Skip to main content
Hamburger Menu
Close
Edisi:
Navigasi ke edisi CNA lainnya di sini.

Iklan

Lifestyle

Bukan mistis, mengulas penyebab kesurupan massal dan mengapa perempuan paling rentan

Kesurupan atau kerasukan massal beberapa kali terjadi di pabrik dan sekolah, melibatkan puluhan hingga ratusan orang yang menangis, berteriak histeris dan kehilangan kendali atas dirinya. Fenomena ini bisa dijelaskan dari kacamata ilmu psikologi.

Bukan mistis, mengulas penyebab kesurupan massal dan mengapa perempuan paling rentan

Ilustrasi (File photo: iStock)

JAKARTA: Dalam beberapa bulan terakhir ini, berbagai kasus kesurupan massal di pabrik muncul di pemberitaan. Puluhan hingga ratusan orang di satu tempat yang sama kehilangan kendali atas dirinya.

Salah satu kasus terbaru terjadi pada April di sebuah pabrik tas di Kecamatan Jatiwangi, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat. Seperti diberitakan Detik.com, puluhan pekerja pabrik di salah satu gedung menangis dan berteriak histeris, beberapa tak sadarkan diri. Peristiwa ini memaksa pengelola pabrik untuk memulangkan seluruh pekerjanya.

Peristiwa yang sama juga terjadi di sebuah pabrik garmen di Majalengka pada Juli tahun lalu. Viva.co.id melaporkan, ada ratusan orang di pabrik Kecamatan Kasokandel itu yang menjadi korban kesurupan.

Februari lalu, kesurupan massal juga diberitakan terjadi di pabrik boneka, Kabupaten Cianjur, melibatkan puluhan pekerjanya. Pemuka agama dihadirkan untuk merapal doa agar mereka yang kerasukan bisa segera sadar.

Tidak hanya di pabrik-pabrik, kesurupan massal juga kerap terjadi di sekolah-sekolah. Di antaranya di sebuah SMP di Sukabumi, Jawa Barat, pada Januari lalu dan di SMP kota Solo, Jawa Tengah, Februari silam, melibatkan puluhan siswa.

Di negara-negara Timur seperti Indonesia, kasus kesurupan dikaitkan dengan peristiwa supranatural, ada kekuatan makhluk tak kasat mata yang menguasai tubuh manusia. Namun dari kacamata ilmu psikologi yang banyak digagas ilmuwan Barat, kesurupan massal bisa dijelaskan secara ilmiah.

"Pada budaya Barat, kasus-kasus ini akan berusaha dijelaskan secara objektif, biasanya sebagai suatu kondisi penyakit fisik, penyakit mental, keracunan atau gangguan lainnya," kata Veronica Kaihatu, dosen Program Studi Psikologi di Universitas Pembangunan Jaya kepada CNA Indonesia.

Dalam ilmu psikologi sendiri, kata Veronica, fenomena kesurupan massal diklasifikasikan sebagai sebuah penyakit bernama mass psychogenic illness (MPI), atau yang kadang disebut juga histeria massal (mass hysteria).

"Penyakit ini diartikan sebagai situasi munculnya serangkaian gejala penyakit organik atau penyakit saraf, namun tanpa patogen yang bisa diidentifikasi, sehingga diasumsikan muncul akibat gangguan psikologis," ujar Veronica.

MPI sangat bervariasi dan dipengaruhi oleh kondisi sosial dan budaya, namun biasanya biasanya terjadi di sebuah komunitas yang kohesif atau dalam sebuah lingkungan fisik tertentu, seperti sekolah atau pabrik.

Veronica menjelaskan, MPI dimulai dengan individu yang mengalami gejala sakit biasa, seperti pusing, mual, kram perut sampai kesulitan bernapas atau pingsan. Lalu kondisi ini diikuti oleh individu lainnya. Jika tidak langsung ditangani kondisi ini akan menyebar luas ke individu lainnya.

"Biasanya karena mereka menyaksikan rekan lain yang sudah memperlihatkan gejala atau bahkan karena mendengar berita tentang hal ini." 

"Penyebab yang mendasar adalah karena pikiran dapat mempengaruhi kondisi tubuh. Bila sugesti dapat memunculkan kesembuhan tanpa minum obat, maka pikiran yang tertekan atau stres dapat memunculkan rasa sakit yang nyata pada tubuh," jelas Veronica.

Dia memberikan ilustrasi dengan seseorang yang sangat tertekan karena memikirkan utang yang belum terbayarkan dari aplikasi peminjaman online. Ketika terus menjadi beban pikiran, maka orang tersebut menjadi luar biasa ketakutan sehingga napasnya menjadi terlalu cepat.

Napas yang terlalu cepat itu membuat pengeluaran karbon dioksida terlalu banyak dalam waktu singkat. Rendahnya kadar karbon dioksida dalam tubuh akan menyebabkan ototnya menjadi kejang dan memunculkan rasa kesemutan atau kedut pada otot. 

"Namun, rangkaian hal ini dipahami secara salah karena pikirannya sedang tertekan, ia malah merasa kesulitan bernapas, merasa kehilangan kontrol tubuhnya dan pada akhirnya pingsan," kata Veronica.

Orang lain yang melihatnya pingsan kemudian memunculkan persepsi lain. Melihat rekannya sulit bernapas, dia bisa tiba-tiba merasa udara menjadi sesak, kemudian dia juga jadi bernapas terlalu cepat.  

"Bayangkan bila kondisi ini muncul dalam konteks kelompok, anggota yang banyak, berdekatan dan dalam ruangan yang juga terbatas. Pengaruh dan dampaknya akan sulit diprediksi atau untuk dikontrol," ujar Veronica.

MENGAPA KORBANNYA KEBANYAKAN PEREMPUAN?

Kasus kesurupan massal yang terjadi di pabrik dan sekolah kebanyakan dialami pekerja dan siswa perempuan. Veronica membenarkannya, mengatakan bahwa 99 persen korban kesurupan massal biasanya memang perempuan. 

Beberapa penelitian, kata dia, menyebutkan bahwa para korban cenderung mengalami tekanan dalam kehidupannya. Mereka menjalani pekerjaan yang membosankan dan repetitif di pabrik, atau ada norma sosial yang menekan di sekolah.
 
"Situasi akan semakin parah bila para perempuan tersebut bekerja, menikah dan memiliki anak sehingga tekanan menjadi berlipat ganda," jelas dia.

"Selain itu, perempuan juga cenderung lebih mudah bercerita dan mencari bantuan ketika merasakan gangguan kesehatan. Ia akan mengeluhkan udara yang sesak, tangan yang kesemutan dan lain sebagainya. Hal ini pada akhirnya membuat penyebaran MPI menjadi semakin cepat."

Jika sudah terjadi gejala "kesurupan", maka yang bisa dilakukan adalah membawa korban keluar ruangan untuk memisahkan mereka dari orang lain. Hal ini, kata Veronica, agar kondisi tersebut tidak memengaruhi pikiran, perasaan dan persepsi banyak orang.

Setelah dipisahkan, korban bisa diberikan bantuan sesuai dengan gejala yang dialaminya. Misalnya jika dia kesulitan bernapas, maka bisa dibantu dengan mengatur napas atau dengan pemberian oksigen.

"Jika ia merasa tidak dapat mengontrol tubuhnya, maka perlu dibantu untuk kembali merasakan tubuhnya dan mendapatkan kontrol tersebut. Caranya mungkin dengan doa untuk menenangkan atau dengan bentuk relaksasi lainnya," kata Veronica.

Selain memisahkan individu yang dinilai mengalami "kesurupan" dari orang lain, Veronica juga menyarankan agar kita menjaga pikiran tetap jernih ketika berada di tengah kondisi tersebut.

"Pikiran yang jernih akan mencegah kita memahami tubuh maupun lingkungan secara salah. Bila kita merasakan gangguan penyakit, maka segeralah mendatangi pihak yang dapat membantu, misalnya dokter, puskesmas dan lain sebagainya," kata Veronica.

Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel CNA.id dengan klik tautan ini.

Source: CNA/da(ih)

Juga layak dibaca

Iklan

Iklan