Skip to main content
Iklan

Lifestyle

Debut jadi idol K-pop, mantan pembelot Korut akhirnya bicara blak-blakan

"Semua terasa baru. Aku harus belajar menggunakan komputer," ujar Hyuk, mengungkapkan kisah pelarian dan perjuangan meraih mimpi di balik gemerlap dunia idol.

Debut jadi idol K-pop, mantan pembelot Korut akhirnya bicara blak-blakan

Boyband 1VERSE dalam salah satu unggahan mereka di media sosial. (Foto: Instagram/@official1verse)

22 Jul 2025 05:42PM (Diperbarui: 22 Jul 2025 05:52PM)

Boyband 1VERSE resmi melakukan debut mereka lewat perilisan album single perdana berjudul The 1st Verse. Bagi Seok, salah satu dari lima anggota grup yang juga merupakan pembelot asal Korea Utara, momen ini masih terasa seperti mimpi.

Boyband K-pop ini memang sudah menarik perhatian media bahkan sebelum debut mereka, berkat latar belakang unik para anggotanya. Dua dari mereka, Seok dan Hyuk, merupakan pembelot dari Korea Utara, meskipun bukan yang pertama yang debut di dunia K-pop.

"Aku masih enggak percaya kalau aku sudah debut sebagai idol," ujar Seok sambil tertawa kecil dalam wawancara bersama Yonhap News Agency di Seoul.

"Sejak itu, semuanya terasa lebih sibuk, dengan banyaknya jadwal wawancara. Mulai sekarang, aku ingin menjalani hidup dan bekerja lebih keras dengan satu prinsip: beginner’s mindset atau mentalitas pemula," ujarnya, dikutip dari The Korea Times, Selasa (22/7). 

Dibentuk oleh label independen Singing Beetle, formasi 1VERSE mencerminkan keberagaman kisah masing-masing personelnya. Selain Hyuk dan Seok dari Korea Utara, ada Nathan dari Amerika yang keturunan Laos dan Thailand, Aito dari Jepang, serta Kenny, warga keturunan Tiongkok-Amerika yang dibesarkan di Los Angeles.

Baik Seok maupun Hyuk sama-sama lahir pada tahun 2000 dan berbagi lebih dari sekadar tahun kelahiran. Mereka masing-masing mempertaruhkan segalanya untuk melarikan diri dari Korea Utara, meskipun dibesarkan dalam kondisi yang sangat berbeda.

Hyuk melarikan diri pada tahun 2013 saat berusia 14 tahun, setelah menghabiskan masa kecilnya di Provinsi Hamgyong Utara, tempat ia harus bertahan hidup dari hari ke hari dan terpaksa berhenti sekolah demi mencari makanan.

Sebaliknya, Seok tumbuh di Provinsi Ryanggang dekat perbatasan Tiongkok. Ia bermimpi menjadi pemain sepak bola profesional, dan memutuskan membelot pada tahun 2019 demi mengejar masa depan yang lebih baik di Korea Selatan.

Sebagai bentuk penghormatan terhadap para pembelot lain dan untuk melindungi pihak-pihak yang masih berada dalam risiko, keduanya memilih untuk tidak membeberkan secara rinci jalur pelarian mereka.

Susunan anggota boyband yang multinasional dalam 1VERSE ini merupakan yang pertama kalinya dalam sejarah K-pop. (Foto: Dok. Singing Beetle)

Adaptasi hidup di Korea Selatan menjadi tantangan besar bagi keduanya.

"Semuanya terasa baru. Aku harus belajar cara menggunakan komputer, bagaimana sistem pendidikan di sini bekerja. Saat pandemi COVID, kuliah dilakukan secara daring, dan itu bikin semuanya makin susah," kata Hyuk.

Seok pun merasakan hal serupa. "Mulai dari mengisi formulir masuk kuliah sampai mendaftar kelas secara online, semuanya harus aku pelajari sendiri. Pakai komputer itu susah, apalagi bahasa Inggris," ujar Seok apa adanya.

Hyuk adalah yang pertama bergabung pada tahun 2021, disusul oleh Seok, Kenny, Aito, dan terakhir Nathan — pria asal Arkansas yang belajar menari dan bernyanyi secara otodidak lewat YouTube dan TikTok. Kenny-lah yang menemukan video Nathan dan merekomendasikannya.

Identitas multinasional 1VERSE sebenarnya tidak dirancang sejak awal, menurut Michelle Cho, CEO Singing Beetle yang juga hadir dalam wawancara tersebut.

"Saat memutuskan ingin memproduksi boyband, aku mengadakan audisi tertutup dan banyak menerima rekomendasi," ujarnya. "Aku tidak berniat membentuk grup internasional, tapi kelima orang ini langsung klik begitu disatukan."

Bagi para anggota 1VERSE, musik lebih dari sekadar penampilan. Ini adalah bentuk ekspresi pribadi.

Hyuk dan Kenny turut menulis lirik untuk dua lagu dalam album debut mereka, yakni untuk lagu Multiverse dan Shattered. 

Lagu terakhir itu terinspirasi dari kabar duka tentang meninggalnya ayah Hyuk, yang ia terima ketika sudah berada di Korea Selatan.

"Aku sudah menulis banyak," ujarnya. "Kami punya banyak cerita dari latar belakang kami yang berbeda-beda — ada yang dari masa lalu, dan ada pula yang masih akan datang."

Kecintaan Hyuk terhadap menulis sudah tumbuh sejak lama. "Bahkan sejak sekolah, aku suka pelajaran bahasa Korea dan sering menulis puisi. Itu yang akhirnya bikin aku bergabung ke klub rap waktu SMP, dan sejak itu aku rutin menulis lirik, awalnya atas saran guruku."

Walaupun latar belakang sebagai pembelot sering dijadikan sorotan media, baik Hyuk maupun Seok menegaskan bahwa mereka tidak ingin dikenal hanya karena status tersebut.

"Aku tidak merasa terbebani dengan latar belakangku," kata Seok. "Bahkan waktu main sepak bola di Korea, ada juga pemain asing di tim. Kita bisa saling komunikasi meskipun beda bahasa. Aku cuma sedang mengejar mimpiku."

Ketika ditanya soal mimpi mereka ke depan, Aito menjawab dengan penuh ambisi, "Pertama, KCON dan MAMA (festival K-pop). Lalu suatu hari nanti, Coachella," pungkasnya.

Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.

Source: Others/ps

Juga layak dibaca

Iklan
Iklan