Bagaimana kita bisa bantu teman yang terjebak pikiran ingin bunuh diri?
Hari Pencegahan Bunuh Diri Sedunia (World Suicide Prevention Day) dapat menjadi momen penting untuk membuka percakapan terkait isu bunuh diri yang selama ini dianggap tabu.
Ilustrasi pertemanan, persahabatan, konseling, terapi, psikiater, psikolog, kesehatan mental. (Foto: iStock/Piyapong Thongcharoen)
Hari Pencegahan Bunuh Diri Sedunia (World Suicide Prevention Day/WSPD) yang diperingati setiap tanggal 10 September menjadi momen penting untuk meningkatkan kesadaran global serta membuka percakapan terkait isu bunuh diri yang selama ini dianggap tabu.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merilis data pada Agustus 2024 lalu bahwa lebih dari 720 ribu orang meninggal akibat bunuh diri setiap tahun, menjadikan bunuh diri sebagai penyebab kematian terbanyak ke-3 pada kelompok usia 15-29 tahun di seluruh dunia.
Di Indonesia sendiri, terdapat 1.226 jiwa yang melayang karena aksi bunuh diri sejak 1 Januari hingga 15 Desember 2023, menurut data dari Pusat Informasi Kriminal Nasional Polri. Jumlah itu naik dari 902 kasus bunuh diri sepanjang tahun 2022 dan 640 kasus sepanjang 2021.
Alasan bunuh diri memiliki banyak aspek, dipengaruhi oleh faktor sosial, budaya, biologis, psikologis, dan lingkungan yang ada di sepanjang perjalanan hidup manusia.
Kamu mungkin biasanya hanya melihat orang yang ingin melakukan percobaan bunuh diri dari platform berita ataupun media sosial. Lantas, bagaimana jika pikiran bunuh diri tersebut dirasakan oleh teman dan kerabat yang bercerita kepadamu?
Berikut sejumlah tindakan yang dapat kamu lakukan untuk membantu mencegah teman dan kerabat terdekat mengakhiri hidup mereka.
1. JANGAN PANIK
Kamu hanya dapat membantu orang jika kamu sendiri dalam keadaan yang baik-baik saja. Untuk itu, usahakan jangan merasa panik.
Dengan berbagai permasalahan yang terjadi di berbagai belahan dunia saat ini, sadari bahwa pikiran untuk membunuh diri bisa saja dialami oleh siapa pun. Pemikiran semacam ini akan membantumu untuk tetap tenang.
"Sepanik apapun, usahakan untuk tetap tenang. Jangan memaksa untuk turun, memarahi, atau memberikan respons yang semakin memicu ketegangan atau memberi tekanan," ujar Psikolog Gracia Ivonika, dikutip dari Klik Dokter.
2. DENGARKAN KISAHNYA
Tawarkan bantuan sesuai kapasitasmu, yakni mencoba mendengarkan cerita yang melatarbelakangi keinginannya untuk melakukan bunuh diri.
Ketika kita mendengarkan ceritanya, jangan menghakiminya dalam bentuk apa pun. Melansir Mayo Clinic, saat berhadapan dengan orang yang ingin melakukan bunuh diri, jangan mengatakan hal-hal yang dapat merendahkan atau menghakimi pelaku.
Misalnya, jangan katakan "Kalau kamu bunuh diri, semua akan tambah buruk" atau "Kamu harusnya bersyukur masih diberi hidup".
Alih-alih berkata seperti itu, kamu dapat memberikan respon yang menimbulkan semangat, seperti "Apa yang kamu rasakan?" atau "Apa yang kamu perlukan agar merasa lebih tenang?".
Pastikan kita selalu berinteraksi dan menemani mereka. Jangan tinggalkan pelaku bunuh sendirian.
Untuk membantu mereka menghilangkan pikiran-pikiran ingin bunuh diri, perlahan buat mereka menjauhi area yang membuat mereka berisiko melakukan bunuh diri.
3. MINTA BANTUAN
Setelah kamu mendengarkan kisah mereka, tawarkan diri untuk menghubungkan mereka dengan para profesional untuk pencegahan bunuh diri.
Kami bisa mencari bantuan dokter, damkar, psikolog, pihak keluarga atau sahabat lain yang dapat membantu menenangkan teman yang ingin melakukan bunuh diri.
Sikap terbuka dan tenang yang kamu lakukan tersebut dapat menunjukkan sikap empati kepada teman yang ingin melakukan bunuh diri, dan bukan malah menghakiminya.
Dengan menerapkan langkah-langkah di atas, semoga temanmu bisa menyadari bahwa hidupnya berharga dan ia tidak sendirian menghadapi masalahnya.
Cari bantuan dengan menghubungi:
Call Center 24 jam Halo Kemenkes 1500-567
Kemenkes juga menyediakan 5 rujukan RS Jiwa dengan layanan telepon konseling:
- RSJ Amino Gondohutomo Semarang: (024) 6722565
- RSJ Marzoeki Mahdi Bogor: (0251) 8324024, 8324025, 8320467
- RSJ Soeharto Heerdjan Jakarta: (021) 5682841
- RSJ Prof Dr Soerojo Magelang: (0293) 363601
- RSJ Radjiman Wediodiningrat Malang: (0341) 423444
Info lebih lanjut seputar bantuan kesehatan jiwa terdapat di artikel ini.
Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel CNA.id dengan klik tautan ini.