Plastic Bags), dan Andhyta F Utami (Think Policy Society). Sudah barang tentu, jarang-jarang para tokoh berpengaruh menjadi penonton suatu aksi protes, apalagi dalam format peragaan busana.

Peragaan busana Sejauh Mata Memandang di Jakarta Fashion Week tidak hanya memamerkan koleksi terbaru, tetapi juga menampilkan spanduk-spanduk mencolok di sepanjang runway. (Foto: Sejauh Mata Memandang)

“Benar-benar kami rahasiakan, penyelenggaranya pun tidak tahu!” ungkap Chitra Subyakto, sosok di balik pertunjukan tersebut. “Pernyataan sikap lewat fashion show sudah pernah dilakukan di luar negeri, dan menurut kami ini cara yang efektif untuk menyampaikan pesan. Kami mengundang para aktivis dan selebritas untuk membawa spanduk itu karena kami berharap gaungnya bisa menyebar luas, dan jadi bagian dari upaya berkelanjutan menjaga Bumi.”

Sebagai pendiri sekaligus direktur kreatif Sejauh Mata Memandang, Chitra membangun label ini menjadi salah satu jenama yang dikenal karena keindahan desain sekaligus nilai-nilai pelestarian lingkungannya. Salah satu karya yang mengangkat nama Sejauh adalah reinterpretasi gambar klasik berupa ayam jago—biasa terlihat di mangkuk bakso kaki lima—menjadi motif kontemporer dalam busana sehari-hari yang longgar dan terinspirasi oleh pakaian tradisional.

Koleksi Ayam menampilkan gambar klasik Indonesia berupa ayam jago dalam gaya pakaian sehari-hari yang nyaman. (Foto: Sejauh Mata Memandang)
Koleksi Ayam. (Foto: Sejauh Mata Memandang)

“Salah satu hal pertama yang ingin saya buat saat memulai Sejauh adalah menjadikan pakaian tradisional seperti kebaya sebagai busana harian. Saya ingin memastikan bahannya nyaman untuk iklim tropis kita yang lembap, tapi secara visual tetap menarik,” ujarnya. 

Selera desain Chitra terbentuk dari pengalaman berkarier selama 20 tahun di dunia mode editorial dan desain kostum. Di masa kejayaan media cetak, dia memulai karier sebagai penata gaya dan penulis di beberapa majalah mode, termasuk CosmoGirl! Indonesia. Talenta dan jaringannya membuka kesempatan bagi Chitra untuk menjadi stylist iklan, video musik, konser, musikal, film, dan karya teater. Dia telah mendesain kostum untuk lebih dari 25 film mainstream, termasuk Athirah, yang membawanya meraih penghargaan di ajang Festival Film Indonesia.

Latar belakang karier Chitra membuka pula akses langka ke para selebritas papan atas, tokoh penting media massa, dan figur berpengaruh di industri mode. Jaringan yang ia bangun lantas menjadi dukungan bagi Sejauh di tahap awalnya. Kebaya sederhana dengan potongan longgar, atasan panjang, dan outerwear bermotif batik kini rutin dikenakan beberapa wajah paling dikenal di budaya pop lokal, seperti aktris Dian Sastrowardoyo, tokoh seni kawakan Amalia Wirjono, dan arsitek ternama Andra Matin.

Koleksi Laut Kita. (Foto: Sejauh Mata Memandang)

Ketika Sejauh mengukuhkan diri sebagai salah satu jenama mode kondang Indonesia, pada 2018 Chitra mengubah haluan brand yang didirikannya. “Saya mulai membaca tentang bagaimana planet kita mengalami perubahan iklim, dan fashion salah satu sumber polusi terbesar yang mengakibatkan itu,” tuturnya. “Saya sangat terpukul. Dalam keadaan panik, saya sempat ingin menutup brand ini, tapi kemudian saya berpikir ulang dan melihat betapa brand ini justru bisa memanfaatkan pengaruhnya untuk mengedukasi masyarakat urban tentang masalah ini.” 

Dan demikianlah babak baru Sejauh bergulir. Pada 2019, bersamaan dengan peluncuran koleksi baru berjudul Laut Kita, Sejauh menyiapkan pameran untuk “mengagetkan” audiensnya. Tim Sejauh berkolaborasi dengan direktur kreatif Felix Tjahjadi dan beberapa LSM lingkungan (Diet Kantong Plastik, Pandu Laut, Divers Clean Action, dan Ecoton Foundation) untuk mewujudkan suatu perjalanan yang memungkinkan pengunjung untuk merasakan pengalaman menyelam jauh ke dalam laut.

Pameran tersebut menampilkan instalasi rancangan terbuat dari sampah plastik, disertai infografis tentang kondisi terkini laut Indonesia, pameran mini foto-foto karya aktor Nicholas Saputra tentang alam Indonesia, dan instalasi ikan paus berbahan plastik, lengkap dengan audio pendidikan. Dinarasikan oleh penyanyi Tulus, audio tersebut memperingatkan akan adanya “lebih banyak plastik dibandingkan ikan di lautan kita pada 2050” jika kita tidak mengubah kebiasaan menggunakan plastik sekali pakai. 

Ekshibisi tersebut digelar di Plaza Indonesia, pusat perbelanjaan mewah pertama di jantung Jakarta. “Saya senang sekaligus terkejut bahwa Plaza Indonesia sejalan dengan ide pameran ini, karena ini kan beda dari definisi mewah pada umumnya. Sebelum pameran ini, mereka sudah menyadari mereka perlu mulai mengelola sampah mereka dengan lebih baik, lalu ada bantuan dari Diet Kantong Plastik untuk mengedukasi staf mereka untuk menjalankan sistem pengelolaan limbah yang lebih baik,” papar Chitra.

Pameran Sejauh Mata Memandang di Plaza Indonesia. (Foto: Sejauh Mata Memandang)
Pameran ini bertujuan meningkatkan kepedulian mengenai masalah polusi plastik. (Foto: Sejauh Mata Memandang)

Perjalanan menuju fashion yang lebih lambat dan sirkular menjadi proses pembelajaran bertahap bagi Sejauh. Chitra dan timnya terus mengedukasi diri tentang cara tampil cantik tanpa menghasilkan banyak sampah. Dalam enam tahun terakhir, mereka rutin memproduksi koleksi upcycle menggunakan benang daur ulang dan bereksperimen dengan pewarna alami.

“Kami bersyukur dikelilingi seniman, aktivis, dan inovator yang tidak segan berbagi ilmu. Saya banyak belajar dari para kolaborator kami, dan mereka selalu terbuka untuk brainstorming soal cara memproduksi pakaian yang terlihat bagus, aman dipakai, dan lebih ramah lingkungan,” kata Chitra. “Saya rasa tidak ada brand yang bisa mengklaim zero waste atau seratus persen conscious, karena tindakan memproduksi itu sendiri menggunakan sumber daya dan energi. Tapi kita bisa lebih bertanggung jawab jika kita memang mau memilih demikian.”

Dengan pengetahuan yang telah dikumpulkan oleh Sejauh selama bertahun-tahun tentang fashion berkelanjutan, Chitra merasa yang perlu dia lakukan ke depannya adalah berbagi ilmu. “Salah satu hal yang menghentikan brand-brand fashion untuk membuat pilihan yang lebih bertanggung jawab adalah kurangnya informasi tentang vendor-vendor lokal dan berbagai teknologi yang bisa mereka akses,” kata Chitra. “Jadi kami pikir, kenapa tidak bikin saja platform yang memungkinkan para praktisi industri untuk mengakses informasi tentang pengrajin, vendor, dan material yang akan menjadikan produk-produk mereka lebih bertanggung jawab?”

Contoh gaya tampilan dari koleksi Biasa x Studio Sejauh. (Foto: Sejauh Mata Memandang)

Maka lahirlah Studio Sejauh pada 2024, bersamaan dengan perayaan 10 tahun brand Sejauh Mata Memandang. Studio ini mendorong kolaborasi antara berbagai brand dan kriyawan yang percaya akan fashion sirkular. Misalnya, Bidadariku di Lombok menanam kapas sendiri dengan cara yang lebih hemat sumber daya, sementara EcoTouch di Bandung bekerja dengan limbah tekstil untuk memproduksi benang daur ulang dan peredam suara. Sejauh pun berharap dengan membagikan informasi yang selama ini disimpan sendiri, akan ada lebih banyak kolaborasi, dan pada waktunya industri mode Indonesia akan bergerak menuju masa depan yang lebih bertanggung jawab. 

Salah satu kolaborator lawas Sejauh adalah dengan Tarlen Handayani, seniman buku berpengalaman dengan minat pada konservasi arsip. Sejak 2022, Studio Vitarlenology milik Tarlen di Yogyakarta telah meng-upcycle sisa-sisa kain Sejauh dengan menjadikannya sarung laptop, dompet, dan penutup selimut. Tarlen juga memimpin lokakarya bagi audiens Sejauh untuk menunjukkan cara meng-upcycle sisa kain, sembari berbagi pemahaman bahwa segala yang kita konsumsi berdampak pada keseharian kita sebagai masyarakat.

Chitra Subyakto. (Foto: Sejauh Mata Memandang)

“Beberapa nilai yang Chitra dan saya junjung adalah prinsip keadilan dan sikap saling menghormati untuk hal-hal yang kami lakukan dan bagaimana dampaknya bagi orang lain. Saya juga bersyukur menemukan seseorang yang memahami bahwa kolaborasi itu soal kesetaraan. Saya memperoleh ruang lapang untuk berkarya, dan saya menghargai itu,” kata Tarlen.

Meski kesadaran di kalangan pelaku industri mode untuk lebih bertanggung jawab kian meningkat, Chitra mengakui banyak yang masih harus dilakukan fashion Indonesia untuk menjadikan praktik sirkular sebagai standar industri. Bekerja dengan berbagai pengrajin di berbagai daerah di Jawa memperlihatkan kepada Chitra betapa efisiensi terus menjadi masalah besar. Sebagai contoh, petani kapas di Tuban, Jawa Timur, masih memisahkan kapas dari bijinya secara manual. Bekerja sehari penuh, mereka hanya bisa menyiapkan satu kilogram kapas untuk dijual seharga Rp11.000.

Saya percaya masa depan fashion yang ideal melibatkan sinergi antara teknologi dan kecakapan tradisional.”

Di sinilah brand ini turun tangan. Sejauh berkonsultasi dengan salah satu kolaboratornya, Sekar Kawung, tentang masalah efisiensi ini, lantas berhasil mendapat dana yang cukup untuk membeli mesin pengganti tenaga manual dalam produksi kapas. Kini, para petani Tuban tersebut bisa memproduksi lebih dari 100 kg kapas per hari.

“Saya percaya masa depan fashion yang ideal melibatkan sinergi antara teknologi dan kecakapan tradisional. Jika kita bisa menjadikan produksi bahan baku lebih efisien, biaya membuat item pakaian yang bertanggung jawab akan lebih rendah dengan sendirinya, dan lebih banyak orang akan mampu membelinya,” jelas Chitra. 

Dalam hal fashion yang bertanggung jawab, semua perlu ambil bagian. “Kalau mau meniru Sejauh, jangan cuma dari segi desain saja. Tiru juga nilai dan usahanya,” pungkas Chitra. “Hanya dengan begitu kita bisa mencapai kedaulatan sandang, yang memungkinkan kita memberdayakan bakat dan sumber daya lokal untuk memproduksi pakaian yang bertanggung jawab, alih-alih bergantung pada material ekspor.”

Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.

Source: CNA/da

Juga layak dibaca

Iklan
Iklan