Skip to main content
Iklan

Lifestyle

Induk ChatGPT siap rilis browser canggih berbasis AI, Google Chrome bakal tergeser?

Berbasis Chromium seperti pada Microsoft Edge dan Opera, browser dari OpenAI makin mencuri perhatian apalagi setelah induk ChatGPT ini merekrut dua mantan VP Google yang pernah menggarap Chrome sejak awal.

Induk ChatGPT siap rilis browser canggih berbasis AI, Google Chrome bakal tergeser?

Logo ChatGPT, keyboard, dan tangan robot terlihat dalam ilustrasi yang diambil pada 27 Januari 2025. (Foto arsip: REUTERS/Dado Ruvic)

16 Jul 2025 11:59AM (Diperbarui: 16 Jul 2025 12:07PM)

Induk perusahaan ChatGPT, OpenAI, tengah bersiap meluncurkan browser web berbasis kecerdasan buatan (AI) yang digadang-gadang bakal menjadi pesaing kuat Google Chrome milik Alphabet. 

Browser ini dijadwalkan akan dirilis dalam beberapa minggu ke depan, dan bertujuan untuk merevolusi cara konsumen menjelajahi internet dengan memanfaatkan teknologi AI, menurut laporan Reuters. 

Langkah ini juga menjadi strategi OpenAI untuk mendapatkan akses langsung terhadap data pengguna, yang menjadi salah satu kunci keberhasilan Google.

Browser milik OpenAI ini dirancang agar sebagian interaksi pengguna tetap berada dalam antarmuka percakapan seperti ChatGPT, alih-alih sekadar mengklik dan berpindah ke situs-situs lain.

Menurut salah satu sumber Reuters, browser ini merupakan bagian dari strategi besar OpenAI untuk menyatukan layanannya ke dalam kehidupan personal dan profesional para penggunanya.

Browser ini nantinya akan memungkinkan integrasi langsung produk-produk AI buatan OpenAI, seperti Operator, ke dalam pengalaman menjelajah pengguna. Dengan begitu, browser dapat menjalankan berbagai tugas atas nama pengguna. 

GANDENG VP GOOGLE

Menurut dua sumber lain kepada Reuters, browser milik OpenAI ini dibangun menggunakan Chromium, kode sumber terbuka dari browser buatan Google. Chromium juga menjadi dasar bagi beberapa browser pesaing lainnya, seperti Edge milik Microsoft dan Opera.

Tahun lalu, OpenAI dikabarkan merekrut dua wakil presiden Google yang dulunya terlibat dalam pengembangan awal Chrome. 

Media The Information menjadi yang pertama melaporkan perekrutan tersebut, serta mengungkap bahwa OpenAI sempat mempertimbangkan untuk membangun browser sejak lama.

Namun, salah satu sumber Reuters menyebutkan bahwa OpenAI akhirnya memutuskan membangun browser sendiri, alih-alih sekadar membuat plug-in untuk browser lain, agar memiliki kendali penuh atas data yang bisa mereka kumpulkan.  

Google Chrome merupakan salah satu pilar utama bisnis iklan Alphabet, yang menyumbang hampir tiga perempat dari total pendapatan perusahaan. 

Chrome tidak hanya mengumpulkan informasi pengguna untuk menargetkan iklan secara lebih efektif dan menguntungkan, tetapi juga mengarahkan lalu lintas pencarian secara default ke mesin pencari Google.

Peran Chrome dalam mengumpulkan data pengguna untuk mendukung bisnis iklan Alphabet terbukti sangat menguntungkan—hingga Departemen Kehakiman AS pun menuntut agar unit bisnis tersebut dipisahkan, setelah seorang hakim menyatakan bahwa Alphabet menjalankan monopoli ilegal dalam ranah pencarian online.

Seorang eksekutif OpenAI bahkan sempat bersaksi pada bulan April lalu bahwa mereka akan tertarik membeli Chrome jika regulator antimonopoli berhasil memaksa Alphabet menjualnya.

Namun hingga kini, Google tidak pernah menawarkan Chrome untuk dijual dan menyatakan akan mengajukan banding terhadap keputusan hukum yang menyebut mereka memonopoli pasar.

Ilustrasi pengembangan dan penggunaan kecerdasan buatan (AI). (Foto: iStock/Khanchit Khirisutchalual)

Menurut perusahaan analitik web StatCounter, Google Chrome saat ini digunakan oleh lebih dari 3 miliar orang dan menguasai lebih dari dua pertiga pangsa pasar browser secara global. Di posisi kedua, Safari milik Apple tertinggal jauh dengan pangsa pasar hanya 16 persen.

Sementara, bulan lalu, OpenAI mengatakan bahwa mereka memiliki 3 juta pelanggan bisnis berbayar ChatGPT.

Jika browser baru rilisan OpenAI ini diadopsi oleh 500 juta pengguna aktif mingguan ChatGPT, maka posisi dominan Google dalam bisnis iklan online bisa tergoyahkan.

Rencana OpenAI meluncurkan browser telah lebih dulu dilakukan Perplexity, perusahaan pencarian berbasis AI yang populer, yang baru saja merilis browser AI bernama Comet. 

Dua startup lainnya, The Browser Company dan Brave, juga telah merilis browser berbasis AI yang mampu menjelajahi dan meringkas konten internet.

Sejak kemunculan ChatGPT di akhir 2022, OpenAI yang dipimpin oleh Sam Altman telah mengubah lanskap industri teknologi secara drastis. Namun, kesuksesan awal itu juga memunculkan persaingan sengit dari para rival seperti Google maupun startup seperti Anthropic. 

Pada bulan Mei lalu, OpenAI mengumumkan ekspansi ke dunia perangkat keras dengan membeli startup perangkat AI bernama io seharga US$6,5 miliar. Startup ini didirikan oleh mantan kepala desain Apple, Jony Ive, sebagaimana dilaporkan The Verge.

Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.

Source: Others/ps

Juga layak dibaca

Iklan
Iklan