Skip to main content
Iklan

Lifestyle

Bebas cerita 24/7 tanpa judgment, tapi apakah aman curhat ke AI?

Ketika cerita ke orang terdekat takut disalahartikan, platform AI seperti ChatGPT muncul sebagai ‘teman curhat’ alternatif: selalu siap mendengar 24/7 tanpa penghakiman. Namun, mampukah teknologi menggantikan kehangatan dan empati manusia?

Bebas cerita 24/7 tanpa judgment, tapi apakah aman curhat ke AI?
Di tengah hiruk pikuk kehidupan yang makin kompleks, makin banyak orang yang menjadikan AI sebagai ‘teman curhat'. (Foto: iStock/Supatman)

JAKARTA: Jelang acara kumpul keluarga besar, Nirmala (bukan nama sebenarnya) merasa gelisah. Bukan karena menu potluck atau outfit yang harus dikenakan, tapi karena satu hal yang kerap bikin canggung: percakapan basa-basi yang sewaktu-waktu bisa saja berubah menjadi interogasi. 

“Kadang suka bingung jawab pertanyaan keluarga besar, dan itu bikin stres,” ujar perempuan berusia 39 tahun itu ketika dihubungi CNA Indonesia.

Awalnya, ia hanya iseng mencoba curhat ke artificial intelligence (AI)—eksperimen yang ternyata berujung pada percakapan panjang dan melegakan. “Bukannya enggak punya teman cerita, tapi kalau ngomongin hal-hal yang dianggap sepele kayak gitu, suka dikatain lebay. Jadi akhirnya aku cerita ke AI, minimal bisa didengerin tanpa dikomentarin.”

Pengalaman serupa juga dialami Ila (bukan nama sebenarnya) seorang mahasiswi Indonesia yang kini menempuh studi di luar negeri. Terbatasnya jaringan sosial di lingkungan baru membuatnya mencari alternatif teman curhat.

Awalnya, perempuan 35 tahun ini menggunakan AI hanya untuk mencari informasi praktis seputar perkuliahan dan kehidupan sehari-hari di negara tujuan studinya.

“Sebelum berangkat sekolah, ada banyak pertanyaan tentang bagaimana kehidupan di luar negeri itu, terutama ketika harus membawa anak. AI jadi salah satu cara untuk dapat perspektif itu selain ngobrol langsung sama orang-orang yang memang aku tahu sudah mengalami hal tersebut,” ungkapnya saat dihubungi CNA Indonesia.

Lambat laun, AI menjadi tempatnya bertanya banyak hal selama masa adaptasi, hingga akhirnya ia pun nyaman membuka diri lebih personal.

Fenomena menjadikan AI sebagai teman curhat tak lepas dari konteks digitalisasi yang semakin erat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat. (Foto: iStock/Vertigo3d)

CURHAT BEBAS JUDGMENT

Di tengah hiruk-pikuk kehidupan yang makin kompleks, makin banyak orang yang menjadikan AI sebagai ‘teman curhat’. Bukan karena mereka memang tidak memiliki banyak teman, melainkan karena AI menawarkan sesuatu yang belum tentu dimiliki manusia: kehadiran 24/7 dan kemampuan mendengarkan tanpa menghakimi.

Nirmala mengaku cukup nyaman untuk curhat ke ChatGPT sebagai platform AI andalannya. Baginya, AI bisa menjadi tempat aman untuk berlatih bercerita sebelum membuka diri ke orang terdekat atau profesional. “Jujur, enggak terasa ngobrol dengan mesin, rasanya seperti punya partner ngobrol yang nyambung terus,” ujarnya.

Sementara bagi Ila, meskipun AI bukan satu-satunya tempatnya mencurahkan isi hati, ia mengaku menikmati kepraktisan berbagi cerita lewat mesin. “Bedanya di AI, aku enggak harus sabar nunggu jawaban teman, atau nunggu janjian sama psikolog, atau lihat dulu situasi untuk cerita sama keluarga—pas atau enggak.”

Bagi Ila, respons instan dari AI adalah kelebihan utama. “Kalau (curhat) ke AI, yang paling kurasa adalah saat itu aku tanya, saat itu juga dia jawab. Ringkas jadi rasanya. Aku juga merasa aman sih, karena tahu dia mesin yang enggak akan ngeluh, enggak akan bete, enggak akan punya perasaan apa pun saat aku memberondong dia dengan banyak pertanyaan.”

“Sementara kalau ngobrol dengan orang, jelas ada beberapa hal yang harus kita pertimbangkan,” tambahnya.

Hubungan pengguna dengan platform AI bersifat satu arah dan bukan timbal balik. (Foto: iStock/whyframestudio)

Fenomena menjadikan AI sebagai teman curhat tak lepas dari konteks digitalisasi yang semakin erat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat. Psikolog klinis dari Santhosa Mental Health Center, Catarina Asthi Dwi Jayanti, melihat bahwa untuk generasi yang tumbuh dengan teks dan layar, sehingga curhat lewat chat terasa lebih alami.

“Buat sebagian orang, menulis itu cara untuk merapikan pikiran. AI memberi ruang untuk itu, plus bebas dari rasa takut dinilai,” jelasnya.

Catarina menambahkan, AI bisa menjadi ‘ruang aman’ pertama sebelum seseorang mencari pertolongan profesional—terutama saat menghadapi isu sensitif seperti seksualitas, religiusitas, trauma, atau konflik keluarga.

“Kebiasaan menjadi anonim saat di dunia maya ataupun perasaan nyaman apabila menjadi anonim membuat anak muda merasa jauh lebih bebas bercerita tanpa rasa malu atau tekanan sosial,” jelasnya.

Ia menyebut beberapa kliennya mengaku awalnya curhat ke AI karena mereka “bebas cerita tanpa memikirkan pikiran orang lain, termasuk psikolog, tentang dirinya yang (mungkin dianggap) aneh atau lebay.”

Akhirnya aku cerita ke AI, minimal bisa didengerin tanpa dikomentarin."

Pakar telekomunikasi sekaligus Direktur Eksekutif Indonesia ICT Institute, Heru Sutadi, menyatakan kepada CNA Indonesia bahwa platform AI memang dirancang untuk bersikap netral dan tidak menghakimi.

“(Curhat ke) AI bebas judgement, karena AI dirancang untuk netral dan tidak menilai, jadi pengguna merasa lebih diterima, meskipun responsnya kadang kurang mendalam,” tuturnya.

Menurut Heru, AI menawarkan tiga kemudahan yang sulit ditemukan dalam satu waktu saat kita butuh teman bicara: aksesibilitas, anonimitas, dan kecepatan.

“(Ada) kemudahan akses di mana AI tersedia 24/7, gratis atau murah, pengguna bisa mengatur seberapa banyak mereka mau cerita tanpa tekanan sosial, dan tentunya, AI langsung kasih jawaban,” jelas Heru.

Namun, Heru juga mengingatkan bahwa rasa nyaman curhat ke AI itu bisa menipu. “Kenyamanan dan keamanan itu bisa menipu kalau pengguna mengira AI punya empati manusiawi, padahal itu cuma algoritma yang meniru pola respons.”

AI menawarkan tiga kemudahan yang sulit ditemukan dalam satu waktu saat kita butuh teman bicara: aksesibilitas, anonimitas, dan kecepatan. (Foto: iStock/NicoElNino)

RISIKO DI BALIK KEMUDAHAN

Selain itu, Heru mengingatkan terdapat sejumlah risiko besar dari penggunaan AI untuk curhat. “Masalah privasi data. Curhatan ke AI sering kali disimpan di server perusahaan. Kalau sistem keamanannya lemah, data sensitif bisa bocor atau disalahgunakan untuk iklan, profiling, atau bahkan dijual ke pihak ketiga,” ujarnya.

Hingga kini, Indonesia belum memiliki regulasi khusus yang mengatur kecerdasan buatan (AI). Pemerintah memang merilis Strategi Nasional Kecerdasan Artifisial (Stranas KA) pada 2020, namun dokumen ini tidak bersifat mengikat secara hukum.

AI saat ini diatur secara tidak langsung melalui UU ITE (2008) dengan istilah agen elektronik. Ada pula UU Pelindungan Data Pribadi (2022) yang mencakup pemrosesan data pribadi berbasis AI, namun belum spesifik.

Kementerian Komunikasi dan Informatika (sekarang Kementerian Komunikasi dan Digital/Komdigi) juga telah mengeluarkan Surat Edaran Etika AI pada 2023, namun substansinya dinilai masih terlalu umum.

Pada Januari 2025, Menteri Komdigi Meutya Hafid pernah menyatakan bahwa regulasi AI yang lebih komprehensif akan diterbitkan dalam tiga bulan. Namun hingga Juni 2025, kebijakan tersebut belum juga dirilis.

Selain privasi, ada pula dampak sosial yang perlu diperhatikan. Studi yang dikutip Psychology Today dari National Library of Medicine, AS, berjudul “Impact of media dependence: how emotional interactions between users and chat robots affect human socialization?” menyebut bahwa penggunaan chatbot AI secara berlebihan bisa menurunkan kemampuan sosial seseorang.

Riset yang melibatkan 496 pengguna chatbot Replika tahun 2024 ini menemukan bahwa semakin intens interaksi emosional pengguna dengan chatbot, “keinginan mereka berinteraksi dengan temannya atau manusia lain berkurang.”

“Jika kebutuhan emosional pengguna, baik sebagian atau seluruhnya, sudah terpenuhi melalui koneksi dengan AI, hal ini dapat mengurangi motivasi dan insentif untuk berinteraksi dengan manusia lain,” tulis Psychology Today.

Psikolog klinis anak dan remaja di Klinik Utama dr. Indrajana, Lydia Agnes Gultom, menyoroti bahwa hubungan dengan AI bersifat satu arah dan bukan timbal balik. Relasi semacam ini, menurutnya, dapat menghambat kemampuan manusia dalam berempati, menyelesaikan konflik, berkomunikasi asertif, bernegosiasi, serta bekerja sama.

“Akhirnya individu jadi semakin jarang terpapar dengan interaksi sosial yang sesungguhnya,” ujarnya kepada CNA Indonesia. 

AI bisa menjadi ‘ruang aman’ pertama sebelum seseorang mencari pertolongan profesional. (Foto: iStock/Khanchit Khirisutchalual)

AI MENGGANTIKAN PSIKOLOG?

Menurut data Ikatan Psikolog Klinis Indonesia yang dipublikasikan per 11 Juni 2025, saat ini terdapat 4.004 psikolog klinis terverifikasi di Indonesia, dengan 3.084 di antaranya berstatus aktif.

Angka ini masih jauh dari standar WHO yang merekomendasikan setidaknya satu tenaga profesional kesehatan jiwa untuk setiap 10.000 penduduk. Dengan populasi Indonesia yang mencapai lebih dari 280 juta jiwa (data BPS 2024), rasionya masih sekitar satu psikolog klinis untuk tiap 94.500 penduduk.

Kondisi ini mencerminkan betapa terbatasnya akses terhadap layanan kesehatan mental profesional di Indonesia. Di tengah kebutuhan yang tinggi dan keterbatasan jumlah psikolog, AI mungkin bukan sekadar menjadi alternatif 'teman curhat', tapi perlahan juga mulai dilihat sebagai alternatif 'psikolog'.

Dalam konteks ini, mungkinkah AI bisa membantu menjembatani kesenjangan tersebut?

Rasa aman dan nyaman saat berbicara dengan AI muncul karena setiap chatbot didesain sangat personal, berbeda dengan ruang konsultasi dengan psikolog. (Foto: iStock/tondone)

Ditanya terkait kemungkinan ini, Ila sebagai pengguna AI merasa terbantu mengungkapkan perasannya ke platform AI seperti ChatGPT, sebelum mendatangi psikolog. Ila mengaku pernah beberapa kali memilih datang ke profesional untuk membahas masalah yang sama dengan yang ia curhatkan ke AI. 

Namun, keinginan untuk konsultasi rutin sering terbentur jadwal. Selain itu, ia juga cukup selektif dalam memilih tenaga profesional karena pernah merasa kecewa. "Beberapa kali juga ngerasa zonk, entah itu di-judge, entah dia (psikolog) kurang informatif," ujarnya.

Karena itu, dalam beberapa kesempatan, ia memilih kembali curhat ke AI. “Aku gunain hanya untuk memproses ledakan emosi sewaktu-waktu. Justru mungkin itu baik, karena kita berusaha dulu menerjemahkan apa yang sebenarnya kita rasain dari berbagai perspektif yang dia (AI) kasih ke kita.”

Setelah itu, Ila merasa lebih siap untuk membuka diri ke orang terdekat atau tenaga profesional kesehatan mental. “Jadi, enggak awur-awuran pas cerita. Bagian awur-awurannya sudah disalurkan ke AI,” selorohnya.

Aku juga merasa aman sih, karena tahu dia mesin yang enggak akan ngeluh, enggak akan bete, enggak akan punya perasaan apa pun saat aku memberondong dia dengan banyak pertanyaan.

Heru dari Indonesia ICT Institute menilai fenomena banyak orang memilih curhat ke AI ”menandakan bahwa banyak anak muda mungkin merasa stigma ke psikolog masih kuat, atau mereka kurang akses ke layanan kesehatan mental yang terjangkau.”

Heru menilai AI bisa saja digunakan sebagai medium konsultasi untuk kondisi ringan, seperti mendengarkan curhatan atau kasih saran umum. Namun, ia mengaku pesimistis AI dapat menggantikan peran psikolog, setidaknya dalam waktu dekat. 

Menurut Heru, untuk kasus kompleks, seperti gangguan kepribadian, trauma berat, atau krisis eksistensial, “AI masih jauh dari mampu menangani.”

“AI memang memberikan banyak kelebihan terkait dengan bagaimana menjawab persoalan dan dukungan emosional. Tapi, psikolog punya kemampuan empati, intuisi dan pemahaman konteks manusia yang sulit ditiru AI,” tuturnya. 

Pengamat media sosial Enda Nasution menambahkan, rasa aman dan nyaman saat berbicara dengan AI muncul karena setiap chatbot didesain sangat personal, sehingga berbeda dengan ruang konsultasi dengan psikolog. 

“Bisa dibilang, kalau ke psikolog itu cocok-cocokan. Sedangkan (ketika curhat) dengan AI, kalau kita bisa punya prompt yang mumpuni, AI bisa mengumpulkan informasi tentang kita sehingga advice-nya juga bisa lebih pas, sangat tailor-made untuk diri kita,” ujarnya.

Jika kebutuhan emosional pengguna sudah terpenuhi melalui koneksi dengan AI, hal ini dapat mengurangi motivasi dan untuk berinteraksi dengan manusia lain. (Foto: iStock/Laurence Dutton)

Namun, di balik kenyaman dan kemudahan itu, Agnes dari Klinik Utama dr. Indrajana menegaskan bahwa AI tidak merespons dengan pemahaman emosional atau pemikiran kritis. 

Ia juga menyebut bahwa dalam sesi konseling, psikolog kadang perlu melakukan konfrontasi jika diperlukan. “Karena terkadang insight positif muncul dari confronting, meskipun membuat klien mungkin tidak merasa nyaman.”

Agnes menambahkan bahwa hingga kini, “privasi dan kerahasiaan (yang diungkapkan pengguna ke mesin AI) belum diatur oleh penyelenggara sistem elektronik” di Indonesia.

Sementara, di laman perlindungan privasi konsumen, induk perusahaan ChatGPT, OpenAI menuliskan, “Kami tidak secara aktif mengumpulkan informasi pribadi untuk melatih model (AI) kami, tidak menggunakan informasi publik di internet untuk membuat profil individu, atau menargetkan iklan kepada mereka, atau menjual data pengguna.”

Berbeda dari platform AI, psikolog klinis terikat sumpah profesi untuk menjaga kerahasiaan klien. (Foto: iStock/Graphicscoco)

Berbeda dari platform AI, ungkap Agnes, psikolog klinis terikat sumpah profesi untuk menjaga kerahasiaan klien. Karena itu, cerita dan data pribadi jauh lebih aman dalam ruang konseling profesional.

Agnes juga menekankan bahwa AI belum dapat memberikan intervensi yang tepat dalam situasi darurat seperti pikiran bunuh diri, serangan panik, atau kekerasan. Ia menekankan pentingnya relasi terapeutik yang hanya bisa terjadi antarmanusia—melibatkan kepercayaan, empati, dan komunikasi nonverbal.

“Psikolog dan teknologi perlu berdampingan, karena memang bukan sesuatu yang bisa dipisahkan saat ini. Jadi saya rasa AI adalah pelengkap, bukan pengganti psikolog atau tenaga profesional kesehatan mental,” ujarnya.

Senada, Asthi dari Santhosa Mental Health Center menilai, “AI bisa memberikan dukungan emosional awal, teman cerita dan bahkan membantu orang dalam menggali perasaannya dengan prompt yang sesuai.”

Namun, untuk urusan diagnosis klinis yang diberikan oleh psikolog, AI belum mampu melakukannya. “Karena ada wawancara, observasi, dan berbagai alat ukur yang digunakan di sana,” imbuhnya.

Asthi menekankan AI juga belum mampu memahami emosi manusia yang kompleks. Dalam kasus klinis, tiap individu memiliki persoalan unik, dan AI hanya bekerja dengan pola.

“AI bisa mengenali pola namun tidak benar-benar bisa berempati,” pungkasnya.

Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.

Source: CNA/ps/da

Juga layak dibaca

Iklan
Iklan