Gaji tetap, pengeluaran naik? Simak tips berhemat tanpa merasa sengsara
Harga kebutuhan terus merangkak naik, sementara penghasilan tak ikut bertambah. Saatnya mengatur ulang strategi keuangan agar dompet tidak cepat terkuras.
Ilustrasi merencanakan keuangan dan menabung menggunakan uang kertas rupiah. (Foto: iStock/Iqbal Nuril Anwar)
JAKARTA: Ketidakpastian ekonomi masih membayangi Indonesia, dengan dampaknya mulai terasa pada kenaikan harga sejumlah kebutuhan. Mulai dari melonjaknya harga BBM non-subsidi hingga melemahnya nilai tukar rupiah yang sempat menembus angka Rp18.000 per dolar AS.
Dalam situasi seperti ini, menjaga stabilitas keuangan pribadi menjadi semakin penting agar kondisi finansial tetap terjaga. Salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah menerapkan pola hidup hemat dan lebih selektif dalam mengatur pengeluaran.
Sejumlah cara berikut dapat membantu mengelola pengeluaran dengan lebih bijak di tengah tantangan ekonomi saat ini.
FOKUS PADA KEBUTUHAN
Perencana keuangan Tatadana Consulting Tejasari mengatakan, langkah pertama yang perlu dilakukan adalah memusatkan pengeluaran pada kebutuhan utama.
"Dari kebutuhan utama itu pun tetap diupayakan untuk berhemat. Misalnya, makan dengan masakan di rumah supaya pengeluaran bisa tetap terjaga," ujar Tejasari, dikutip dari CNN Indonesia.
Selain mengutamakan kebutuhan pokok seperti makan, transportasi, dan kebutuhan rumah tangga, masyarakat juga disarankan menghindari pengeluaran yang tidak mendesak serta pembelian impulsif. Menyusun anggaran belanja bulanan dapat membantu mengontrol pengeluaran sekaligus mencegah pemborosan.
Senada, perencana keuangan Mitra Rencana Edukasi (MRE) Andy Nugroho menilai, kunci berhemat terletak pada kemampuan menyusun skala prioritas pengeluaran. Menurut dia, kebutuhan wajib harus menjadi prioritas utama.
"Contohnya adalah membayar cicilan utang, membayar tagihan air, beli token listrik, uang sekolah anak dan lain-lain," ujar Andy.
Setelah kebutuhan wajib terpenuhi, pengeluaran penting seperti konsumsi harian, biaya transportasi ke tempat kerja, dan uang saku anak masih dapat disesuaikan dengan kondisi keuangan.
Sementara itu, pengeluaran yang bersifat hiburan atau kesenangan sebaiknya dikurangi ketika kondisi ekonomi sedang tidak menentu.
Terkait alokasi pengeluaran, Tejasari menyarankan komposisi umum sebesar 40 persen untuk kebutuhan rutin, maksimal 30 persen untuk cicilan utang, minimal 10 persen untuk tabungan atau investasi, dan 20 persen untuk kebutuhan pribadi.
Menurut dia, pembagian tersebut dapat disesuaikan dengan kondisi masing-masing individu.
"Misalnya, saya tidak punya cicilan utang, maka porsi menabung dan investasi bisa ditingkatkan hingga 40 persen," ujar Tejasari.
Ia juga menjelaskan bahwa bagi mereka yang sudah berkeluarga, porsi kebutuhan rutin umumnya lebih besar dan dapat mencapai sekitar 40 persen, sedangkan pengeluaran pribadi cenderung lebih kecil.
Sebaliknya, individu yang masih lajang biasanya memiliki pengeluaran pribadi lebih besar karena belum memiliki tanggungan keluarga yang signifikan.
Sementara itu, Andy Nugroho menawarkan skema yang berbeda. Ia menyarankan 55 persen pendapatan dialokasikan untuk kebutuhan sehari-hari termasuk cicilan, 10 persen untuk tabungan atau investasi, 10 persen untuk dana darurat, 10 persen untuk pengembangan diri, 10 persen untuk hiburan, dan 5 persen untuk donasi.
PERKUAT DANA DARURAT
Di tengah situasi yang penuh ketidakpastian, dana darurat menjadi salah satu fondasi penting dalam menjaga kesehatan keuangan. Dana ini berfungsi sebagai bantalan saat menghadapi kondisi tak terduga, seperti kehilangan pekerjaan atau kebutuhan mendesak lainnya.
Idealnya, dana darurat mencapai tiga hingga enam kali pengeluaran bulanan. Untuk membangunnya, sebagian penghasilan dapat dialokasikan secara rutin, misalnya minimal 10 persen setiap bulan.
Tejasari juga mengingatkan pentingnya meningkatkan dana darurat karena kondisi ekonomi ke depan masih sulit diprediksi. Menurut dia, dana tersebut sebaiknya ditempatkan pada instrumen yang mudah dicairkan dan relatif aman, seperti tabungan, deposito, emas, maupun reksa dana pasar uang.
Selain itu, masyarakat dianjurkan membatasi penempatan dana pada instrumen yang sulit dicairkan dan lebih memprioritaskan aset yang mudah diakses ketika dibutuhkan.
HINDARI UTANG KONSUMTIF
Menjaga kesehatan keuangan juga dapat dilakukan dengan menghindari utang konsumtif. Jenis utang ini berpotensi menjadi beban yang lebih berat, terutama ketika terjadi kenaikan suku bunga.
Bagi yang sudah memiliki utang, restrukturisasi atau mencari alternatif pembayaran yang lebih ringan dapat menjadi pilihan. Masyarakat tidak menambah pinjaman baru selama masa krisis dan, jika memungkinkan, segera melunasi utang dengan bunga tinggi.
ASURANSI DAN INVESTASI
Asuransi juga menjadi salah satu instrumen yang dapat membantu melindungi kondisi keuangan dari risiko tak terduga, seperti sakit atau kecelakaan. Karena itu, penting memiliki perlindungan yang sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan finansial masing-masing.
Sementara itu, bagi yang kondisi keuangannya sudah cukup stabil, investasi dapat menjadi cara untuk mengembangkan aset. Instrumen seperti emas dan reksa dana pasar uang dinilai relatif lebih stabil di tengah ketidakpastian ekonomi dibandingkan instrumen berisiko tinggi.
Namun, bijaklah dalam memilih investasi dan pastikan produk maupun perusahaan pengelolanya telah berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Untuk dana simpanan, pastikan disimpan di bank peserta Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) agar memperoleh perlindungan sesuai ketentuan yang berlaku, menurut laporan Kompas.
PENGHASILAN TAMBAHAN DAN LITERASI KEUANGAN
Selain mengatur pengeluaran, memiliki sumber penghasilan tambahan dapat memberikan perlindungan finansial yang lebih kuat.
Keterampilan dan hobi dapat dimanfaatkan untuk membuka peluang baru, mulai dari menjadi "freelancer", menjalankan usaha kecil, hingga menjual produk secara daring. Kemudahan teknologi digital saat ini memungkinkan siapa saja memulai usaha tanpa harus mengeluarkan modal besar.
Di sisi lain, meningkatkan pemahaman mengenai pengelolaan keuangan juga tidak kalah penting. Pengetahuan yang baik dapat membantu seseorang mengambil keputusan finansial yang lebih tepat.
Masyarakat dapat memanfaatkan berbagai sumber informasi terpercaya untuk memperdalam pemahaman mengenai pengelolaan keuangan pribadi.
Apa pun tips yang dapat kamu terapkan, disiplin dalam menjalankan anggaran dan perencanaan yang matang tetap menjadi kunci utama agar kondisi keuangan tetap sehat di tengah ketidakpastian ekonomi.
Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.