Ingin camilan manis atau minum kopi terus? Mungkin tandanya kamu sedang stres
Kebiasaan mengonsumsi makanan dan minuman manis biasanya lebih berfungsi sebagai pelipur lara, ketimbang hanya soal urusan selera.
Ilustrasi secangkir kopi. (Foto: iStock/jabkitticha)
Ketika kamu sedang mengerjakan tugas yang super membosankan, pernahkan tanpa sadar tanganmu meraih es kopi susu, bubble tea, atau cokelat favorit? Katanya sih biar semangat, tapi kenapa ya rasanya kok camilan itu habis duluan sebelum tugasnya selesai?
Segelas es kopi, bubble tea, minuman soda, atau sebungkus kecil keripik memang biasa menjadi teman setia saat tengah mengerjakan tugas kantor atau kuliah yang terasa membosankan.
Meskipun tahu bahwa berbagai camilan itu tidak sehat, kita sering mengeluarkan kalimat sakti: "Enggak apa-apa, asal secukupnya."
Namun, tahukah kamu, bisa keinginan ngemil atau ngopi itu bukan cuma soal rasa: tapi sinyal dari tubuhmu kalau kamu lagi butuh pelarian dari stres.
Saya pun bertanya pada ahli gizi dan psikolog untuk mencari jawabannya.
CAMILAN SEBAGAI 'HADIAH KECIL'
Kabar baiknya dulu: para pakar kesehatan menyebut bahwa mengonsumsi camilan sesekali memang bisa menjadi semacam "hadiah" atau reward kecil yang dapat memberikan dorongan agar kita menjadi bersemangat.
Annabelle Johnson, ahli gizi bersertifikat yang membuka praktik pribadi, mengatakan bahwa gula dapat merangsang sistem "reward" di otak, yang memicu pelepasan dopamin dan perasaan senang.
Konsumsi minuman berkafein seperti kopi dan teh juga bisa memberikan manfaat kesehatan dan meningkatkan produktivitas, ujarnya.
Contohnya, secangkir espresso mungkin bisa membantu seseorang yang kurang tidur untuk fokus saat bekerja.
Tapi kalau sudah sampai tiga atau empat cangkir... ya, bisa jadi berlebihan.
"Kafein adalah stimulan yang bekerja di otak. Ia bisa meningkatkan kewaspadaan pada banyak orang, walau efeknya berbeda-beda tergantung individu dan dosis kafein yang dikonsumsi," jelas Johnson.
Namun ia mengingatkan bahwa konsumsi gula berlebihan bisa menyebabkan fluktuasi gula darah, yang pada akhirnya memengaruhi energi. Sementara terlalu banyak kafein bisa menimbulkan kecemasan, jantung berdebar, hingga insomnia.
MEMENUHI KEBUTUHAN PSIKOLOGIS
Lebih dari sekadar efek fisik, para pakar kesehatan menyebut bahwa yang membuat kita terus-menerus kembali mencari camilan sore adalah dorongan psikologis yang ditimbulkan oleh "hadiah" kecil itu.
Muhammad Haikal Jamil, pendiri sekaligus psikolog klinis senior di ImPossible Psychological Services, menjelaskan bahwa kebiasaan mengonsumsi makanan manis setiap hari biasanya berfungsi lebih sebagai pelipur lara emosional dibanding kebutuhan fisik.
"Makan makanan manis bisa memenuhi kebutuhan emosional untuk merasa dihargai dan puas. Itu juga bisa menjadi bentuk self-soothing saat stres, memberi dorongan emosional sementara," ujarnya.
Meskipun kita sedang tertekan, memberi 'hadiah' pada diri sendiri memberi kita perasaan seolah masih bisa mengontrol suasana hati. Menikmati camilan manis juga memberi jeda singkat dari tekanan yang sedang dihadapi.
Ooi Sze Jin, pendiri dan psikolog di perusahaan sosial kesehatan mental A Kind Place menambahkan, makanan manis atau minuman berkafein bisa menjadi jalan pintas yang dipelajari otak kita untuk mengatasi tekanan.
Tapi sayangnya, ini tidak membantu kita belajar mengelola stres dan emosi dengan cara yang lebih sehat.
Walau ngemil mungkin tidak separah strategi pelarian lain, seperti penyalahgunaan narkoba misalnya, Haikal menekankan pentingnya menjaga keseimbangan dalam semua mekanisme coping, bahkan untuk yang tampaknya positif seperti olahraga.
"Ketergantungan berlebih pada satu strategi coping biasanya muncul karena kita ingin lari dari stresor yang terasa berat. Tapi, pada akhirnya kita tidak benar-benar menyelesaikan masalah atau membangun kemampuan untuk menghadapinya," tegasnya.
BELAJAR MENGELOLA STRES
Kita perlu belajar bahwa tidak semua masalah harus diselesaikan dengan cara instan seperti camilan tidak sehat. Misalnya, dengan membangun pola pikir bahwa kita tak perlu buru-buru menyingkirkan emosi negatif.
Artinya, kita perlu membuat pilihan sadar untuk beralih ke cara yang lebih sehat sesuai dengan minat dan preferensi kita sendiri.
Daripada mengandalkan makanan atau minuman, coba beralih ke "reward" yang tidak melibatkan konsumsi, seperti jalan kaki sebentar dari meja kerja, atau ngobrol santai dengan rekan kerja.
Cara ini jauh lebih efektif dalam jangka panjang karena bisa melatih otak kita untuk mengasosiasikan rasa senang dengan aktivitas sehat.
"Kesadaran diri itu kuncinya," kata Ooi.
"Mulailah dengan mengamati kapan dan kenapa kamu ngidam camilan manis, tanpa menghakimi emosi yang kamu rasakan. Lalu, lakukan perubahan kecil. Kurangi secara bertahap, misalnya memilih kopi ukuran kecil atau minuman dengan gula lebih rendah," pungkasnya.
Karena ternyata, kebiasaan ngemil manis atau minum es kopi susu bukan cuma soal selera, tetapi juga menjadi cermin cara kamu bertahan menghadapi hari-hari sulit.
Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.